a new meeting point

Sekali lagi tentang Aceh. Selain julukan Serambi Mekkah yang sudah melekat sejak lama, kalau boleh kutambah, Aceh saat ini bisa dijuluki ‘a new meeting point’. Another Ground Zero dimana semua orang berkumpul dan ber-reuni. Kalau dipikir-pikir lucu juga. Bayangkan, dalam beberapa hari terakhir ini di Aceh aku bertemu dengan seorang ex-teman kos yang sudah hampir 8 tahun tak bertemu, mantan kakak kelas yang entah mungkin sudah lebih dari 10 tahun tak kulihat lagi, beberapa teman yang sudah hampir 1 tahun tak terdengar kabarnya, seorang teman dari teman kerja-dan-bermain-ku yang sempat kukenal sekilas, bahkan teman yang baru minggu lalu kujumpai di betawi sana. Dan semalam, aku mendapat sms dari dua orang teman yang mengajak janjian di Aceh karena mereka akan berada di Aceh dalam beberapa hari ke depan. Weird, huh?

Aceh, mungkin memang sudah ditakdirkan menjadi melting pot, sejak jaman Samudera Pasai dahulu. Nggak heran penduduk Aceh beragam pula ‘warna’nya…dari yang berkulit gelap keturunan India sampai yang bermata biru keturunan Portugis yang bermukim di daerah Lamno sana (yg btw, ehmmm…jenis ‘warna’ yang digilai seroang temanku =P). Dan kali ini…kembali Aceh jadi melting pot…and sadly to say…it takes tsunami to bring all those people. It claims hundreds-of-thousands of its inhabitants to open up Aceh yang dahulu amat sangat tertutup dan ‘menyeramkan’.

Semoga rombongan sirkus ini (termasuk aku) tidak kemudian menjadikan orang Aceh hanya sebagai penonton…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s