betapa tuhan maha jenaka

Kadang kupikir hidup itu adalah ruang tunggu di tempat praktik dokter. Dan saat menunggu adalah kehidupan. Dan aku…ya aku, yang sedang memasuki ruang tunggu itu, berharap bertemu dengan sang dokter. Bila sang dokter itu kuandaikan sebagai tuhan, maka sebenarnya kehidupan itu adalah saat menunggu bertemu dengan tuhan. Sehingga pertanyaannya kemudian adalah bagaimana membuat saat menunggu itu tidak membosankan, syukur-syukur bermanfaat. Benarkah?

Kadang kupikir tuhan maha jenaka. Ditiupkannya nyawa kita ke jasad sehingga nyawa mengalami yang namanya ‘hidup’ dan menjalani kehidupan, untuk kemudian tuhan panggil kembali dan diminta bersaksi –bersaksi tentang apa yang sesungguhnya sudah tuhan ketahui.

Kadang kupikir tuhan itu seperti pengarang buku cerita ‘Pilih sendiri petualanganmu’ yang sering kubaca waktu aku SD dulu. Dia menulis banyak judul buku dengan tema yang berbeda-beda. Buku itu adalah hidup. Dan jalan cerita yang kupilih, kamu pilih, mereka pilih, adalah masing-masing kehidupan yang harus kita jalani. Pengalamanku, pengalamanmu, pengalaman mereka bisa jadi sama, bisa jadi berbeda. Tapi sulit sekali menemukan jalan cerita yang sama persis.

Mungkin begitulah kehidupan. Pengalaman kita masing-masing bisa sama, bisa beda. Tapi jalan cerita kehidupan kita kuragukan bisa sama. Setiap pilihan yang kita tetapkan dalam buku cerita tadi akan menentukan pengalaman apa yang akan kita alami, yang pada akhirnya menentukan keseluruhan jalan cerita kita. Mungkin begitu jugalah kehidupan. Setiap saat adalah saat untuk membuat keputusan. Dan jalan kehidupan kita ditentukan oleh keputusan-keputusan tersebut.

Tapi, sang pengarang sudah menetapkan akhir dari cerita buku tersebut. Demikianlah hidup kita. Tuhan sudah menetapkan apa akhir ceritanya. Tak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya, hanya berusaha sebaik mungkin agar jalan cerita kita paling tidak cukup menarik dan berharga.

Lihatlah….betapa tuhan maha jenaka. Dibiarkannya kita berpikir-pikir, menimbang-nimbang, menduga-duga, membuat keputusan-keputusan agar cerita kita berakhir dengan baik –padahal sudah dia tetapkan apa dan bagaimana akhir cerita setiap orang.

Dan memang, tuhan maha jenaka. Dibiarkannya kita mengalami hal-hal yang tak terduga, yang membuat kita tertawa, sambil sekaligus menangisinya. Dibiarkannya kita mengambil keputusan yang sudah kita tau bagaimana akibatnya –hanya karena kita berharap things may change…padahal tidak– yang pada akhirnya membuat kita menyesal dan sekaligus menertawainya….. menertawai kebodohan kita.

Dan betapa tuhan maha jenaka. Dibiarkannya kita meragu, membiarkan halaman buku cerita kita tak berpindah ke halaman selanjutnya, hanya karena kita takut menghadapi ketakterdugaan petualangan berikutnya. Atau karena kita takut petualangan buruk yang serupa akan berulang? Ketika akhirnya kita buka halaman petualangan berikutnya, ceritanya sama sekali berbeda. Cerita menyenangkan yang membuat kita tertawa……dan sekaligus menyesalinya —mengapa tak kita lakukan sejak dulu dan mengapa kita hanya membuang-buang waktu.

Ah, betapa tuhan maha jenaka….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s