les choristes

Sudah lupa aku kapan terakhir kali aku menangis berderai-derai karena menonton sebuah film. Yang kuingat, The Perfect World did it to me…seperti juga English Patient, Hero dan Life is Beautiful. Dan kemarin, Les Choristes atau dalam bahasa Inggrisnya The Chorus kembali membuatku berurai air mata.

Les Choristes menceritakan seorang guru Monsieur Clement Mathieu yang ditempatkan di sebuah sekolah berasrama yang diperuntukkan bagi anak-anak miskin, yatim dan juga anak-anak nakal yang orangtuanya sudah tidak sanggup lagi menangani. Dalam film yang bersetting pedalaman Perancis di tahun 1940-an ini digambarkan bagaimana interaksi guru-murid dimana berlaku hukum ‘aksi-reaksi’nya Newton. Nakalnya anak-anak tersebut dihadapi dengan sikap abusive dari kepala sekolah yang malah mengekalkan hukum ‘aksi-reaksi’ tersebut –menimbulkan lingkaran setan hukuman-teror terhadap guru-hukuman lagi…yang tidak ada habisnya.

Pak Guru Mathieu melakukan pendekatan kepada murid-muridnya melalui musik. Anak-anak nakal tersebut kemudian menjadi menurun derajat kenakalannya –juga akibat pendekatannya yang kebapakan dan penuh humor. Lebih jauh lagi ternyata anak-anak tersebut bisa menjelma menjadi kelompok paduan suara yang sangat kompak dan menghasilkan suara bak suara malaikat yang mampu memesona seorang Countess yang menjadi penyantun dana bagi sekolah tersebut. Sayangnya, sang kepala sekolah tidak suka dengan pendekatan ini yang menurutnya hanya akan menunjukkan kelemahan para ‘pendidik’ di mata anak didiknya. So, Pak Mathieu terpaksa harus pergi karena dipecat oleh si kepala sekolah. Ketika pak guru pergi digambarkan bagaimana anak-anak tesebut mengucapkan silent goodbye (karena mereka dilarang bertemu oleh kepala sekolah) dengan hanya memunculkan tangan-tangan mungil mereka di bibir jendela dan melemparkan pesawat-pesawatan dari kertas berisi ucapan-ucapan perpisahan yang mengharukan.

Walaupun Pak Mathieu hanya sesaat saja berada di sekolah tersebut, namun keberadaannya mampu mengubah keadaan yang ada, baik murid-muridnya maupun kebijakan sekolah tersebut secara umum. Diceritakan bagaimana akhirnya semua guru menyatakan solidaritas kepada Pak Guru Mathieu dan membuka semua kebobrokan dan abuse yang terjadi di balik dinding sekolah tersebut. Digambarkan pula bagaimana seorang siswa yang paling bengal –namun ternyata menyimpan bakat menyanyi yang menakjubkan, berhasil diubah kehidupannya oleh pak guru dan di masa depan menjadi orang sekaliber Zubin Mehta dan memimpin sebuah orkestra terkenal.

"…janganlah menjadi orang yang ketika pergi tidak mengganjilkan dan ketika datang tidak menggenapkan"  [Nenekku]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s