sekali lagi da vinci code

Sekali lagi aku ingin membicarakan Da Vinci Code, namun tidak dalam konteks teologis atau religi atau pun kontroversi yang ada dalam buku dan film tersebut, karena aku bukan ahlinya. Aku ingin berefleksi –yang didorong oleh kolom yang ditulis oleh Romo Magnis Suseno di suatu majalah berita mingguan nasional terbitan terkini yang baru saja kubaca.

Aku kagum membaca tulisan Romo Magnis yang mencerminkan kedewasaan dan membawa pesan perdamaian despite segala kontroversi yang ditulis oleh Dan Brown dan dimunculkan dalam film, yang by the way memang cukup menghina jika kita memiliki empati kepada umat Kristiani. Romo Magnis pun terlihat tidak ter-provoke oleh tulisan yang tercantum di suatu harian nasional yang berhaluan Islam konservatif yang berkomentar dan intinya sepakat dengan ‘teori konspirasi a la Da Vinci Code’.

Seharusnya di dalam kondisi yang sensitive semacam ini, semua umat beragama di Indonesia sebaiknya menahan diri dan bukannya melakukan hal-hal yang secara langsung maupun tidak langsung justru dapat menyulut pertikaian diantara kita –sesama penduduk nusantara. Membaca pertanyaan Romo Magnis “Apakah hanya umat Islam saja yang berhak marah bila agamanya dihina?” sungguh telah membuatku –sebagai orang Islam– malu hati.

Menurutku, justru dengan menulis hal-hal yang bisa menyulut tersebut, umat Islam sebagai kelompok mayoritas sudah berbuat zalim dan sewenang-wenang terhadap saudara kita sebangsa dan setanah air yang berbeda keyakinan. Padahal, di dalam Al-Quran disebutkan “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” –yang mungkin bisa diartikan sebagai toleransi atau co-eksistensi (sama-sama eksis tanpa saling mengganggu).

Malahan menurutku, membaca dan menonton film ini, bukan umat Kristiani saja yang seharusnya dan sewajarnya tersinggung. Umat Islam pun sewajarnya tersinggung, karena by the way, Yesus Kristus a.k.a Nabi Isa Alaihissalam (satu diantara 25 Rasul yang tercantum dalam Al-Quran yang WAJIB hukumnya dihormati oleh umat Islam), di dalam buku dan film ini dinyatakan memiliki anak –suatu hal yang juga bukan kepercayaan mainstream di dalam agama Islam. Bahkan, sehabis menonton film ini aku jadi penasaran dan ingin melakukan pencarian di Al-Quran atau kitab-kitab lainnya untuk menjawab pertanyaan “Apa iya Nabi Isa punya anak?”.

Sudah saatnya kaum-kaum yang tidak mau sadar dan menerima fakta diversitas atau keragaman yang ada di republik ini membuka mata dan hatinya bahwa INDEED our society is multi multi. Ya multi ras, multi kultur, multi religi. Let it be. Jangan coba-coba untuk meng-kelir-nya jadi satu warna, karena itu mengingkari sunatullah.

Wallahu a’lam bissawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s