imagine there’s no religion

Obrolan di tepi pantai malam itu menyentuh satu topik yang cukup menarik bagiku –agama, keimanan dan kebenaran. Bagaimana kita bisa yakin bahwa apa yang kita yakini itu benar? Bukankah masing-masing kita memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda, membaca dan memahami bacaan dan sejarah secara berbeda-beda? Bukankah sejarah hanya merupakan interpretasi peristiwa-peristiwa sesuai yang digariskan oleh pemegang kekuasaan?

Kami memeluk satu agama, namun kami punya pandangan yang berbeda-beda atas agama yang kami peluk tersebut. Bagiku itu biasa…bukankah perbedaan adalah rahmat? Namun statementku ini ditolak keras oleh salah seorang dari mereka. Dalam beragama tidak boleh ada perbedaan, katanya. Yang lain bilang, semakin manusia merasa pintar semakin liberal mereka dalam mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan, dan itu tidak sepatutnya dilakukan, sambungnya.

Kami memeluk satu agama, namun tetap muncul “kami” dan “mereka”. Yang satu bilang, “mereka” salah dan “kami” harus koreksi kesalahan itu…dengan cara apa pun, kalau perlu dengan pedang. Yang lain bilang, ini keyakinan “kami” terserah “mereka” mau ikut atau tidak, yang penting telah “kami” sampaikan kebenaran “kami”. Kutanyakan kembali, bagaimana kita tahu bahwa kita benar? Mereka jawab, karena kitab menyatakan demikian. Kutanyakan kembali, bagaimana dengan “mereka” yang kitabnya pun menyatakan bahwa “mereka” lah yang benar? Siapa sebenarnya pemegang otoritas kebenaran?

Kukatakan bahwa aku sebal melihat agama didistorsi menjadi hanya sekedar hitung-hitungan dosa dan pahala. Sebal aku mendengar para ahli agama hanya bicara soal surga dan neraka. Sebal aku karena beragama dianalogikan seperti berdagang. Kamu lakukan ini, maka kamu mendapat imbalan itu. Kukatakan bahwa aku sebal karena para ahli agama hanya mengembangbiakkan orang-orang egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri –bagaimana dirinya bisa masuk surga. Tak heran…banyak orang puluhan kali pergi haji walaupun tetangganya ada yang tak bisa makan. Tak heran….tiap minggu kita tonton di TV ribuan orang memenuhi masjid untuk bertobat sambil meneteskan air mata namun korupsi masih merajalela, karena seolah tetesan air mata itu telah menghapuskan dosa yang lalu sehingga mereka punya ‘jatah’ untuk berdosa kembali. Sebal aku melihat mereka yang mengklaim dirinya sebagai penegak agama berbaris membawa pedang memerangi “mereka” yang memiliki pemahaman yang berbeda –padahal “mereka” satu agama dengan mereka. Sebal aku karena agama dijadikan pembenar bagi kekerasan dan pertumpahan darah.

Mengapa bagi mereka ‘wajah’ Tuhan adalah wajah yang murka? Bukankah kebesaran Tuhan itu tetap walaupun seluruh manusia ingkar? Bukankah Tuhan katakan bahwa pengakuan atas kebesaran Tuhan itu tidak untuk kepentingan Tuhan, namun untuk kepentingan manusia sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s