silas the victim

Malam minggu kemarin menonton film DaVinci Code bersama temanku dan suaminya. Pesanku bagi mereka yang ingin menonton film ini, sebaiknya baca dulu bukunya sebelum menonton, karena akan banyak detail yang cukup membingungkan dan hanya dapat dipahami konteksnya jika kita sudah membaca tuntas bukunya. Belum lagi banyak subtitle yang hilang (atau dihilangkan?) dan simplifikasi terjemahan kata ‘pagan’ atau ‘paganism’ sebagai ‘penyembah berhala’ yang buatku sungguh mengganggu.

Anyway, aku tidak ingin berkomentar tentang estetika film ini atau bagaimana acting Tom Hanks dan Tautou atau nilai religiositas yang terkandung dalam film ini. Aku cuma ingin menyoroti fenomena yang digambarkan dalam film ini dan kaitannya dengan kondisi terkini di Indonesia.

Dalam film ini digambarkan keganasan seorang ‘algojo’ bernama Silas yang tanpa tedeng aling-aling membunuhi semua orang yang dianggap sebagai musuh dari apa pun yang dia percayai sebagai yang benar. Sounds familiar, bukan?

Yah, dalam permainan apa pun, banyak sekali pion-pion yang direpresentasikan oleh orang-orang seperti Silas. Orang-orang berpikiran sederhana, yang tidak berharap apa pun selain keridho-an Tuhan. Tidak berharap apa pun selain surga Tuhan. Tidak berharap apa pun selain pengampunan mutlak dari Tuhan. Dan orang-orang semacam ini banyak…kuulangi, BANYAK SEKALI di Indonesia ini. Orang-orang yang dengan pikiran sederhananya telah dengan semena-mena dimanfaatkan oleh para aktor di balik layar, the playmaker, untuk mewujudkan apa pun yang diinginkan oleh si playmaker. Orang-orang yang dengan pikiran sederhananya taklid terhadap apa pun yang diperintahkan oleh Sang Guru –apa pun penamaannya (imam, ustad, dllsbgnya)– dan percaya sepenuhnya bahwa titah Sang Guru adalah titah Tuhan. Orang-orang yang dengan pikiran sederhananya mau melakukan apa pun, bahkan menyiksa dirinya dan memberikan nyawanya, demi ridho Tuhan, surga Tuhan, ampunan Tuhan, seperti yang didengung-dengungkan oleh Sang Guru.

Dan ketika dogma sudah berbicara, rasa kemanusiaan dan logika menjadi tidak signifikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s