bukan pada umumnya

Baru selesai membaca buku Paul Arden “Whatever You Think, Think the Opposite”. Di dalam buku ini si Mr. Arden menjelaskan dalam bahasa kata dan gambar yang lugas bagaimana cara berpikir yang ‘seperti biasanya’ akan menghasilkan sesuatu yang juga ‘biasa’ saja. Lihat lah salah satu slogan yang ada di buku ini: ‘The Benefits of Making Bad Decisions’. Provoking, isn’t it? Aku suka buku-buku semacam ini, yang mencoba orang untuk berpikir atau bertindak secara tidak biasa, seperti juga buku Malcolm Gladwell “Blink” yang punya slogan ‘The Power of Thinking without Thinking’. Dare to be different itu yang seringkali bisa mendorong ide-ide kreatif dan penemuan-penemuan besar.

Tentu saja setiap orang, terutama para praktisi, punya basis argumentasi masing-masing dalam menelurkan teorinya. Dan sah-sah saja bagi praktisi lainnya untuk mengemukakan teori yang berbeda ataupun berlawanan dengan teori yang telah dipaparkan oleh seorang praktisi sebelumnya –seperti halnya buku yang kulihat di salah satu toko buku yang berjudul ‘Think!’. Sub-judulnya berbunyi (kalau nggak salah): Why Decisions Can’t be Made in A Blink of Eyes’. Mungkin buku ini memaparkan antitesis dari bukunya Mr. Gladwell. Yah, memang demikianlah ilmu pengetahuan berkembang dan berevolusi. Ada thesis, ada antithesis dst dst. Proses dialektika, kata orang-orang.

Kembali pada topik di paragraf pertama di atas, aku teringat obrolan-obrolanku dengan seorang teman cowok jaman kuliah dulu, yang memang rada suka ‘bergunjing’ dan ember…hehehe. Dulu, bila melihat cewek-cewek korban mode (atau secara positif bisa dibilang sebagai cewek-cewek yang selalu update dengan trend terbaru) dia pasti akan berkomentar “CPU..CPU..” kependekan dari Cewek Pada Umumnya. Hal serupa pernah pula dilontarkan oleh seorang teman cowok yang lain, yang kebetulan orang asing. Dia menyatakan keheranannya karena menurut dia perempuan-perempuan Indonesia yang dilihatnya suka sekali tampil ‘seragam’. Kala itu kukatakan (dengan semangat ‘jelek-jelek, negeri sendiri’ =P) bahwa fenomena semacam ini bukan hanya terjadi di Indonesia tapi pasti terjadi di negara dia juga. Pun fenomena semacam ini tidak hanya terjadi di kalangan perempuan, tapi juga laki-laki. Ingat fenomena ‘rambut Beckham’?

Namun, harus aku akui bahwa orang Indonesia secara umum memiliki ‘kemampuan’ (atau kemauan?) mengikuti trend yang melebihi ‘kemampuan catching up’ orang-orang bangsa lain. I am not talking about the fashion-nista lho, karena mereka, di negara mana pun berada, pasti akan selalu trendy. Here I am talking about the ordinaries. Dan ini tidak hanya terbatas pada mode dan fashion, tapi hampir di semua hal, mulai dari gadget elektronik sampai kue donat. Apa pun yang baru di Indonesia (atau ini hanya fenomena di Jakarta saja?) pasti diserbu dengan gegap gempita.

Temanku seorang Indonesia yang pindah dan sekarang berdiam di Eropa pernah merasa malu hati karena dia yang berasal dari negara ‘miskin’ ternyata punya handphone yang lebih trendy dibandingkan handphone rata-rata orang Eropa. Yah, mungkin memang kita masih berada di peradaban ‘judge the book by its cover’. Itu lah sebabnya masyarakat kita menjadi target pasar yang amat sangat potensial sekali. Seperti kata salah satu iklan telepon selular, ‘kalo semua pakai ******* kenapa harus beda?’….ketinggalan jaman banget deh ‘lo!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s