amanda…oh, amanda…

Sebenarnya aku tidak terlalu suka pergi ke Bandung di akhir minggu, karena yang aku jumpai disana orang-orang Jakarta juga, dengan mobil-mobil plat B-nya. Yaaahhh, dia lagi, dia lagi…boseen ah. Namun, berhubung keluarga –orang tua, adik, kakak, ipar-ipar– telah bersepakat untuk pergi…jadilah akhir minggu ini kuhabiskan di Bandung.

Seperti naik haji yang ada syarat-syarat sah-nya, demikian pula jika kita pergi ke Bandung. Ada syarat-syarat “sah” yang harus dijalankan sehingga kita bisa katakan kepada orang lain “Ya, gue udah ke Bandung”. Ibaratnya pergi ke Mekkah, kalau kita tidak pergi ke Ka’bah, jangan pernah bilang kita pergi ke Mekkah.

FO –kependekan dari factory outlet– adalah salah satu landmark dari Bandung saat ini. Fenomena yang baru marak muncul pada 5 tahun terakhir ini, menjadi salah satu must-go place di Bandung. Terserah, mau FO yang mana, tinggal pilih…mau yang bertebaran di sepanjang Jalan Dago atau Jalan Riau..atau di tempat-tempat lainnya.

Kedua, ITB. Well, sebenarnya ini must-go place versiku sendiri…hehehe…boleh dong, sedikit bernostalgia. Kampus Ganesha di hari Minggu masih saja ramai, layaknya hari-hari biasa. Seperti halnya lima belas tahun yang lalu, atau bahkan tiga puluh tahun yang lalu mungkin, ITB adalah kampus yang nggak pernah tidur. Sayang semiliar sayang, student center tempat nongkrong tercinta sudah musnah, digantikan oleh gedung kaca macam mall, yang aku nggak tau entah apa.

Last but not the least, bicara Bandung tanpa mengunjungi tempat-tempat makan enak ibarat memasak tanpa garam. Tempat-tempat ngetop di Bandung menjadi ngetop dan ngetrend akibat kabar yang disebarkan dari mulut ke mulut…kadang dengan agak sedikit exageration hehhee. Termasuk makan siang di “Sapu Lidi” yang jauhnya bujubuneng. Kelezatan masakannya sih biasa saja (menurutku lhoo…), tapi memang tempat dan suasananya asyik seolah-olah kita sedang makan di saung di tengah sawah.

Oleh-oleh? Harus lah. Pulang dari Bandung tanpa membawa batagor, atau kue-kue Kartika Sari ibarat dari Mekkah tanpa membawa air zamzam. Ada satu lagi produk ‘baru’ yang didesas-desuskan enak, yaitu Brownies Kukus Amanda. Dan demi si Amanda ini, akhir minggu yang awalnya smooth and easy harus diakhiri dengan kekesalan yang menggunung. Rasa penasaran menikmati brownies –dengan embel-embel pesan ‘jangan beli yang di pinggir jalan, beli lah di tokonya langsung’—telah memaksa kami menunggu lebih dari 2 jam. It was unbelievable. Alhasil, setengah waktu perjalanan pulang kami habiskan untuk melampiaskan ke-bitchy-an, merepet nggak karuan. Yah, apa mau dikata, ini lah nasib kaum yang ‘diperbudak perut’ –meminjam istilah bapakku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s