Blessed are the forgetful

Ada yang pernah bilang bahwa orang pelupa itu adalah orang yang terberkati, karena sering kali apa yang dia alami seakan bagaikan yang pertama kali bagi mereka, walaupun sudah pernah mereka alami sebelumnya. Maklum, udah lupa tuh gimana rasanya. Hahahaa…

Dan saya adalah orang yang sangat pelupa. Entah sejak kapan penyakit pelupa ini mulai saya alami, tapi semua orang yang mengenal saya –keluarga, teman main, teman kuliah, teman kerja — semuanya tahu bahwa saya pelupa. Bahkan hal yang sering kali menjadi bahan bully bagi mereka adalah, saya sering lupa kalau sudah makan. Entah kenapa “sensor” kenyang atau lapar yang menyebabkan orang berhenti atau merasa ingin makan gak nyambung dengan memori di otak saya. Sejak dulu saya memang tidak pernah menjadikan “lapar” sebagai alasan saya untuk makan. Saya ingin makan ya karena saya ingin makan –baik lapar atau kenyang. Selain suka lupa pernah makan, saya juga kadang lupa kalau belum makan. Efeknya, saya mengalami sakit kepala. Jadi kalau saya merasa sakit kepala, saya mulai mengingat-ingat, apakah saya sudah makan atau belum. Untung saja efeknya bukan ke sakit maag.

Kepelupaan saya ini sebenarnya semakin lama membuat saya semakin was-was. Saya ingat-ingat kembali, dulu semasa sekolah hingga kuliah, kayaknya memori saya baik-baik saja. Buktinya saya selalu juara kelas, dan mudah saja menyerap pelajaran, atau menghafal sesuatu –walaupun menghafal memang bukan metode belajar favorit saya. Saya sebenarnya khawatir jika saya menderita alzheimer, yang bisa berkembang menjadi dementia –penyakit kehilangan ingatan.

Terus terang saat ini saya memang tidak terlalu banyak lagi menggunakan otak saya untuk mengingat atau menghafal sesuatu. Saya sangat tergantung pada gadget dan perangkat pembantu. Semua nomor kontak teman ada di HP. Semua jadwal saya ada di cloud yang bisa saya akses di HP, atau perngkat komunikasi saya lainnya. Saya mugkin terpengaruh oleh Einstein(?) yang pernah bilang bahwa kita tidak perlu mengingat segala sesuatu, cukup kita tahu di mana kita bisa mencari hal tersebut sekiranya kita memerlukannya. Nah, dengan adanya Mbah Google, semakin lah kita tidak menggunakan lagi otak kita untuk mengingat.

Kekhawatiran saya ini kemudian membuat saya memberanikan diri bertanya pada seorang dokter ahli bedah saraf yang cukup beken di media sosial. Tanya iseng-iseng aja, karena saya masih takut untuk berkonsultasi secara serius kepada dokter. Untungnya pak dokter ini baik hati, dan mau sedikit menjawab pertanyaan saya. Saya tanya kepadanya, apakah saya yang sangat pelupa ini bisa kena alzheimer. Dokter menjawab bahwa pelupa itu belum tentu alzheimer. Dia bahkan menegaskan bahwa orang yang pelupa itu gampang sekali bahagia. Hehhehee. By the way, saya ngga tahu apakah memang ada hubungannya secara saintifik di otak kita, antara pelupa dan cepat bahagia, karena memang saya ini gampang banget bahagia dan gampang merasa senang/content –seperti yang sering saya sampaikan di postingan-postingan saya. Teman saya pun sering bilang, “Gampang banget bikin elu seneng?” Yaaah, alhamdulillaah.

Balik lagi ke pak dokter. Dia bilang bahwa alzheimer itu bukan menonjol di pelupa-nya, tapi ke perubahan afek(si?) dan emosinya. Misal, menjadi pranoid. Well, memang saya hampir nggak pernah sih ngerasa paranoid. Gangguan afeksi? Ini maksudnya apa ya? Apakah kemudian saya jadi kehilangan perasaan? Jadi nggak tegaan? Atau gimana ya? Hmm kayaknya saya harus tanya lagi ke dokter deh.

Yang terkakit dengan proses berpikir sih kayaknya nggak ada masalah ya, walaupun saya belum coba ngetes secara benar. Saya pernah iseng mencoba menyelesaikan soal-soal matematika dasar yang rada lumayan tingkat kesulitannya, dan saya masih mendapatkan nilai tinggi dengan waktu penyelsaian yang erlatif cepat. So, semoga itu bisa jadi indikasi bahwa kemampuan berpikir saya masih baik-baik saja.

Kekhawatiran ini memang membuat saya agak sedikit waswas. Apalagi dokter bilang bahwa tidak ada batas umur bagi orang untuk kena alzheimer. Saya cari-cari seidkit informasinya, kebanyakan penderita diketahui menderita alzheimer mulai usia 40 tahun ke atas. Yes, it’s my age group! Tapi, penyakit apa sih yang nggak mulai diderita oleh orang yang berumur 40 tahun ke atas?

Oke deh, terus what next? Yah, saya selalu percaya bahwa terus aktif –jasmani dan rohani, menjadi kuncinya. Olah raga teratur, jaga makanan, dan cukup tidur, kayaknya itu kuncinya. Menurut penelitian, tidur cukup itu penting, harus lebih dari 7-8 jam per malam. Waktu tersebut diperlukan untuk otak kita melakukan recycleing —selain proses sekresi lain di dalma tubuhh yang sudah kita ketahui.

Selain itu, saya harus lebih disiplin dan tertib membaca buku. Kebiasaan ini yang sudah cukup lama saya tinggal. Beli buku baru hampir setiap minggu, tapi tidak dibarengi dengan membacanya dengan bak dan benar. Yah, saya janji pramuka deh! 🙂

god is great

Tahun-tahun terakhir ini saya merasakan blessings dari Yang Maha Kuasa dan kemurahhatianNya yang sangat luar biasa. Jadi ingat kalau tidak salah di akhir tahun 2016 saya membuat wish list apa-apa saja yang ingin saya lakukan dan saya capai. Dan seperti biasa, saya mengupayakannya secara tidak istimewa. Dan kemudian di tahun ini beberapa wish list saya terjadi begitu saja.

Tiba-tiba di awal Januari, ayah-ibu saya menyatakan kepingin umrah. Mereka kangen Mekkah dan Madinah, setelah berhaji 30 tahun yang lalu. Dan karena mereka sudah sepuh, mereka tentu saja perlu ditemani. Dan siapa lagi yang available setiap saat bisa diminta untuk nemanin selain anaknya yang masih belum punya tanggungan dan nggak repot harus mengurus keluarganya? Iya, saya. Maka jadilah di akhir Februari itu kami pergi umrah bertiga. Ini wish list saya yang utama.

Banyak pengalaman rohani dan jasmani yang saya rasakan selama pergi ibadah tersebut. Mungkin akan saya ulas lain kesempatan. Namun satu hal yang paling saya rasakan pasca umrah tersebut adalah bahwa saya merasa fulfilled. Content. Saya merasa kalau pun Yang Maha Kuasa memanggil saya satu hari setelah umrah, saya akan dengan senang hati memenuhinya.

Saya merasa cukup. Saya merasa tak ada lagi yang harus saya kejar di dunia. Saya sudah merasakan semua hal-hal esensial yang bisa ditawarkan kehidupan di bumi. I went places. Lima benua sudah saya injak semua. Dan melihat ka’bah dengan mata kepala sendiri –ditambah memegang, mencium, dan sujud hanya sekitar dua meter darinya, sudah lebih dari apa yang bisa saya harapkan. Tak ada lagi yang bisa bikin saya penasaran. Kalau pun ada keinginan-keinginan kecil –mendaki Everest, naik kereta Trans Siberia, atau free diving, itu semua bisa dikesampingkan.

I have felt all feelings that are possibly felt by human beings. Saya sudah merasakan yang namanya sedih, suka, gembira, jatuh cinta, dicintai, membenci, dibenci, rindu, malu, dipermalukan, dendam, deg-degan, takut, khawatir, memimpin, dipimpin, bangga, terhina, dihina, menghina, kasihan, marah, tertekan, kecewa, dan lain-lain.

Saya sudah mencapai apa yang mungkin dicapai manusia normal. Saya bisa sekolah di sekolah terbaik dengan hasil yang cukup baik. Saya bekerja di tempat yang bisa menyalurkan idealisme saya. I have created and initiated many things. Saya tidak berusaha merendah dengan itu semua, dan nggak mau sombong juga. Itu full campur tangan Allah saya. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Wish list saya yang lain adalah ikut lomba marathon. Well, memang saya belum sampai ikut full marathon, Tapi half-marathon —berlari 21,1 kilometer, jadi lah. Itu pun tak sekuat tenaga saya upayakan. Memang empat bulan sebelumnya saya berlatih dengan cukup sistematis dengan seorang pelatih profesional. Tapi menjelang lomba tersebut, sebenarnya saya sudah off berlatih karena jadwal saya yang semakin padat dan tidak mampu mengejar jadwal yang sudah ditetapkan pelatih.

Seperti pengalaman waktu naik gunung berapi tertinggi di Indonesia pertama kalinya, ikut half-marathon ini pun nekat-nekatan. Patokan saya, saya sudah pernah berlari 12 kilometer at one shot. Making it to be 21,1 km shouldn’t be a big problem. Itu pikir saya. So, it is a well calculated risk I was taking. Maka jadilah. Bukan lalu saya ikut HM, dan berhasil masuk finish hanya beberapa menit sebelum cut off time (batas waktubterkahir yg dibolehkan). Sekali lagi, Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin.

Nah, blessing tak terduga lainnya, yang baru saja kemarin saya alami, membuat saya mesem-mesem sendiri, geleng-geleng kepala sendiri. Kali ini kaitannya dengan jatcin yang saya rasakan akhir-akhir ini (cerita jatcinnya ada di sini). Setelah terjadinya sedikit interaksi, yang bersangkutan tiba-tiba mengontak saya! (Tuuh, menuliskannya aja bikin saya cengar cengir sendiri). Nggak ada yang spesial sebenarnya, cuma casual conversation. Saya tahu sedikit tentang dia, dan dia tahu sedikit tentang saya. Berkaca dari pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, saya akan lebih berhati-hati dan nggak mau GR juga. Apalagi yang bersangkutan ini banyak fans-nya. Apa lah saya ini, remah-remah rengginang. 😜😜😜

Dan seperti saya bilang di atas, saya udah pernah ngerasain perasaan seperti ini. Kalau pun awalan tadi cuma sampai di situ, ya udah gak apa-apa. Nggak penting. No big deal. Yang namanya jatcin ya begitu-begitu saja dari dulu. It’s just adding some excitements in life. And it came at the right time, when I started to feel a bit bored with my routines.

Yah begitulah saya, yang nggak ada apa-apanya tanpa campur tangan Yang Maha Berkehendak. Berbeda dengan orang yang meragukan keberadaan Tuhan, saya yakin sekali dengan keberadaanNya. Dia tahu apa yang ada di hati saya, apa yang ada di sel-sel otak saya –yang saya sendiri pun secara sadar tidak ketahui. What I know, I am just turning the wheel a bit. He fully decides where it will stop.

half-marathon pertama

Seperti yang sudah sering saya sampaikan, salah satu pertanyaan reflektif saya adalah, apa hal terakhir yang saya lakukan untuk pertama kalinya? Merasakan atau melakukan semua hal di dunia ini –jika mampu, adalah keinginan saya. Sehingga sering kali saya bertanya-tanya pada diri sendiri,”Mau bikin apa lagi gue ya?”

Tahun ini memang saya berencana untuk melakukan marathon atau half-marathon (HM) saya yang pertama. Ini dipicu dengan keikutsertaan saya dalam relay ultra-marathon Jakarta-Bandung yang diselenggarakan oleh ITB (sekolah saya dulu) pada bulan Oktober tahun lalu. Jarak Jakarta-Bandung 170 km dibagi menjadi 16 etape, dan dijalani oleh satu kelompok lari. Angkatan kuliah saya mengirimkan dua tim, sehingga dalam setiap etapenya kami lari berbarengan.

Kegiatan ini menjadikan kami teman seangkatan yang berasal dari berbagai jurusan yang berbeda ini akrab. Saya dan beberapa teman bahkan ikut latihan lari yang dilatih oleh seorang pelatih khusus. Gunanya, untuk memperbaiki teknik berlari dan berlatih kekuatan otot-otot tubuh. Selain latihan dasar ini, saya sendiri memang ingin agar suatu saat saya bisa melakukan keinginan saya di atas — lari marathon, atau half marathon.

Dan Alhamdulillah, hari ini, 15 Juli 2018, saya mengikuti lomba half-marathon yang diadakan oleh Universitas Indonesia (UI) bersama dengan Bank BNI. Dan Alhamdulillah, saya mampu berlari sejauh 21,1 kilometer tanpa cedera, walaupun dengan catatan waktu yang sangat tipis di bawah batas waktu terlama! Hahahhaa..

Saya senang sekali dengan hasil ini. Walaupun persiapannya tidak terlalu lama, dipotong bulan puasa dan perjalanan-perjalanan tugas saya yang tidak memungkinkan saya berlatih, saya berhasil melewati garis finih dan dapat medali (tidak didiskualifikasi).

Dan malam ini saya istirahat sambil urut2 merawat telapak kaki, betis dan lutut yang kebas, dan pegal. Semoga satu hari nanti saya bisa menyelesaikan marathon –full 42,2 kilometer. Amin.

jatcin

Sebenarnya saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menulis hal-hal yang bersifat personal, apalagi menyek-menyek di blog ini. Tapi apa daya, perasaan yang ada di dalam dada ini somehow harus dilepaskan. Hahaha.. Huek cuih!

Begini, saya jatuh cinta. Lagi. Jatuh cinta itu rasanya memang menyenangkan. Pantas saja ada yg pernah bilang first best is falling in love. Sementara kalau being in love-nya sendiri cuma second best.

Lagi-lagi saya jatcin ini dengan orang yang saya enggak kenal, dan enggak pernah saya temui. Tapi ya pattern-nya atau type orangnya serupa dengan yang sebelum-sebelumnya. Waktu saya perlihatkan foto orang itu kepada teman saya, teman saya itu bilang,”Ah, itu mah tipe elu banget!” Well, bukan hanya secara fisik yang “gue banget” tapi kepribadiannya –dari yang dia tampakkan ke publik, pun sealiran. Enggak usah lah saya sebutkan secara spesifik, tapi intinya, mereka-mereka yang beruntung pernah kejatuhan cinta saya itu bukan tipe orang kebanyakan.

Terus, apa?

Ya enggak ada. Saya senang dan menikmati saja perasaan ini. Menikmati kerja hormon-hormon yang lagi banjir di otak saya. Segi positif dari jatuh cinta, bagi saya, adalah bahwa akan selalu ada kejutan yang ditunggu di keesokan hari.

Yah begitulah! Recehan banget ya hidup saya? Hahahaa..

queen bee

Beberapa waktu yang lalu saya kebetulan membaca satu percakapan dunia maya tentang fenomena queen bee di tempat kerja. Mereka yang percaya pada keberadaan fenomena ini mengatakan bahwa pimpinan perempuan cenderung tidak memberi kesempatan kepada perempuan lainnya untuk maju. Pemimpin perempuan itu menghambat, menjegal, mem-bully, perempuan di bawahnya. Demikian opini terhadap queen bee.

Dan coba tebak siapa yang mengatakan hal-hal tersebut pertama kali dalam percakapan tersebut? Yup, seorang selebrita dunia maya berkelamin laki-laki.

Sedihnya, mansplaining di atas diiyakan pula oleh perempuan. Bahkan ada beberapa komentar agak bias yang mengatakan bahwa ini lah sebenarnya salah satu penyebab mengapa tidak banyak perempuan yang berada di posisi pimpinan, dan bahwa hal ini adalah satu hal yang tidak mau diakui oleh kalangan feminis. Mereka bilang bahwa feminis pasti akan menyalahkan sistem patriarki sebagai penyebab kurangnya perempuan di posisi pimpinan, dan bukannya kelakuan queen bee ini.

Saya tertarik dengan hal di atas karena beberapa hal. Pertama, karena saya baru tahu bahwa ada fenomena “queen bee” ini. Hehhee, iya, saya agak kudet. Alasan kedua, karena ini sangat relevan dengan saya –saya adalah seorang perempuan pemimpin organisasi yang didominasi laki-laki, dan kata banyak orang merupakan satu organisasi yang cenderung bersifat maskulin. Ketiga, sisi feminis saya nggak terima dengan stereotyping macam ini –mengapa hanya ada queen bee tetapi tidak ada fenomena king bee? Mengapa saling “jegal” di kalangan perempuan ada sebutannya, sementara saling jegal di kalangan laki-laki tidak ada sebutannya? Bukankah fenomena jegal menjegal ini tidak hanya dialami atau dilakukan oleh perempuan? Nah, alasan terakhir dan yang tidak kalah pentingnya, saya kebetulan sedang didera tuduhan queen bee ini, walaupun tidak disampaikan secara langsung dan hanya terdengar sebagai rumor yang sayup-sayup sampai di telinga saya.

Karena penasaran dan ingin tahu lebih lanjut, jadi lah saya googling kesana kemari. Dan syukur lah, saya menemukan artikel-artikel yang cukup akademis dan tidak didasarkan pada perasaan. Penelitian ini misalnya, diterbitkan dalam The Leadership Quarterly pada bulan April 2018, menemukan bahwa fenomena queen bee ini kemungkinan hanya mitos. Penelitian ini menyebutkan bahwa dalam lingkungan kerja, pemimpin perempuan bertindak sangat baik pada perempuan bawahannya, dan mereka juga mengangkat perempuan pada posisi-posisi penting. Mereka juga mencegah terjadinya ketimpangan pendapatan antara perempuan dan laki-laki di posisi yang sama. Penelitian ini dilakukan di Brazil dan mengambil sampel 8,3 juta organisasi di 5.600 municipaities (unit pemerintahann daerah).

Peneliti utamanya mengatakan bahwa penelitian-penelitian sebelumnya yang menyimpulkan adanya fenomena queen bee dilakukan berdasarkan studi kasus ilustratif yang tidak representatif, atau berdasarkan survey yang tidak menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat yang sebenarnya dari penunjukan perempuan dalam posisi kekuasaan.

Baiklah, itu hasil studi. Bagaimana realitasnya? Sebagai perempuan pemimpin, saya bisa bicara dari pengalaman saya sendiri. Menjadi perempuan pemimpin, apalagi di dunia kerja yang didominasi laki-laki, memang tidak lah mudah. Di organisasi saya yang sudah berdiri sejak 1980 dan mengalami 10 kali periode suksesi, baru tiga orang perempuan terpilih menjadi pimpinan –saya yang ketiga. Untuk mengajukan diri dan membuat diri kita terpilih bukan lah hal yang mudah. Di dalam organisasi masih banyak juga yang meragukan kepemimpinan perempuan –dengan beragam alasannya.

Menjadi pemimpin perempuan, bagi saya, memerlukan kesadaran akan diri sendiri yang jauh lebih besar. Sensitivitas terhadap kesetaraan dan afirmasi bagi perempuan lain termasuk hal-hal yang menjadi perhatian utama saya. Dalam organisasi saya, tidak mudah mencari kader perempuan. Tidak usah lah dulu bicara kompetensi. Walau kesempatan untuk terlibat dalam organisasi saya buka seluasnya, dengan prioritas saya berikan kepada perempuan, tetap saja sulit mengisi posisi yang ada dengan perempuan.

Dilema lain, terkait kecakapan dan kompetensi. Ketika pada akhirnya saya harus melepas seorang perempuan dari posisi pimpinan lapis kedua karena alasan kompetensi despite segala dukungan dan kesempatan untuk perbaikan, deraan sebagai queen bee pun datang kepada saya. Rumor itu mengatakan, begitulah jika kamu punya boss perempuan, dia tidak akan bisa bekerja sama dengan perempuan lain. Hehehee.

Bagi saya, selama itu tidak disampaikan kepada saya secara langsung, itu semua saya anggap non-issue. Tidak eksis. Namun demikian, hal-hal tersebut tetap saya jadikan bahan refleksi, dan mengasah terus sensitivitas saya agar lebih baik lagi.

it’s (not) just another day

Apa yang terlintas di benak kita ketika kita bangun di pagi hari, dan bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja? Apakah kita berpikir dan merasa bahwa ini hanyalah satu hari lain dalam kehidupan? Just another day in life, dimana kita bangun, mandi, naik kendaraan ke kantor, tiba di kantor tunggu order kerjaan yang datang, lalu di akhir hari pulang kembali ke rumah, bersih-bersih, lalu tidur. Dan besok hari ritual yang sama kita ulangi kembali.

Sejak saya duduk di bangku sekolah menengah hingga hari ini, saya selalu teringat kisah yang diceritakam oleh guru sekolah saya dulu. Alkisah dalam suatu pekerjaan proyek pembangunan suatu gedung pencakar langit, seorang pimpinan proyek melihat perbedaan sikap dua orang tukang pemasang batu bata. Tukang yang pertama tampak sangat bersemangat, sementara yang lainnya tampak lesu dan ogah-ogahan. Kondisi ini dia amati hingga beberpa bulan, yang mendorongnya untuk bertanya kepada kedua orang tersebut.

Si pimpinan proyek bertanya kepada pekerja yang nampak lesu,”Apa yang sedang kamu kerjakan?” Si pekerja menjawab,”Saya sedang memasang batu bata, Pak. Seperti biasa.”

Kemudian, dia beralih kepada si pekerja yang bersemangat dan memgajukan pertanyaan yang sama,”Apa yang sedang kamu kerjakan?” Si pekerja menjawab,”Saya sedang membangun peradaban, Pak. Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Saya pastikan dinding-dinding ini akan bertahan hingga berabad-abad lamanya.”

Apa pelajaran dari kisah di atas?

Sikap mental. Itulah yang membedakan si pekerja pertama dengan pekerja kedua. Walaupun secara konkrit jenis pekerjaan yang mereka lakukan sama, namun pekerja kedua mempunyai visi atau bayangan cita-cita, yang memberikan energi dorong tambahan pada apa yang sedang dikerjakannya. Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil atau terlalu sepele, sehingga ia harus melakukan yang terbaik, mencari cara-cara atau ide-ide untuk selalu menyempurnakan hasil kerjanya.

Pekerja kedua tidak sekedar melaksanakan tugas dan kewajiban. Namun dia berhasil menempatkan dirinya menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Beyond himself, melampaui dirinya. Dia menginspirasi dirinya sendiri bahwa apa yang dia kerjakan tidak boleh sekedarnya, dan tidak boleh seadanya, tanpa disuruh dan tanpa dipertintah, karena masa depan peradaban (seperti yang ada dalam visi dan cita-citanya) akan tergantung pada apa yang dia kerjakan hari ini.

Menengok sejenak ke negara tetangga, Perdana Manteri Malaysia yang baru terplih, Dr. Mahathir Muhammad, berusia 92 tahun tahun ini, ketika dilantik. Apakah kira-kira Datuk Mahathir akan kembali ke kancah politik jika ia tidak memiliki cita-cita yang ikut ia bangun, yang saat ini dianggapnya sedang terancam? Apakah Datuk Mahathir akan terus aktif, jika ia memiliki sikap mental seperti pekerja pertama —melalui hari-hari produktifnya dengan melakukan rutinitas yang seadanya, sekedar menggugurkan kewajiban, membiarkan waktu dan umur berlalu dengan biasa-biasa saja?

Bayangkan kita, yang umurnya saat ini hanya separuh, sepertiga, atau bahkan seperempat dari umur Datuk Mahathir. Mau jadi apa kita —jika Tuhan izinkan, di kelipatan umur kita yang kedua, atau ketiga? Apakah terpikir oleh kita dunia seperti apa yang ingin kita lihat di kelipatan kedua atau kelipatan ketiga umur kita saat ini? Adakah kita di dalam dunia masa depan itu?

Maka, kembali ke awal, coba tanya kepada diri kita, apa yang kita rasakan tadi pagi saat kita bangun tidur dan akan berangkat ke tempat kerja? Was it “It’s just another day.”?

kerja, kerja, kerja

Saya sering berkelakar dengan teman-teman terkait slogan yang sering diucapkan oleh Presiden Jokowi dan pemerintahannya, sebagaimana judul di atas. Saya bilang, kita sebagai rakyat harus gencar mendesak pemenuhan janji kampanye presiden di tiga tahun pertama pemerintahannya, karena tahun ke-4 dan tahun ke-5 beliau akan lebih sibuk mengurus kampanye pilpres; makanya penyebutan kata “kerja” hanya 3 kali saja.

Tentu saja itu hanya kelakar. Presiden Jokowi — dan para pembantunya, masih sibuk bekerja sampai saat ini, di tahun ke-4 pemerintahannya. Namun, memasuki tahun ke-4 pemerintahan presiden Jokowi ini nuansa politik dan kalkulasi potensi suara juga menjadi nuansa yang meliputi kerja-kerja pemerintahan ini. Apalagi sejak Pak Jokowi secara resmi didapuk oleh PDI-P sebagai usungan partai untuk menjadi bakal calon presiden Republik Indonesia 2019–2024.

Memasuki tahun ke-4 pemerintahannya, presiden Jokowi juga terasa semakin baperan — kata anak zaman now. Demikian juga para pendukungnya. Apalagi semenjak menjamurnya tagar #2019GantiPresiden yang tidak hanya menyebar di dunia maya, namun mulai termanifestasi di dunia nyata dalam bentuk cetakan di kaos — yang kemudian menyebar dalam berbagai bentuk seperti topi, serta poster dan spanduk yang dipasang di tempat-tempat umum.

Kalau boleh jujur, memanasnya situasi terkait kaos dan tagar tersebut akhir-akhir ini sebenarnya dipicu oleh Pak Jokowi sendiri, yaitu ketika beliau mengangkat soal ini dalam suatu kegiatan relawannya di bulan April 2018 yang lalu. Saat itu, Pak Jokowi di atas panggung menyindir orang-orang yang getol mengkampanyekan tagar #2019GantiPresiden dengan mengajukan pertanyaan retorik,”Masa’ kaos bisa ganti presiden? Yang bisa ganti presiden itu rakyat!” — yang serta merta disambut para pendukungnya dengan sorakan gegap gempita.

Sebagai orang yang senang menggunakan simbol-simbol dan kode-kode, baik dalam keseharian maupun dalam menjalankan pemerintahan, pernyataan Pak Jokowi itu sebenarnya kontradiktif. Tidak ada yang memungkiri bahwa kepopuleran dan citra Pak Jokowi sebagai representasi “orang kebanyakan” dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta, dan kemudian sebagai Capres dalam pemilihan umum tahun 2014 juga ditopang oleh kemeja kotak-kotak. Bahkan hingga saat ini, kemeja putih dengan lengan tergulung masih konsisten digunakan beliau sebagai simbol untuk sosok yang selalu bekerja keras tanpa pamrih. Simbol-simbol itu lah sebenarnya yang menyatukan para pendukung kampanye Jokowi saat itu, dan yang mencerminkan cara kerja yang ingin dicitrakan oleh pemerintahan saat ini. Dan saya yakin, Pak Jokowi tahu betul bagaimana kekuatan simbol dalam mindset orang Indonesia.

Seandainya saya berada di posisi Pak Jokowi saat ini, saya tidak akan memberi perhatian yang berlebihan pada simbol-simbol tersebut. Apalagi dengan cukup spesial melontarkannya di acara publik. Ibarat umpan yang dilemparkan para pemancing ikan, tagar #2019GantiPresiden berhasil menjalankan misinya — disantap oleh presiden dan para pendukungnya dengan lahap. Dan ibarat partikel netron yang ditembakkan pada inti atom yang tidak stabil, reaksi Pak Jokowi terebut telah memicu terjadinya reaksi berantai yang akan sulit dihentikan. Dan jangan lupa, yang namanya reaksi berantai disertai juga dengan pelepasan energi. Nah lepasan energi ini lah yang sedang kita rasakan saat ini, yang menyebabkan situasi politik yang memanas.

Terlepas dari alasan mengapa Pak Jokowi melontarkan retorika tagar dan kaos tersebut (saya punya beberapa teori yang mungkin saya tulis nanti, kalau sempat), saya sebenarnya lebih ingin Pak Jokowi dan para pendukung fanatiknya melakukan refleksi diri, dan mencoba mencari substansi utama yang ada di balik noise tagar dan kaos tersebut, dan bukannya terjebak pada bungkus. Alih-alih mendorong presiden dan para pembantunya bekerja lebih giat lagi, pendukung fanatik Jokowi malah melakukan permainan berbalas tagar. Tagar “2019 ganti presiden” dibalas dengan tagar “dia sibuk kerja” dan lain sebagainya.

Tak ada yang memungkiri bahwa presiden dan para pembantunya sibuk kerja — walau ada juga diantara pembantunya yang justru menimbulkan masalah, atau tidak terlihat hasil kerjanya. Namun, pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintahan ini akibat permasalahan rezim-rezim sebelumnya sejak orde baru sangat lah banyak. Saat ini, energi warga dan pembantu presiden tersita untuk melakukan respon pengamanan atas citra presiden, dibandingkan untuk benar-benar meng-address berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. Infrastruktur dan investasi bukan lah peluru perak atau jawaban singular atas semua permasalahan bangsa ini. Jika masalah-masalah bangsa yang bejibun ini hanya dijawab dengan infrastruktur dan investasi, saya khawatir pemerintahan hari ini ibarat orang yang hanya memiliki palu. Akibatnya, semua hal akan dilihat sebagai paku.

Pemerintahan Jokowi masih memiliki waktu satu setengah tahun lagi. Dari pada menghabiskan waktu menari di gendang pihak lain, lebih baik segera melakukan pembenahan dan kerja-kerja pemenuhan janji — menggiatkan percepatan redistribusi lahan dan reforma agraria, menyelesaikan konflik-konflik sumberdaya alam, menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM, menemukan dan menghukum pelaku penyiraman air keras kepada Novel Baswedan, menghentikan kriminalisasi terhadap warga yang mempertahankan tanahnya dari seroboton koporasi, menghukum perusahaan pencemar lingkungan, dan benar-benar mengimplementasikan ekonomi kerakyatan — bukan ekonomi berbasis investasi skala besar yang disokong korporasi.