bubble economy

Aku kembali lagi ke Aceh, hampir satu tahun sejak terjadinya bencana tsunami. Banyak yang telah berubah, banyak terjadi perbaikan, namun banyak juga yang masih belum berubah. Rumah-rumah sederhana telah banyak dibangun sebagai tempat tinggal para survivor, namun ada juga dari mereka yang masih tinggal di tenda-tenda. Ada yang sudah mulai bergerak roda perekonomiannya, namun banyak pula yang masih mengandalkan jatah hidup. Ada yang mendapatkan income dari program-program cash-for-work (padat karya), dan ada pula yang mendapatkan tambahan income (yang notabene jauh lebih besar daripada pendapatan utamanya) dari menyewakan rumah kepada berbagai organisasi dan badan internasional yang membanjiri Aceh.

Aceh, khususnya Banda Aceh, saat ini bagaikan suatu bandar internasional. Berbagai jenis orang ada disini, berkulit hitam, putih, kuning, sawo matang, bahkan pink (hehehe…). Bahasanya pun bermacam-macam, mulai dari Inggris, Perancis, Jerman, Turki, Jepang, sampai bahasa Jawa dan Sunda. Di Aceh, berbagai jenis mobil besar-besar berkeliaran…SUV 2 cabin, 4 wheel drive…. mitsubishi, toyota, land rover…tinggal pilih. Entah bagaimana kondisinya 3-4 tahun mendatang ketika badan-badan internasional itu minggat dari Aceh. Entah bagaimana tata konsumsi mereka nantinya, ketika tamparan fatamorgana bertubi-tubi ini meninggalkan mereka.

Semua fenomena itu membuatku hanya bisa menghela nafas panjang. Namun, despite all that, aku senang karena masih ada yang belum berubah. Masih banyak orang yang bergegas ke meunasah ketika azan berkumandang. Warung mie kepiting masih belum naik harganya, walaupun seorang teman yang mentraktir makan ayam tangkap nyeletuk, kok serasa makan di hotel di Jakarta (harganya). Warung kopi Niagara dengan kerang rebusnya pun masih terus ramai dan belum berubah harganya. Demikian juga dengan ratusan warung-warung kopi yang bertebaran di berbagai pojokan jalan di Banda Aceh dengan kursi-kursi plastiknya yang khas (btw, yang kayak beginian udah mulai ada di Jakarta). Yah, semoga Starbuck nggak akan pernah masuk di Aceh dan bikin promosi berdalih…rasa lokal, tampilan internasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s