aretha and ray

Kemarin malam, di kereta api ekonomi dari Bogor, ada 4 orang tuna netra mengamen. Keempatnya memainkan 4 jenis alat musik yang berbeda, yaitu gitar, ukulele, gendang kecil dan ‘kecrekan’ (apa deh tu namanya? lupa aku). Walaupun cacat, mereka tetap bekerja semampu mereka to make a living.

Pemandangan ini mengingatkanku pada film yang kutonton hari Minggu yang lalu. Saat itu aku terperangkap hujan di rumah seorang kawan dan dengan terpaksa menghabiskan separuh pagi dan separuh siang di depan TV.

Hari itu kami menonton Ray, sebuah film yang bercerita tentang kehidupan legenda jazz Ray Charles di awal masa kejayaannya. Ray sangat beruntung karena memiliki Aretha, seorang ibu yang powerful, bukan dalam arti fisik namun tough, punya prinsip hidup dan memiliki cita-cita besar bagi anak-anaknya. Aretha adalah buruh cuci di suatu komunitas kulit hitam di daerah pertanian di selatan Amrik sana (lupa aku di negara bagian mana). Walaupun miskin Aretha menanamkan bibit dignity kepada anak-anaknya. Ditunjukkan bagaimana Aretha mendamprat orang yang berusaha membohongi mereka, hanya karena mereka miskin. Dia bilang, “Di luarnya pembohong, di dalamnya pencuri”. Aku suka banget dengan quote ini.

Terlebih lagi ketika Ray mengalami kebutaan. Aretha lah yang mendidik Ray untuk jadi anak yang tough, pantang menyerah dengan kekurangannya dan menunjukkan jalan bagi Ray untuk menemukan kelebihannya. “Jangan kau kira dengan kebutaanmu orang menjadi kasihan kepadamu”. Itu yang selalu Aretha katakan kepada Ray.

Aretha juga sangat percaya bahwa pendidikan yang baik akan membawa masa depan yang lebih baik pula. “You may be blind, but you ain’t no fool”, begitu yang ditanamkan Aretha kepada Ray. Hasil didikannya menjadikan Ray seorang yang sangat determined, kukuh pada pendirian dan punya cita-cita besar –terlepas bahwa Ray kemudian terjebak drugs addiction.

Aku suka film ini karena sangat humane, memaparkan berbagai sisi dari kehidupan Ray Charles (yg btw, nama sebenarnya adalah Ray Charles Robinson dan karena alasan marketing diusulkan untuk memakai saja Charles sebagai nama belakangnya). Digambarkan bagaimana kejeniusan Ray Charles yang selalu bereksperimen dengan musik soul yang diusungnya. Mulai dari menggabungkan musik soul dengan gospel (yg dihujat oleh kalangan gereja sebagai musik setan karena dianggap merusak kesucian gospel), musik soul dengan orkestra kamar dan choir, sampai musik soul dengan musik country. Ditunjukkan juga keberpihakan Ray Charles pada gerakan anti rasialisme yang di tahun 1950-an masih sangat mendominasi society di Amrik (dengan cara menolak tampil di Georgia karena negara bagian tersebut menerapkan racial seggregation, termasuk ketika menonton pertunjukan musik –kulit putih di depan panggung, kulit hitam di balkon). Kebutaan juga membuat Ray Charles memaksimalkan inderanya yang lain –dia dikenal punya pendengaran dan ingatan yang sangat tajam.

Ray Charles adalah orang yang beruntung, karena dia memiliki Aretha yang mendidiknya dengan sangat briliant dan menjadikannya sorang legend.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s