lilliput stories

*warga baru baranang siang*

Malam itu kembali aku berkomuter menggunakan bus PATAS AC jurusan Bogor-Jakarta dari terminal Baranang Siang. Sambil menunggu bus penuh dengan penumpang aku nguping pak supir yang sedang asyik mengobrol dengan kondekturnya, menggunakan bahasa Sunda. Tinggal di Bandung selama hampir 5 tahun tidak serta merta menjadikanku orang yang fasih berbahasa Sunda, namun sedikit-sedikit bisa lah aku paham apa yang sedang mereka perbincangkan, biasa…problem harga BBM versus persaingan versus setoran.

Tak lama, terjadi sedikit keributan di luar bus. Sepasang suami istri setengah baya rupanya sedang kebingungan merespon ‘tawaran’ bertubi-tubi para kondektur dan calo bus yang dengan sok akrabnya menarik-menarik tas si ibu supaya menaiki bus-bus tertentu. Mungkin karena bingung, akhirnya mereka pergi menjauh, entah kemana. Kuperhatikan pak supir dan mang kenek tertawa-tawa meliat kejadian itu sambil berseloroh, “…warga baru…”. Kutanya kepada mang kenek, apa maksudnya. Dia menyahut, “Iya, itu bapak-bapak ama ibu-ibu…warga baru…nggak tau mau naik apa…hahahaha….”

Lesson number one: di dunia liliput, setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. If you’re cheated it’s because you are stupid (hiks…ingat pengalaman di Bromo).

*berebut petai*

Sehabis bermalam di daerah Halimun sana untuk urusan kerjaan, pagi-pagi sekali aku sudah bergerak ke Bogor. Di angkot yang kunaiki, ada seorang bapak yang nampaknya mau menjual hasil buminya ke pasar. Petai, berikat-ikat, hampir memenuhi bagian belakang angkot. Sesampainya di pasar Jasinga, kabupatem Bogor, tiba-tiba seorang laki-laki melompat ke dalam angkot dan langsung memeluk beberapa ikat petai. Tak lama, dua orang ibu ikut meringsek naik dan langsung merebebut beberapa ikat lainnya. Belum hilang kagetku, dua orang ibu lain ikut naik dan terlibat tarik-menarik petai dengan ibu yang sudah duluan memeluk petai-petai itu sambil berteriak-teriak. Takjub aku dibuatnya. What is happening by the way? Helloooo?? Kucolek-colek ibu-ibu yang sedang berebut itu, dicuekin, padahal aku takut sekali dia terjatuh karena angkotku sama sekali tidak berhenti.

Akhirnya pertunjukan itu berakhir dengan seruan keras si bapak penjual yang intinya berkata, “Sudahlah…nanti kita bagi-bagi saja” –dalam bahasa Sunda gaya Banten. Si supir angkot yang kutanya memberikan penjelasan yang intinya adalah bahwa sedang terjadi ketidakseimbangan supply dan demand petai, sehingga komoditas ini menjadi unggulan para pedagang di pasar =P

Lesson number two: di dunia liliput, tidak ada konsesi dan privilege. If you are left behind it’s because you don’t have the guts.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s