menjadi tamu di negeri sendiri

Kemarin, Mahkamah Konstitusi RI akhirnya memutuskan menolak judicial review masyarakat atas UU NO.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang membawa agenda privatisasi dan komersialisasi air –yang dulunya dipercaya sebagai barang publik dan barang sosial alias non-komersial dan tidak bisa dimiliki oleh siapapun. Walaupun ada dissenting opinions dari 2 orang hakim MK yang meminta pembatalan UU tersebut, namun ketujuh hakim lainnya memutuskan bahwa UU No.7/2004 tetap berlaku.

Sejak pertama kali Belanda datang ke Nusantara di tahun 1596 dan kemudian VOC –korporat dagang Belanda– di tahun 1602, Nusantara yang gemah ripah loh jinawi ini memang sudah diposisikan sebagai suplier raw material bagi perkembangan industri dan perdagangan di negara-negara utara sana. Sampai hari ini posisi tersebut tidak berubah. Nusantara –seperti halnya negara-negara ex-koloni lain yang kaya sumber alam– tetap jadi periphery bagi proses industri dan pelipatgandaan kapital di center sana.

Saat ini peran Nusantara juga bertambah, yaitu menjadi konsumen bagi produk-produk hasil industri di center yang notabene raw materialnya dari sini juga. Ironis kan? Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta Nusantara adalah potensi bagi pemasaran produk. Untuk itulah sebenarnya pemerintah tidak perlu khawatir dengan pertumbuhan ekonomi karena sebenarnya kondisi pertumbuhan ekonomi itu ‘dijaga’ oleh para dewa di center agar masyarakat Indonesia punya daya beli yang cukup dan terus mengkonsumsi barang-barang. Alih teknologi cuma jadi isapan jempol dan janji manis investor asing karena tentu mereka tidak rela orang sini jadi bisa memproduksi barangnya sendiri dan melepaskan ketergantungan dari mereka.

Dan pemerintah yang memerintah Nusantara terus dimabukkan oleh mantra pembangunan ekonomi yang raw-material-export-oriented yang katanya cepat mendatangkan devisa dengan mengabaikan hak-hak warga negaranya sendiri. Bayangkan saja, Nusantara yang katanya kaya minyak dan gas harus mengalami krisis dan warganya harus antri untuk dapat minyak.

Bukan hal yang aneh kalau 2 atau 3 tahun dari sekarang akan kita lihat tanker-tanker berseliweran di perairan Nusantara….bukan bawa minyak, tapi bawa air yang disedot dari sumber-sumber air milik rakyat Nusantara. Dan setelah minyak habis, maka Nusantara akan jadi salah satu exporter air terbesar di dunia dan mungkin nantinya akan ada OWEC (Organization of Water Exporter Countries) instead of OPEC, karena pemerintah masih saja terbuai dengan mantra export-led economy dan senang menjadi yang ter- di dunia….mental megalomaniac. Mungkin 10 tahun dari sekarang akan kita lihat orang antri untuk mendapatkan air. Mungkin 10 tahun dari sekarang kita akan dengar Presiden mengumumkan di televisi, menghimbau seluruh rakyat untuk tidak mandi dan minum air cukup 3 gelas saja (yaitu setiap habis makan) demi gerakan penghematan air.

1 Comment

  1. Waduh…topik kali ini “serius” scully , pu !Pemerintah khan emang dari dulu culun en matre’abizzz !! Bukan rahasia lagi bowww….mereka yg diatas itu pada “stress ama duit” dan ujung2nya…rakyat yg pada kere…???!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s