hukum cambuk, judi, korupsi, dan ‘buruan cium gue’

Hari Jumat minggu yang lalu di Bireun, Aceh, dilakukan pelaksanaan hukuman cambuk oleh Mahkamah Syari’ah Aceh bagi beberapa warga yang kedapatan melakukan perjudian. Aku bukanlah orang yang ahli di bidang agama Islam sehingga aku tidak bisa bicara sah atau tidaknya hukuman tersebut dari kacamata hukum Islam. Namun satu yang jelas, rasa keadilanku tergelitik melihat fenomena tersebut.

Bukan rahasia lagi kemungkaran dan ketidakadilan merajalela di bumi Nusantara yang sebagai besar warganya memeluk agama Islam dan yang dikenal sebagai negara berpopulasi muslim terbesar di dunia. Terus terang sebagai orang Islam aku malu, karena mungkin setiap jenis perbuatan yang dikategorikan sebagai ‘dosa’ di dalam Al Quran ada disini, bagaikan jamur di musim hujan…tumbuh dengan suburnya, karena iklimnya cocok dan mendukung. Jadilah Nusantara ini etalase kemaksiatan serba ada, dimana perbuatan munkar secara tidak malu-malu dilakukan secara berjama’ah.

Terlepas dari apakah judi itu termasuk kategori perbuatan dosa atau tidak, satu pertanyaan menggelitik….siapakah yang dirugikan dari perbuatan judi tersebut? Dari kacamataku yang agak-agak pragmatis ini, yang dirugikan secara langsung jelas si orang yang melakukan judi itu kan, benar? Well, kadang-kadang sih untung juga kalau menang. Jadi ingat lelucon tentang anak pak haji yang ketahuan berjudi. ‘Pak haji, pak haji….anaknya berjudi tuh!!’ Pak haji spontan mengucap ‘Astaghfirullah!!!!’ —‘Menang lho pak haji…’ dan dijawab oleh pak haji "Alhamdulillah’. By the way, jangan diseriusi atau diperbesar jadi isu SARA ya…sumpah ini cuma bercanda.

Kembali ke topik yang lebih perlu diseriusi; sekarang bandingkan fenomena judi di atas dengan korupsi. Siapa yang dirugikan secara langsung oleh perbuatan tersebut? Jawabannya bisa jadi ‘jutaan masyarakat miskin di Indonesia’ atau ‘ribuan anak balita yang menderita busung lapar’ atau ‘puluhan ribu orang yang antri minyak tanah di berbagai tempat di Indonesia’ atau ‘jutaan orang yang tidak masuk di dalam catatan statistik yang tidak bisa mengakses pelayanan kesehatan’ atau ‘ribuan orang yang gagal naik haji karena nggak sanggup menutup biaya perjalanan haji yang sudah dimark-up’ atau ‘si bapak pemulung yang aku lupa namanya yang tidak punya uang untuk menguburkan anaknya’ atau ‘ratusan ribu anak usia sekolah yang nggak bisa sekolah’ atau ‘beberapa anak SD yang mencoba bunuh diri akibat gak bisa bayar uang eks-kul’. Ini bisa menjaid list yang panjaaaaaaaaaaaaaaaang sekali. Kalau demikian faktanya, apa hukuman yang tepat bagi koruptor?

Kembali kepada hukuman cambuk di Aceh tadi. Aku jadi bertanya, kenapa judi bisa dikenakan hukuman cambuk sementara korupsi tidak? Padahal dari segi dampak, jelas korupsi telah menimbulkan dampak negatif yang besar dan penting (hehe…kayak di AMDAL). Aku jadi penasaran, jangan-jangan mahkamah syari’ah tersebut hanya melakukan hukuman terhadap jenis ‘perbuatan dosa’ yang secara eksplisit memang disebutkan di dalam Al Quran. Sependek pengetahuanku, judi memang salah satunya –seperti juga berzinah dan minum khamr. Mungkin kata-kata ‘korupsi’ tidak pernah ada dalam Al Quran sehingga kemudian tidak termasuk dalam kategori ‘perbuatan dosa’ menurut mahkamah syari’ah. Tapi bagaimana dengan kategori ‘memakan harta anak yatim’ atau ‘melakukan riba’ atau larangan untuk melanggar perintah ‘membayar upah pekerja sebelum keringatnya kering’??? Serupakah itu dengan ‘korupsi’? Atau mungkin perlu ada perubahan tafsir Al Quran versi Depag agar mencantumkan secara eksplisit kata ‘k o r u p s i’ di dalam terjemahan dan tafsir Al Quran yang diterbitkannya?

Sering aku merenung, andaikan saja ulama-ulama di Nusantara ini seprogresif nabi-nabi terdahulu…yang menentang secara langsung ketidakadilan….dan bukannya ikut larut di dalamnya dan malah menjadi justifikasi dan stempel ‘penghalalan’ perbuatan yang merugikan masyarakat luas. Andaikan saja ada ulama-ulama yang cukup progresif yang bisa mengajak umat untuk juga memikirkan hablum minannaas (hubungan antar manusia) –hubungan antar manusia yang tidak setara, hubungan antar manusia yang menimbulkan penindasan antara manusia satu dengan lainnya– dan tidak terbatas hanya pada soal-soal silaturahmi dan pemaknaan sempit dari hablum minannaas. Andaikan saja ada ulama yang cukup berpandangan maju, yang tidak hanya mengajak umat untuk menjadi egois, yang tidak hanya mengajarkan berzikir dan memohon ampun kepada Tuhan agar sang umat tidak masuk neraka. Andaikan saja ulama-ulama kita tidak hanya berdebat soal-soal apakah sholat subuh itu pakai qunut atau tidak. Andaikan saja ulama-ulama kita tidak hanya berkoar-koar di koran soal film cemen ‘Buruan Cium Gue’.

Yah, andaikan saja…..

1 Comment

  1. karena korupsi adalah kejahatan kerah putih dan kejahatan kerah putih dilakukan oleh sang pembuat hukum, dan hukum yang keliatan cuma hukum buatan manusia saja. jadi mereka nggak mungkin memaksakan hukum terhadap kaumnya sendiri. sementara hukum cambuk yang buat itu tuhan, dan tuhan nggak bisa memaksakan law enforcement-nya di dunia tetapi di akhirat. tapi seandainya hukum cambuk yang dibuat tuhan bisa diterapkan ke pelaku korupsi, mungkin terlebih dahulu perlu dihilangkan itu istilah yang namanya ‘kejahatan kerah putih’. jadi semua kejahatan, hukum dan law enforcement berlaku ke semua jenis kerah. supaya hukum yang dibuat si kerah putih maupun buatan tuhan bisa berlaku sama rata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s