lebaran..lebaran..lebaran

Lebaran dan ‘Minal Aidin Walfaidzin’

Minal aidin walfaidzin artinya bukan ‘mohon maaf lahir dan batin’. Entah mengapa terjadi kesalahkaprahan setiap kali kita mengucapkan kalimat tersebut dan seolah artinya adalah ‘mohon maaf lahir dan batin’. Bertahun yang lalu aku pernah mendengar seorang ulama mengatakan bahwa sebaiknya kita tidak sembarangan mengucapkan ‘minal aidin walfaidzin’ kepada seseorang karena kalimat tersebut maknanya sangat dalam. Ucapan tersebut sebaiknya diucapkan hanya kepada orang-orang yang kita tahu memang pantas menyandangnya dan…tidak semua orang yang berpuasa Ramadhan ‘berhak’ diberikan ucapan selamat tersebut, demikian menurut pak ustadz. Wallahu a’lam bissawab.

Lebaran dan ‘maaf lahir dan batin’

Tak bisa disangkal, ini lah kalimat terpopuler di kala Lebaran. Kalimat ini meluncur dengan lancarnya dari mulut kita setiap kali Lebaran menjelang. Kadang harus kuakui, saking seringnya kalimat ini diucapkan semakin jadi basa-basi saja nampaknya. Kadang kita mengucapkannya pada orang yang baru pertama kalinya kita temui. Kadang walaupun mulut mengucapkannya, hati masih saja enggak rela. Iya, nggak??? Memang benar kata orang, ujian sesungguhnya justru pada saat Ramadhan selesai –bagaimana kita melanjutkan hidup kita di sebelas bulan berikutnya.

Lebaran dan SMS

Ada aktifitas tambahan yang aku lakukan sejak malam takbiran sampai hari ini, yaitu mengirim SMS. Trend mengirimkan ucapan selamat dan bermaaf-maafan melalui SMS mulai muncul dua sampai tiga tahun belakangan ini, ketika practicality mulai menjadi dogma baru di kehidupan masyarakat modern. Tak terkecuali aku. Berbagai SMS, mulai yang pendek, panjang, dengan gambar, penuh doa, pakai puisi, sampai yang memakai berbagai bahasa –inggris, kromo inggil, aceh— menyambangiku, mulai melek mata sampai after midnight. Mengirim ucapan dan meminta maaf ini pun sudah kulakukan sejak malam takbiran…sebelum line-nya jammed dan SMS kita failed atau dipending (btw, frase ini juga jadi frase yang nge-trend di tahun ini hahahhaa…). Kadang kalau dapat kiriman dengan kata-kata yang bagus, Alhamdulillah….kita nggak perlu capek pencet-pencet dan tinggal mem-forward saja SMS indah tersebut ke kawan yang lain, sampai-sampai seorang temanku me-reply kembali SMS-ku…dan isinya ‘nyontek punya siapa nih?’ Hehehhehe….tau aja…

Lebaran dan ‘tombo ati’

Kalau saja Ramadhan dan Lebaran tahun ini digambarkan dalam suatu film maka tak bisa disangkal bahwa lagu ‘Tombo Ati’ yang dinyanyikan oleh Opick akan menjadi theme song-nya. Dimana-mana kita bisa dengarkan lagu ini diputar dan dinyanyikan oleh siapa pun, besar, kecil, tua, muda, di TV, radio, di jalanan…pokoknya dimana saja, kapan saja. Jadi ingat fenomena Peter Pan dengan ‘Ada Apa Denganmu’-nya. Akibat paparan berulang-ulang tersebut, tak bisa dielakkan aku pun menjadi hafal lima perkara yang bisa menjadi obat hati ini….Well, Opick…as I always say…it’s easier to say (or sing) than done, but thanks anyway, I’ll keep it in mind. Moga-moga Gusti Allah merestui.

Lebaran dan ‘urusan perempuan’

Sholat sunnah Iedul Fithri selama ini kuanggap sebagai kulminasi dari seluruh perjalanan Ramadhan. Merayakan Lebaran tanpa melaksanakan sholat Ied bagaikan makan mie ayam tanpa mie. Dan tahun ini adalah tahun keempat aku merayakan Lebaran tanpa melaksanakan sholat Ied. Bayangkan…four consecutive years!!! Kesal? Jelas…tidak perlu ditanya lagi deh-dong-sih-dut-pret. Menyesal? Amat sangat banget sekali…Padahal sejak sebelum Ramadhan sudah kutetapkan niat untuk memperbaiki ibadahku dan berdoa agar sekali ini saja puasaku bisa full. Hasilnya? jauh panggang dari api…itu pun 90%-nya diakibatkan oleh ‘urusan perempuan’ yang diluar kebiasaan. Nampaknya memang niat baik saja tidak pernah cukup. Dan untuk yang satu ini, niat tersebut harus dilengkapi dengan pil KB agar ‘urusan perempuan’ ini tidak mengganggu lagi ;p

Lebaran dan bakso

Lho…kok bakso, bukannya ketupat? Yah, Lebaran dan ketupat itu suatu keniscayaan, tidak perlu diperbincangkan lagi. Kali ini aku ingin menulis tentang bakso. Bakso kuah adalah hidangan yang most wanted di rumah kami pada hari kedua Lebaran. Tetamu yang sejak hari pertama Lebaran tak henti-henti mengunjungi rumah kami telah menetapkan pilihannya di hari itu….dan pemenangnya adalah…BAKSO KUAH..yeeeiiii..plok..plok..suit..suit. Mungkin mereka, sebagaimana seluruh penghuni rumah kami, sudah jenuh juga menyantap hidangan ‘khas’ Lebaran. Bayangkan setiap kali menyambangi rumah orang, yang dihidangkan lagi-lagi ketupat, opor, kari, dan sejenisnya…pokoknya makanan bersantan dan ‘berat’. Terang saja, bakso kuah yang ibuku hidangkan siang itu diserbu dengan segera bagaikan oasis di tengah padang pasir…hehehhee…berlebih deh ah!

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan menjumpakan kita dengan Ramadhan tahun depan. Amiin…

1 Comment

  1. haha!dah lama juga g ga denger (or even say) idiom ‘deh-dong-sih-dut -pret’…jd kangen ama lu yaw!!!
    ngomong2 ttg bakso kuah….kok menu hari kedua lu sama ya dgn di rumah g?!and for sure..bakso kuah itu cuma sempet terhidang di meja selama sekitar 15 menit saja,setelah itu lenyap-nyap-nyap,yg tersisa tinggal panci dan beberapa tulang ceker ayamnya doang… opor ada sih di hari perama,tp cuma syarat doang.hehe…MISS U YAW!!!have a nice holiday!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s