hari gini…dapur, sumur, kasur???

Sudah beberapa hari ini aku menyaksikan tayangan sebuah iklan layanan masyarakat di beberapa stasiun TV tentang kampanye peduli kanker payudara. Sepanjang iklan tersebut digambarkan  miserable husband yang sedang berusaha bikin telur ceplok, menyetrika, belanja di supermarket sambil menggendong anak, dan lagi terbaring merana sambil mengelus bantal. Setelah itu terpampang tulisan (aku lupa tepatnya) yang intinya ingin menyampaikan ‘beginilah jadinya kalau wanita tidak peduli terhadap kanker payudara –dia cepat mati sehingga suami lah yang harus mengerjakan tugas-tugas domestik’. Kalau pesan tersebut dibalik, maka akan berbunyi ‘kalau wanita peduli terhadap kanker payudara, maka dia tidak akan cepat mati dan oleh karenanya dia akan tetap bisa memasak, menyetrika, belanja, dan jadi teman tidur bagi suaminya’.

Terus terang aku agak terganggu dengan iklan tersebut yang masih saja merepresentasikan perempuan HANYA pada peran-peran domestiknya. Bukannya aku tidak menghargai peran-peran domestik tersebut (asalkan pembagian peran tersebut memang berdasarkan kesepakatan bersama), namun tentu saja iklan yang durasinya cuma beberapa puluh detik tersebut tidak bisa menceritakan secara utuh apa yang terjadi, sehingga kemudian yang sampai di benak pemirsa –setidaknya di benakku– adalah pengukuhan stereotype perempuan yang hanya berperan di seputar dapur, sumur dan kasur….Hellloooooo??? Hari gini masih punya cara pandang seperti itu??!! Iklan tersebut bagiku kemudian menjadi semacam set back dari upaya-upaya yang selama ini dilakukan untuk mengubah cara pandang stereotyping yang menganggap dapur, sumur dan kasur adalah kodrat perempuan. Padahal kodrat perempuan –pemberian Tuhan yang membuat perempuan berbeda dengan laki-laki– adalah bahwa perempuan itu memiliki ovarium dan rahim sehingga dia bisa mengalami menstruasi, bisa hamil, melahirkan, dan menyusui. Itu saja, lain tidak.

Mungkin ada baiknya advertising agency ataupun pencetus ide dari iklan tersebut lebih memperluas wawasannya sedikit sehingga bisa lebih cerdas dan tidak terjebak pada penggambaran stereotype seperti di atas.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s