consuming society

Pada dasarnya seluruh manusia yang ada di muka bumi ini adalah konsumen. Menurut Worldwatch Institute, konsumen di dunia bisa dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu konsumen berpenghasilan tinggi, menengah dan rendah. Seperti sudah jamak diketahui, konsumen berpenghasilan tinggi berlokasi di negara-negara industri (negara ‘utara’), yang notabene jumlahnya cuma 20% dari populasi dunia. Mereka yang 20% ini mengkonsumsi 80% dari resource yang ada di muka bumi.

Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di negara mereka tidak mampu memenuhi level konsumsi mereka itu. Oleh karenanya mereka perlu mencari sumber-sumber resource di tempat lain untuk mempertahankan kenyamanan tersebut. Misalnya saja negara Belanda. Untuk memenuhi level konsumsi mereka saat ini, mereka memerlukan lahan/resource sebesar 5 kali lipat dari lahan yang ada. Nah, di negeri antah berantah yang lain itulah (termasuk Indonesia) mereka meninggalkan jejak-jejak eskploitasi, yang dikenal sebagai jejak ekologis (ecological footprints). Tentu saja ada trade-off-nya, yaitu "pembangunan" di negara-negara berkekayaan alam yang dengan sukarela menjadi penyedia jasa layanan alam bagi kebutuhan konsumsi mereka. Dan seringkali praktik-praktik eksploitasi tersebut tidak mencerminkan nilai sebenarnya dari resource dan energi yang dikeluarkan oleh masyarakat Indonesia. Ini lah yang kemudian menimbulkan eksternalitas, yaitu suatu keadaan dimana gap nilai tersebut harus ‘dibayar’ oleh masyarakat Indonesia dalam berbagai bentuk, misalnya pencemaran dll.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebenarnya kondisi ‘utara-selatan’ juga berlaku within Indonesia, dimana urban society adalah konsumen dan masyarakat rural sebagai penyedia layanan alam. Masyarakat urban hakikatnya adalah –meminjam istilah seorang teman yang juga pemikir– pengungsi (refugee), yang bergantung sepenuhnya pada ‘kerelaan’ orang-orang kampung menyediakan berbagai kebutuhan konsumsi mereka. Trade-off-nya ya…financial benefit yang seringkali nilainya tidak menggambarkan nilai sebenarnya dari resource dan energi yang harus dikeluarkan oleh orang kampung untuk memproduksi berbagai kebutuhan orang kota tersebut. By the way, tahukah Anda, bahwa setiap orang Indonesia memerlukan lahan seluas 1,3 hektar (rata-rata) untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tahunannya? Jadi, kalau Anda tidak memiliki lahan produktif seluas 1,3 hektar, maka dalam neraca ekologis, Anda itu termasuk kaum yang  berhutang :p

Aspek finansial ini kemudian menjadikan orang-orang kampung juga sebagai konsumen dari barang-barang yang diproduksi oleh kaum pekerja di sentra-sentra industri semi-urban. Bayangkan saja, di pulau Maratua (salah satu pulau kecil yang menjadi titik terluar Indonesia, berbatasan dengan Malaysia dan Philipina) ikan adalah makanan mewah, padahal bisa dikatakan 100% populasinya nelayan. Apa sebab? Ikan telah dipandang sebagai komoditi yang lebih bisa memberikan benefit finansial, dibandingkan bila hanya dikonsumsi sendiri. Ironis, karena kemudian mereka menjual ikan (yang bernilai gizi tinggi) dan membeli mie instan (yang junk-food) –dari uang yang mereka peroleh dari penjualan ikan tersebut– untuk mereka konsumsi.

Dalam konteks yang lebih besar, demikianlah yang terjadi dengan negara Indonesia. Indonesia menjual minyak mentahnya (instead of mendahulukan kebutuhan dalam negeri) untuk mendapatkan finansial benefit dan dengan uang hasil penjualan tersebut membeli minyak dari pasar dunia (yang konon kualitasnya tidak sebagus kualitas minyak kita) untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Aneh? Ya…memang aneh, tapi ini nyata. Tanyakan kenapa! –eh…kok jadi niru iklan nih ;p

…ketika pohon terakhir sudah lenyap dan titik air terakhir sudah menghilang, barulah kita sadar bahwa uang nggak bisa dimakan… [kata seorang bijak, lupa aku siapa…]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s