evo

Salah satu artikel di dalam majalah Time terbaru mengulas kunjungan presiden Bolivia yang baru, Evo Morales, ke sembilan negara di dunia. Yang menjadi pusat perhatian para jurnalis bukanlah kebijakan apa yang akan diambil oleh Morales dalam masa kepemimpinannya ke depan, tetapi “konsistensi” morales memakai sweater merah bergarisnya. Tak peduli itu di Eropa (Spanyol), Asia (China), atau Afrika (Afrika Selatan), tak peduli musim yang berbeda di berbagai belahan bumi tersebut, Morales tetap memakai sweaternya dalam pertemuan resmi dengan para pemimpin negara tersebut. Dalam berbagai foto yang ditampilkan, Zapatero, Hu Jintao, dan Thabo Mbeki mengenakan pakaian seragam ‘resmi’ berupa jas, kemeja putih dan dasi.

Aku memandang apa yang dilakukan Morales bukan karena dia tidak memiliki pakaian lainnya. Menurutku apa yang dilakukannya ideologis, melawan mainstream dan menantang dogma globalisasi yang antara lain dicirikan dengan penyeragaman –mulai dari cara berpikir (laissez faire economy cs), cara berpakaian (jas plus dasi cs), apa yang dimakan (McDonald cs), apa yang diminum (Coca Cola dan Starbuck cs), apa yang ditonton (CNN, film Hollywood cs), sampai dengan standar etika (western style table manner cs…jadi ingat satu artikel di salah satu majalah internasional yang menceritakan tentang booming kursus table-manner di China yang lagi memasuki era globalisasi). Dan ini dilakukan oleh Morales secara cerdas di depan kamera yang notabene akan ditonton oleh ratusan juta penduduk bumi. Cool…..

Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa Amerika Latin sedang bergerak menuju ke suatu arah yang dianggap mengkhawatirkan para politikus konservatif, terutama di Amerika Serikat. Warga Bolivia mengikuti gerakan warga Venezuela, Brazil, Chile, Uruguay dan Argentina yang memilih pemimpin dari kelompok progresif yang bukan rahasia lagi merupakan kelompok yang bersuara keras melawan berbagai kebijakan AS. Mereka bilang: Ya Basta!…Enough is enough! bagi dominasi a la barat di belahan bumi mereka, yang selama ratusan tahun membuat warga negara-negara berkekayaan alam dahsyat ini menjadi miskin dan marjinal.

Kapan giliran kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s