freeport…oh, freeport

Tidak akan ada kejadian luar biasa pasca gonjang-ganjing Freeport kali ini. Percayalah. Mengapa demikian? Karena pada akhirnya di dunia yang kapitalistik ini segala sesuatu hanya akan menjadi komoditas, tidak terkecuali Freeport dan berenteng masalah yang menyertainya. Percayalah, penderitaan masyarakat Papua, bencana lingkungan, kolonialisme korporasi, dan “nasionalisme” hanya akan menjadi bumbu-bumbu penyedap dalam negosiasi politik pemerintah-pemerintah (baca: elit politik) untuk kepentingan golongan yang diwakilinya –yang sudah pasti bukan rakyat kebanyakan. Di suatu dunia dimana pemerintahan negara-negara yang berdaulat menghambakan diri kepada kepentingan modal, rakyat sebaiknya berdoa saja dan memikirkan sendiri bagaimana agar besok bisa makan.

Let’s play mine…eh, mind game. Bayangkan 2 negara yang “saling membutuhkan” –terlepas bahwa negara yang satu lebih membutuhkan negara yang lain dibandingkan sebaliknya. Pemerintah Negara A (yang memiliki kepentingan lebih besar terhadap negara B dibandingkan sebaliknya) berkepentingan agar rejimnya bertahan dan tidak didongkel. Tahu dooong, Negara B kan paling ahli tuh merekayasa yang begitu-begitu. Selain itu Negara B baru saja ‘memberi hadiah’ dengan membuka kembali kerjasama militer dengan Negara A. Waahhh, ini prestasi yang harus dipertahankan. Belum lagi komitmen Negara B untuk mendukung kesatuan dan presatuan Negara A.

Di pihak lain, Negara B punya kepentingan untuk mempertahankan suplai emas dari wilayah yang memiliki cadangan emas tunggal terbesar di dunia. Tiga juta kilogram emas bukanlah jumlah yang main-main….lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas mata uang mereka sehingga mereka bisa melanggengkan proyek-proyek intervensi di seluruh dunia yang tentu saja harus dibiayai oleh mata uang mereka. Btw, proyek-proyek intervensi yang mereka lakukan itu tidak lain dan tidak bukan adalah juga untuk melanggengkan kepentingan dari korporasi-korporasi mereka yang sudah berinvestasi politik dan berkontribusi memenangkan rejim yang berkuasa. Sori Jek, nggak ada makan siang yang gratis.

Dan minggu ini, kedua wakil pemerintah negara A dan negara B akan bertemu. Bagi Negara A, perlu dong menaikkan bargain position sehingga prakondisi perlu diciptakan. Statement-statement politik pun perlu ditebarkan dan sipastikan didengar oleh Negara B. Termasuk juga piggy back pada aspirasi-aspirasi original yang sudah bertahun menyuarakan ketidakadilan yang terjadi di Papua sana. Dan semua orang berteriak, bagaikan pahlawan kesiangan. Huh!!

Meja perjudian sudah dibuka. Letakkan kartu masing-masing…Elo punya apa, gue punya apa. Elo bisa kasih apa dan gue bisa kasih apa. Dan kita di negeri liliput ini –seperti biasa– cuman bisa menonton sambil menggerutu. Yang pasti ending cerita ini tidak akan menjadi sesuatu yang meng-hhapy-kan. Dan seperti saya tulis di awal tulisan ini, tidak akan ada kejadian luar biasa pasca gonjang ganjing Freeport kali ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s