playing god (1)

Kemiskinan absolute (absolute poverty) menurut para ekonom dunia adalah kondisi dimana orang hidup dengan uang kurang dari US$ 1 per hari atau kurang dari Rp.10 ribu per hari.

Beberapa bulan terakhir ini aku menjadi pelanggan setia KRL ekonomi untuk menuju tempatku beraktifitas di Bogor sana. Dan setiap hari pula kulihat apa yang disebut absolute poverty dalam kondisinya yang paling telanjang –-bukan berupa angka-angka atau grafik atau statistik di buku-buku laporan ekonomi dan pembangunan yang ada di kantor-kantor mentereng badan-badan dunia ataupun pemerintahan. Hampir setiap menitnya beragam manusia –-tuna netra, tak berkaki, tak bertangan, lanjut usia, balita, anak-anak, laki-laki, perempuan—lalu lalang di atas kereta yang sedang berjalan, menadahkan tangan berharap recehan dari para penumpang. Ada yang sambil menyanyi, ada yang sambil mengaji, ada yang dengan terus terang meminta belas kasihan.

Kulihat seorang ibu yang duduk tak jauh dariku, diulurkannya tangan memberi recehan yang dia miliki setiap kali para fakir miskin tersebut lewat. Sampai kemudian dia berhenti mengulurkan tangannya. Mungkin recehan di dompetnya sudah habis. Kupikir, pasti ibu ini bukan pelanggan KRL dan hanya sekali-kali saja atau baru pertama kalinya naik KRL.

Melihat ibu tersebut, aku teringat diriku sendiri bertahun yang lalu, ketika pertama kali aku ber-KRL ria. Apa yang kulakukan persis sama dengan yang dilakukannya. Fenomena tersebut, kalau boleh, kusebut fase pertama ber-KRL ria. Fase kedua ber-KRL ria adalah ketika kita seolah terbangun oleh kenyataan bahwa recehan kita terbatas…lalu kepada siapa harus kita berikan kelebihan rezeki yang sedikit ini? Kepada si nenek tuna netra…atau kepada bapak tak berkaki yang ngesot di lantai kereta? Sekejap aku merasa bagaikan Tuhan, yang berkehendak, yang menentukan…Dan sungguh aku nggak suka permainan ini. Fase ketiga adalah ketika train-ride ini menjadi suatu kebiasaan. Sebagaimana pepatah sering menyebutkan, practice makes perfect, maka ‘terbiasa’ pula kita melihat fenomena-fenomena di atas, walaupun kadang masih timbul apa yg temanku bilang sebagai butterfly in the stomach.

Apakah ini menandakan nurani kita sudah mati? Apakah ini menandakan bahwa kita sudah immune (kebal) sehingga pemandangan-pemandangan seperti itu menjadi nggak meaningful lagi? Hanya Tuhan yang tahu. Dan sungguh aku takut untuk mengetahui apa yang Tuhan tahu.

[fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara – UUD 1945]

2 Comments

  1. itu yang namanya kemiskinan struktural…kegagalan pemerintah sebagai penyelenggara negara menjalankan kewajibannya utk memastikan adanya akses pada sumber2 penghidupan yang bermartabat bagi warga negara. dan kamu memang bener sejuta persen…prihatin aja enggak cukup.

  2. mba,setiap hari sepulang kerja saya ber-kla kadang barengan sama mba. apakah nurani saya juga berarti mati ketika melihat itu adalah hal biasa,karena terkadang mereka menggunakan “keadaan kekurangan” yang mereka miliki sebagai modal mereka bahkan sebenarnya itulah pekerjaan mereka. tapi saya percaya kita semua prihatin walaupun itu ga cukup, Bagaimana mba?!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s