(un)downfall(ed)

"When the curtain falls, My Fuhrer, you have to be on the stage". Itu yang dikatakan oleh Goebbels, seorang menteri Sang Fuhrer, ketika terjadi perdebatan di bunker Hitler menjelang kejatuhannya di tahun 1945. Saat itu, pasukan Rusia mulai memasuki perbatasan Berlin dari berbagai penjuru dan para menteri dan jenderal Hitler berdebat apakah Sang Fuhrer harus tetap tinggal atau pergi dari Berlin. Dan Hitler menetapkan pilihan bahwa dia tidak akan lari, namun dia juga tidak akan membiarkan dirinya dihinadinakan oleh pihak Allies. Hitler yakin dia tidak akan bisa terhindar dari ‘pembalasan’ pasukan Allies. Dan pilihannya jelas, bunuh diri –bersama Eva Braun yang baru dikawininya beberapa hari di bunker– dan memerintahkan anak buahnya untuk membakar jasad mereka. Tak dibiarkannya pasukan Allies menyentuh sedikit pun dirinya. Cerita di atas adalah cuplikan dari film Downfall, yang bercerita kehidupan di bunker Sang Fuhrer pada akhir masa kejayaannya.

Bila Hitler sangat yakin dia tidak untouchables, tidak kebal hukuman, para koruptor di Indonesia sangat yakin bahwa mereka adalah the untouchables…undownfalled. Para kriminal berdasi tersebut sangat menikmati iklim ‘kedaulatan hukum’ di republik sontoloyo ini, selama bos besar masih berdiri. Muak aku menonton berita di TV yang menceritakan dibebaskannya para pelahap serakah yang bertebaran itu.  Mungkin cuma utopia untuk berharap ada kejadian seperti yang dilakukan Hitler. Bukannya aku berharap para kriminal tersebut membunuhi dirinya, tapi cerita fatalis Hitler tersebut menunjukkan bahwa justice does work.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s