spongebob philosophy

‘Hati ini seperti spongebob, dimana setiap orang yang kita sayangi memiliki tempat masing-masing di tiap-tiap lubang yang ada’. Statement cerdas yang keluar dari mulut seorang temanku ini membuat aku tercenung dan berpikir…wuih, daaalem nih. Statement ini juga telah dengan suksesnya memberikan cara pandang baru dan sedikit banyak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan bodohku selama ini tentang a crazy little thing called l-o-v-e….ataupun memaknai suatu relationship –apakah itu pertemanan, persahabatan, kekeluargaan, kekolegaan, atau suatu hubungan yang orangnya hanya kita sebut sebagai ‘kenalan’.

Ketika kita bertemu dengan seseorang –bisa berlanjut sampai ke perkenalan maupun hanya melihat sepintas lalu—tiap orang yang kita temui pasti memberikan bekas di pikiran dan hati kita…seperti meteor yang jatuh ke bumi. Ada yang meninggalkan bekas hanya seperti guratan tipis ada pula yang sampai menimbulkan cekungan –seperti sponge—yang dalam. Dan setiap ingatan atas peristiwa, kejadian dll yang kita alami bersama orang tersebut menetap disana, di lubang-lubang itu.

Dan seringkali kita terlalu cepat mengambil kesimpulan…terutama bila kita sedang gandrung terhadap seseorang. Akibatnya, bertebaranlah kata-kata seperti yang ada di lagu-lagu Rinto Harahap….‘tak ada lagi yang lain di hatiku’….’hatiku hanya untukmu’…dll itu. Dan itu semua menjadi kehilangan relevansi ketika ditinjau dari sudut pandang spongebob philosophy. Bo’ong banget gitu lhoooo….Well, mungkin nggak bohong, tapi kita berpikir seolah-olah seperti itu. Jadi yang kita rasakan itu sebenarnya semu…pseudo-feeling. Tapi mungkin memang itu lah yang terjadi ketika si cupid kecil yang kurang kerjaan itu sedang menunjukkan bakatnya.

Cara kita memberi predikat kepada seseorang sebagai ‘kenalan’ atau ‘teman’ atau ‘sahabat’ atau ‘pacar’ atau bahkan ‘soulmate’ menunjukkan sebenarnya seberapa dalam lubang yang ditempati oleh orang-orang tersebut di belantara spongebobly-heart-and-mind kita. Dan semuanya menjadi masuk akal ketika kita mendengar teman-teman kita yang sudah memiliki pasangan hidup mengatakan ‘i fall in love with someone else’ (ooopppss….sori ibu-ibu dan bapak-bapak…this time I’m talking about you guys…hihihi…)….Masuk akal, spongebob-philosophically.

Aku memiliki keyakinan bahwa ketika kita memutuskan untuk berikrar ‘til death do us apart’ there must and will not be someone else. Dan well, lagi-lagi keyakinanku itu di-challenge….dan walaupun sampai saat ini aku belum berubah keyakinan, aku terbuka untuk membaca fenomena ini dari kacamata spongebob philosophy –dan mungkin siap-siap berubah keyakinan ;-))

Kadang dalam hubungan pertemanan pun tak semua orang yang kita sebut ‘teman’ mendapat perlakuan yang sama dari kita (ngaku aja deeeeh….). Atau sebaliknya, tak semua orang yang kita sebut ‘teman’ memperlakukan kita sama rata sama rasa dengan yang lainnya. Benar? Nah, disinilah berlaku bottom line di dalam spongebob philosophy.

Pertama, kita harus menyadari bahwa kita memiliki lubang kita sendiri –yang kita tak tau seberapa dalamnya– di dalam hati orang lain. So, don’t push our luck by asking more. Don’t try to get into someone else’s hole atau memaksakan diri menjadi bagian dari lubang lain where you might not fit in. For somebody, everybody has their own history. Respect others’ histories and you will be happy.

Kedua, sebaliknya, jangan paksa orang lain untuk  pindah dari lubangnya. They have their own compartments, their comfort zones…Memindahkannya berarti mengkhianati sejarahnya. If they dig their holes deeper, then let it happen…but don’t ever give them the shovel. Let them decide free-willingly.

Ketiga, jangan takut untuk memiliki perasaan yang dalam terhadap banyak orang. Semakin banyak lubang di dalam hati kita, semakin luas hati kita. Seperti halnya Einstein. Menurut suatu penelitian yg pernah kubaca, otak si Eisntein ini kecil saja sebenarnya volumenya. Tapi kerutannya itu lhooo banyak betul, yang membuat luas permukaan otak Einstein jauh jauh lebih luas dari luas permukaan otak orang normal. Dan ternyata, luas permukaan otak lah yang menentukan tingkat kecerdasan seseorang. So, jangan biarkan otakmu mulus-mulus saja…dan jangan biarkan hatimu licin bagai pualam (tuuuhhh kan, lagu-lagu itu salah lagi…katanya kan hati yang baik itu yg bagai pualam). Itulah sebabnya ada istilah ‘narrow minded’ atau ‘open minded’….dan bukannya ‘smooth minded’.

Benar???

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s