back to default

Pertama kali aku mengenal handphone adalah ketika mantan direkturku dulu memaksaku untuk memilikinya. Dia bilang sebagai orang yang mobile, wajib hukumnya bagiku memiliki gadget satu ini. Fine, kubeli lah satu, walaupun sambil bersungut-sungut karena berbagai konsekuensi yang harus kutanggung. Memiliki handphone berarti menambah beban rutinitas yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus kujalani. Mencharge baterainya, pergi ke bank membayar tagihannya (waktu aku masih memakai nomor pasca bayar) atau mengisi ulang pulsa (kuputuskan untuk berubah ke nomor pra-bayar karena malas pergi ke bank). Belum lagi kekesalan bila kebetulan handphoneku  hang (technology sucks! paling begitu gerutuanku) dan juga beban mental akibat ‘rasa berdosa’ bila ada missed-calls atau sms masuk yg tidak bisa kubalas langsung akibat habis pulsa atau low-batt –dua hal yang sampai sekarang amat sangat jarang kupantau.

Namun apa daya, handphone sudah menjadi kebutuhan…kebutuhan yang diciptakan oleh sistem global yang konsumtif (ini selalu argumentasiku bila ada orang yang membela ‘kebutuhan’ yang satu ini). Sering aku menganalogikan handphone dengan tip-ex. Jaman sekolah dulu, tanpa tip-ex hidupku bahagia saja. Kalau ada tulisan yang salah, tinggal dicoret. Lalu tip-ex datang menawarkan solusi agar tulisan kita rapi jali…dan all of a sudden, adaaa aja salah tulis yang kita lakukan dan tiba-tiba kita terobsesi dengan kerapihan. Familiar with this?

Aku juga tidak suka dengan handphone karena handphone membuat orang menjadi individualistik. Coba amati kumpulan orang yang lagi kongkow-kongkow…entah di restoran, di warung-warung kopi, di cafe, sampai di arisan keluarga. Mereka berkumpul, tapi mereka tidak berkumpul. Mereka berkumpul secara fisik, tapi mereka tidak berkomunikasi satu sama lain. Tiap orang sibuk pencet-pencet, asyik sendiri…atau ketawa-ketiwi sendiri, seperti orang gila. So what’s the point of ngumpul-ngumpul?? Belum lagi kalau di pesawat. Baru saja pesawat landing, sudah terdengar bunyi beep…beep…Kalau sudah begitu paling aku menggerutu dalam hati, sok sibuk banget sih ini orang…Siapa sih dia? The president of the world??? Seolah-olah dunia akan kiamat kalau tidak segera menyalakan handphone. Pernah lihat orang yang kemana-mana selalu menenteng-nenteng handphone-nya? Seolah-olah sang handphone adalah alat pacu jantung atau nyawa portable-nya, yang kalau ditinggalkan akan berakibat fatal. Sorry to say, tapi harus kukatakan bahwa sedikit banyak, kita semua sudah mengalami gangguan kejiwaan akibat handphone ini.

Karena tidak mau terjebak pada kegilaan tersebut, maka aku memutuskan bahwa handphone kupegang jika dan hanya jika aku memerlukannya. Toh kalau untuk urusan kantor, ada telpon kantor yang bisa dipakai oleh orang lain untuk menghubungiku. Ada email, ada fax…media komunikasi lain yang tidak terlalu demanding. Akibatnya, seringkali handphoneku nyenyak beristirahat di dalam ranselku atau tergeletak idle di atas meja. Tidak heran banyak orang menggerutu dan complaint karena hanya berhasil mendengar suara si Veronica atau cemprengnya suaraku menyapa, "Hai…ini yaya…tinggalkan pesan aja ya…"

Tapi entah karena kutukan orang-orang atau memang sudah nasibku yang selalu ‘kena batu’-nya, ada juga saat-saat dimana aku menjadi orang yang ‘can’t live without handphone’. Itulah saat dimana kegilaan yang lain membuatku sesat pikir, dan to some extent hal tersebut meng-auto-customizing berbagai default kehidupanku. Termasuk dalam habit ber-handphone. Ya..ya…there was time I was that lunatic  girl…always bringing that f*ck*ng gadget wherever I went. Namun ada juga sisi positifnya, karena jumlah orang yang complaint menjadi berkurang. Tapi untunglah (bagiku, tidak bagi orang lain –sad to say this…) saat-saat itu sudah lewat…well, agak mereda lah paling tidak. Dan sekarang, aku kembali ke defaultku semula, dan siap-siap mendengarkan omelan dan gerutuan teman dan orang-orang yang sudah fed-up mendengar suara cempreng dari voice-mailbox-ku. Well friends, I hope you understand…it’s part of the ‘therapy’. Aku janji akan mengubah sapaan voice-mailboxku secara reguler dan menambahkan lagu-lagu yang asyik, supaya kalian enggak bosan ;p

…apakah setiap sms yang masuk harus langsung dibalas???  [seorang temanku]

2 Comments

  1. woiiiii…pu…..I’d been there b4 ! In the middle of the nite still get along with HP until “Subuh” !! Remember ??? maybe it’s a lil bit “psycho” yach (u said that word 2 me…)…Ha…ha…
    Pu…Know what ?? I need HP as I need my breathe…hi..hi…
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s