homesick dan global warming

Nggak tau kenapa, dalam perjalanan kerja yang lalu aku ngerasa homesick. Padahal perjalanan itu cuma setengah bulan. Biasanya, sebulan, bahkan tiga bulan aku jalanin tanpa beban. Kangen rumah juga sih kadang-kadang, atau kalo kebetulan inget (heheheh…buat orang rumah, jangan marah yee…). Maka, ketika menginjak bandara Cengkareng, kakiku langsung mengarah ke resto yang menyajikan mie bakso dan teh botol, padahal aku sih gak suka-suka amat sama bakso.

Perjalanan kali ini juga kembali membuka mataku bahwa di jaman mengglobalnya informasi –dimana seolah dunia tanpa batas– masih banyak juga orang yang narrow-minded, berpikir hanya untuk dirinya sendiri. Solving their problems with problems (for someone else). Krisis energi global (terutama fossil fuel) serta ancaman perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming) memaksa negara-negara industri untuk mencari sumber energi alternatif dan ‘terbarukan’. Salah satunya adalah energi berbasis tumbuh-tumbuhan, seperti minyak sawit, minyak kedelai, atau minyak jarak (seperti yang sedang coba dikembangkan di Afrika seluas 9 juta hektar! can you imagine?). Padahal, pengembangan komoditas ini dilakukan dengan cara menebang habis hutan (dalam skala ribuan hektar), mengusir masyarakat lokal dari tanahnya dan menghilangkan habitat orangutan, gajah, dll. Tak jarang hewan-hewan ini masuk dan merusak kebun-kebun masyarakat dan cerita berakhir tragis dengan dibunuhnya hewan-hewan tak berdosa tersebut. Cerita serupa bisa juga didengar dari negara-negara Amerika Latin sana.

Dan masyarakat negara industri tidak juga sadar dan berupaya menurunkan level konsumsi mereka. Alih-alih, demand terus diciptakan sehingga ecological footprints (jejak ekologis eksploitasi) mereka di negara-negara berkembang semakin besar. Dan posisi negara-negara ini sejak jaman kolonial dulu tak berubah, yaitu terus menjadi supllier raw materials bagi proses industrialisasi di belahan bumi lainnya.

Dan menjelang kepulanganku ke Indonesia, kudengar berita bahwa sedang terjadi banjir besar di beberapa negara Eropa. Tapi “sialnya”, banjir ini justru terjadi di negara-negara Eropa Timur yang relatif “miskin”. Bukannya aku berharap bahwa banjir besar terjadi di negara-negara Eropa yang relatif lebih kaya, yang level konsumsinya gila-gilaan lho…tapi kadang orang tidak pernah belajar dengan benar jika tidak langsung mengalami dampak aktifitasnya. Seperti kita?

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s