a commuter’s stories

Bus Patas AC vs KA Ekonomi

Keistimewaan berkomuter dengan bus Patas AC dan KA Ekonomi adalah di kedua tempat itu kita bisa mendengarkan musik dan lagu. Live. Bedanya, kalau KA Ekonomi menyajikan grup musik genjreng yang kadang dilengkapi soundsystem yang dentum basnya bisa membuat kita melirik dada kita (kalau-kalau degup jantung kita sampai menonjol-nonjol keluar –seperti di film kartun), maka bus Patas AC menyajikan pemusik tunggal bergitar yang suaranya cukup layak dengar. Satu lagi bedanya, di KA Ekonomi kita akan mendengar lagu-lagu hits terkini –Peter Pan, Radja, Dewa dkk lah. Sementara, di bus Patas AC kita akan mendengar lagu-lagu ABG (Angkatan Babe Gue) yang meninabobokkan. Walaupun berkomuter dengan KA Ekonomi lebih “menyengsarakan” dibandingkan dengan bus Patas AC (maklum lah KA Ekonomi tak ber-AC dan tak jarang membuat betis pegal bila nggak dapat tempat duduk), namun demikian ada beberapa hal yang membuat KA Ekonomi bisa lebih menawarkan excitement dibandingkan dengan bus Patas AC. Di bawah ini beberapa contohnya.

Shop til you drop

KA Ekonomi adalah toserba on rail. Berbagai jenis minuman, makanan dan buah-buahan merupakan komoditi yang sudah lumrah kita temui. Selain itu,  disini bisa kita dapatkan berbagai jenis barang yang seringkali kita butuhkan dalam kondisi-kondisi darurat. Peniti misalnya. Atau super glue (kalau tiba-tiba sol sepatu kita mangap), jarum, benang, kancing, gunting kecil, pinset, jepit….you name it. Sumbu kompor minyak tanah? Ada. Buku gambar anak-anak, kamus, panduan sholat dan doa-doa? Lengkap. SIM card? Mau kartu As-TELKOMSEL atau yang lain? Bahkan, bila mata kita cukup jeli, kita bisa menemukan anting-anting atau asesoris lain yang sama dengan yang kita lihat di department store ternama. Bedanya, kalau disana harganya bisa puluhan ribu rupiah, di toserba berjalan ini kita bisa menukar barang tersebut dengan uang lima ribu rupiah saja.

Karaoke dengan iringan musik hidup =P

Satu hal lagi yang cukup menakjubkan, ternyata kita bisa request lagu pada grup musik genjreng, dan bahkan ikut bernyanyi. Seperti malam itu. Dua orang teenagers perempuan di sebelahku sudah mulai bisik-bisik ketika grup musik genjreng menyiapkan show mereka. Rupanya, ada seorang pemain gitar yang mereka incar, teenager juga. Seperti biasa, bas-gitar listrik (pakai accu) dan drum seadanya mereka letakkan di tengah gerbong, sementara beberapa orang pemain gitar akustik akan bermain dan bernyanyi sambil berjalan mondar-mandir. Bagus juga, jadi semua orang di sepanjang gerbong bisa menikmati musik mereka. Setelah 2 lagu mereka sajikan, si pemain gitar diincar –yang juga menjadi jubir dari grup musik ini—menyampaikan, “Baiklah, lagu tambahan dari Keris Patih ini untuk mbak-mbak yang disana” sambil menunjuk si teenagers. Dua hal mampir di pikiranku. Satu, kapan itu teenagers requestnya ya? Dua, Keris Patih tuh yang mana ya? Baru ketika mereka mainkan, di dalam hati aku berkata ‘oooh yang ini tho lagunya’ –sambil menggerutu karena suara kedua teenagers yang ikut bernyanyi itu sama sekali nggak merdu. Dan setelah selesai lagu Keris Patih dimainkan, si teenagers memberikan seribuan ke tangan si gitaris yang datang menghampiri dan tak lupa si gitaris menyapa, “Besok pulang jam segini lagi mbak?”. Yang disapa menjawab sambil senyum-senyum simpul, “Tungguin  aja besok”. Aku sampai tersenyum geli sendiri dibuatnya. Itulah enaknya jadi teenagers…flirting terusssss….tanpa beban =P

Manggarai

Ngobrol dengan teman seperjalanan mungkin bukan hal yang unik. Tapi mendapatkan partner ngobrol yang merepet terus sepanjang perjalanan, mungkin bukan everyday’s experience. Hanya beberapa saat sejak aku menempatkan tulang ekorku di bangku KA pagi itu, si ibu di sebelah sudah menepuk lututku dan langsung merepet tanpa kutanya. Untung mood-ku sedang bagus, jadi kuladeni ‘percakapan’ sepihak ini. Kudengarkan dia bercerita dengan logat Betawi yang kental dan dengan volume suara yang nggak bisa dibilang pelan. Mulailah dia bercerita soal lelaki muda yang berdiri di dekat pintu KA tak jauh dari tempat kami duduk (btw, she really made sure that the guy heard what she was saying), bagaimana dia tak sengaja menginjak kaki si pemuda, bagaimana dia sudah meminta maaf namun si pemuda masih menggerutu, dan itu membuatnya sebal. Cerita dilanjutkan dengan infotainment bahwa si pemuda itu ‘anak baru’ yang lagi ‘belajar jadi preman’ di Manggarai. Dan informasi lain tentang keluarganya yang merupakan satu dari segelintir keluarga Betawi-Manggarai asli tersisa yang masih tinggal disana. “Keluarga saya assssli Manggarai, kagak dari mane-mane”. “Belon tau die!” Katanya menegaskan. Lalu informasi lain meluncur dengan lancar, bahwa dia punya warung nasi di stasiun Manggarai (btw, dia menawarkan aku untuk mampir kalau pas lagi ke sana), bahwa semua preman dan pedagang asongan disana kenal padanya (memang aku lihat beberapa pedagang asongan yang lewat menyapanya dengan akrab), bahwa dia punya rumah kontrakan di Depok (pagi itu dia mau menagih sewa kontrak). ”Empat pintu”, katanya. “Lumayan untuk nambah-nambah, kan saya janda, suami udah meninggal”, katanya lagi. Bla bla bla dstnya dsbgnya. Dan saat itu baru kusadari kesalahanku selama ini, bahwa penyebutan kata Manggarai bukanlah [mang-ga-ray] seperti yang selama ini kuucapkan, melainkan [mang-ga-ra-i] dengan penyebutan ‘i’ yang jelas. Itulah pronunciation yang benar berdasarkan kaidah bahasa Betawi yang baik dan benar, seperti yang selalu diucapkan si ibu ‘the last of the Manggaraian Betawis’ itu.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s