kenapa harus nuklir?

Industri nuklir sedang berupaya untuk bangkit kembali. Dengan mendompleng isu pemanasan global dan perubahan iklim yang telah menjadi keprihatinan masyarakat dunia, industri nuklir sedang melakukan konsolidasi global dan secara diam-diam dan rahasia berusaha mempengaruhi elit politik dan pengambil kebijakan di berbagai negara, terutama negara berkembang, untuk mendorong penggunaan nuklir di negara-negara tersebut.

Industri nuklir juga mendompleng (piggyback) sentimen nasionalisme dan kedaulatan bangsa-bangsa (terutama yang pernah menjadi bangsa terjajah) dengan isu ‘rights to development’ atau ‘rights to technology’ dengan berbagai slogan semacam ‘nuclear for peace’ atau ‘penggunaan nuklir untuk tujuan damai’. Padahal menurutku, dalam konteks Indonesia, sentimen ini terdengar absurd dan menggelikan. Coba kita tanya pada diri kita, apa iya kita masih punya kedulatan?? Wong ‘bumi, air dan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya’ itu sudah menjadi milik orang lain kok. Kita-kita ini cuman jadi host aja. Terserah para tamu lah mau melakukan apa pun di rumah kita. Wong sejatinya semuanya udah tergadai dan kita ini pada akhirnya cuman ketempatan saja. Jadi tempat hajatan. Hajatannya siapa juga nggak jelas. Yang jelas, kita akan kebagian mencuci piringnya dan beres-beres rumah yang jadi berantakan pasca hajatan.

Dan sayangnya, kecenderungan pemerintah kita –dan sebagian masyarakat– adalah mengiyakan propaganda ini dan secara sadar maupun tidak sadar telah masuk di dalam perangkap propaganda industri nuklir.

Rupanya mereka lupa peristiwa Chernobyl 20 tahun yang lalu, atau Threemiles Island, dan berbagai kecelakaan nuklir lainnya. Padahal, berbeda dengan negara lain yang tidak memiliki sumber-sumber energi lain (sehingga ‘terpaksa’ memanfaatkan teknologi nuklir), Indonesia sangat kaya dengan sumber-sumber energi yang terbarukan (renewable energy), lebih bersih, dan lebih penting lagi lebih aman. Apa iya kita lupa dimana kita tinggal? Masih ingat ‘Pacific Ring of Fire’? Masih ingat ‘pertemuan lempeng-lempeng besar bumi’?

Hanya orang-orang yang mengamini tujuan-tujuan politis (dan bisnis) sesaat dan melupakan hidup generasi yang akan datang sajalah yang bersedia ‘membeli’ propaganda industri nuklir tersebut. Apalagi kalau ‘jualannya’ dikait-kaitkan dengan agama. Apa iya semua yang berbau Timur Tengah itu sama dengan Islam? Are we that naive? Are we that stupid?

Cuma kita semua yang bisa menjawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s