jak mania

Kebetulan, malam tadi aku berkeliaran di sekitar Senayan, mengunjungi teman-teman yang akan menyelenggarakan perhelatan Selasar Bumi pada hari Minggu besok (btw, datang ya…acaranya di Graha Pemuda Senayan…untuk umum dan gratis). Ternyata, kami agak-agak salah gaya, karena waktu kepulangan kami bertepatan dengan bubaran sepak bola. Ya, sore tadi memang dilangsungkan pertandingan antara Persija (Jakarta) dan Arema (Malang). Konon, hasil pertandingan tersebut seri 2-2. Namun hasil tersebut tidak serta merta mengubah kelakuan para supporter Persija untuk menjadi lebih kalem.

Disinilah kembali kulihat suatu fenomena dimana identitas individu menjadi hilang dan melebur ke dalam identitas kelompok, yang kali ini namanya Jak Mania. Dalam kelompok ini tak ada lagi si Amat, si Jono, si Ucok, si Fulan. Yang ada hanya identitas dari this crowd — Aku, Jak Mania. Dan identitas (serta kelakuan) yang muncul kemudian juga tergantung kepada interpretasi masing-masing individu tentang seperti apa sosok Jak Mania tersebut. Ada (sebagian besar ‘kali ya…) yang menganggap bahwa Jak Mania adalah jagoan, berani, nekat dll…sehingga pengejawantahan dari persepsi itu muncul dalam tindakan-tindakan seperti naik di atas atap bus dan metro mini, jalan seenaknya di tengah jalan, membakar spanduk-spanduk di pinggir jalan, memalak mobil-mobil pribadi, melempari kendaraan lain dengan tanah, kerikil dll dll dll dll. Terus terang, kengerian yang serupa dengan saat kerusuhan 1998 kembali kurasakan.

Ketika berada di dalam kelompok tersebut, all of a sudden, mereka menjadi “kreatif”. Ketika berada di dalam kelompok tersebut, tidak ada lagi tanggung jawab sebagai individu sehingga mereka (mungkin) merasakan apa yang disebut kebebasan absolut. Apalagi yang ada disana hanya satu-dua orang polisi lalu lintas.

Bayangkan, seberapa besar energi yang terkonsentrasi di seputaran Senayan sampai Semanggi malam tadi. Dan kuperhatikan hampir semuanya adalah anak tanggung, anak-anak usia SMP-SMA. Bayangkan, tiga sampai lima tahun ke depan –-suatu masa dimana mereka selesai sekolah dan siap menjadi workforce (karena tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, misalnya), apa yang akan terjadi jika potensi energi yang sedemikian besarnya tidak bisa atau tidak mendapatkan penyaluran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s