moment of truth

Banda Aceh, hari Senin tanggal 28 maret 2005, sekitar jam 22.30. Aku seperti biasa belum tidur dan kebetulan lagi sibuk ber-sms ria sama temanku di Jakarta sana yang lagi berada di persimpangan jalan hidupnya. Cukup emosional sms-nya, jadi peranku tentu saja menjadi teman curhat yang baik dengan berusaha cooling her down. Aku share padanya pengalamanku ketika berada di persimpangan-persimpangan jalan hidupku. Kataku, prinsip pertama dan utama –seperti sering disebutkan di majalah-majalah dan buku-buku—jangan memutuskan sesuatu (sekecil apapun) ketika sedang emosi. You might regret it later on. Aku tentu saja pernah melakukannya –doing stupid things that I regret later on. Easy to say than to do, of course, but practice makes perfect toh? Prinsip kedua: never let someone else decide for you what you should do. Boleh aja mereka kasih saran, input, masukan, tapi the final decision must be yours and it’s you yourself who must take full responsibility of your decision, whatever it is, not someone else.

Setelah cukup lama saling tukar sms, akhirnya kami sudahi percakapan text kami. Belum sempat kukirim sms terakhirku, aku merasa kursi yang kududuki bergoyang. Wah, gempa nih…pikirku. Memang setelah sekian lama aku di Banda Aceh ini, aku rasakan gempa sudah menjadi semacam bagian hidup masyarakat disini. Kalau masih dalam skala 5-6 skala Richter sih sepertinya sudah biasa, dan ”kebiasaan” itu sepertinya menular kepada orang-orang dari luar Aceh yang datang kesini, seperti aku.

Kutunggu dua detik…lho kok masih terus goyang. Berjalan aku keluar dari kamar dan kurasakan goncangannya semakin keras. Kugedor pintu kamar temanku sambil setengah berseru, gempa….gempa. Kubuka pintu depan rumah kontrakan temanku — tempat aku menumpang tidur selama di Aceh—bersiap untuk keluar. Setengah detik sempat terpikir, wah…sandalku ada di belakang…tapi goncangan gempa yang semakin keras membuatku terus berjalan ke luar, bertelanjang kaki.

Berusaha untuk tetap tenang, tak luput aku berjalan cepat juga. Tiba-tiba, blep, listrik mati. Berjalan aku di dalam gelap. Sempat kurasakan dorongan beberapa orang yang berusaha berjalan dengan panik ke arah pelataran di depan rumah-rumah kontrakan tersebut. Temanku –menggendong anaknya dan menggandeng istrinya– kulihat juga sudah keluar rumah. Kurasakan tanah di bawahku bergoyang, berputar, kencang. Langkah cepatku pun oleng. Kurasakan jalanku tak lurus, seperti orang yang sedang berjalan di atas kapal laut yang sedang berlayar di tengah gelombang.

Kedengar suara para perempuan mulai panjatkan doa, menyebut asma Allah Yang Maha Kuasa. Mohon ampun, mohon rahmat dan keselamatan. Berdebar dadaku, campur aduk rasanya, antara kepasrahan dan mengharap mukjizat. Tapi goncangan itu tak juga berhenti. Laki dan perempuan di sekitarku mulai menangis. Mulut mereka tak lepas-lepas dari doa. Kuikuti mereka, kumohon ampun, kumohon rahmat dan keselamatan. Sadar aku, tak cukup bekalku jika ajal menjemput saat itu. Sadar aku, ini bukan gempa biasa.

Kulihat lagi sekelilingku, masih gelap. Satu pohon besar yang tak jauh dari tempatku berdiri bergoyang, ke kanan ke kiri, atau ke depan ke belakang, tak bisa kupastikan. Yang bisa kupastikan bukan hanya cabang dan rantingnya yang bergoyang, tapi juga batangnya, yang besar dan kokoh itu. Kutengadahkan kepala, kulihat bulan penuh, bersinar dengan terangnya dikelilingi halo….nampak ceria seolah tak terjadi apa-apa di bawah sini. Harusnya, ada keceriaan saat bulan penuh. Harusnya, cuaca mendung, awan gelap menggantung ketika ada gempa. Kurasakan seolah ada yang tak ’nyambung. Tapi mungkin aku memang terlalu banyak nonton film, ikut pakem sutradara manusia. Padahal saat itu ada ”sutradara” lain yang sedang in-action.

Seorang laki-laki mulai kumandangkan azan. Kuikuti dalam hati, berusaha mengalahkan debaran jantungku yang berdegup dengan kencang. Goncangan tanah ini tak berhenti juga, walau azan telah selesai dikumandangkan. Kutunggu, sambil kuamati pohon besar itu, karena kalau dia tumbang, kami harus segera menyingkir dari tempat kami berdiri. Padahal, kakiku kaku, seperti terpancang di tanah yang bergoncang ini.

Akhirnya goncangan itu reda. Ucapan syukur terucap dari mulut kami semua. Tapi ternyata, redanya goncangan itu bukan akhir, namun justru awal dari kehawatiran, kepanikan, yang berasal dari pengalaman 3 bulan yang lalu. Hanya satu pertanyaan di benak: naikkah air laut? adakah tsunami akan datang? Semua orang yang memiliki kendaraan mulai menyalakan mesin sepeda motor dan mobilnya. Mata mereka sarat dengan trauma dan keinginan untuk pergi sejauh-jauhnya. Kembali kami ke dalam rumah, mengambil barang ala kadarnya dan segera pergi.

Beberapa kendaraan berlalu melewati kami. Melihat kami yang hanya bisa berdiri di pinggir jalan, mata mereka seolah penuh penyesalan berkata, mohon maaf, kami tak bisa mengajak kalian karena tak cukup kendaraan kami, semoga kita semua diberi rahmat oleh Yang Kuasa. Tak kudengar suara mereka, tapi mata mereka mengatakan berjuta-juta makna.[y]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s