balada ojek

Ojek adalah the most favorite transport buat aku yang tinggal di Jakarta yang super sibuk ini. Ojek adalah alat transport yang cukup reliable –cepat, anti macet, dan konsumsi energi per orang per kilometernya relatif kecil (dibandingkan dengan mobil lho…). Dari kantorku (yang berada cukup di tengah kota) ke arah mana pun di Jakarta ini bisa ditempuh dengan waktu maksimal 30 menit.

Dalam pikiranku, tukang ojek adalah orang yang paling tahu jalan-jalan di Jakarta ini. Oleh karenanya seringkali aku tinggal menyebutkan tujuanku dan si abang ojek langsung melesat –kadang menempuh rute aneh yang sama sekali baru buatku, juga bonus some adventure seperti melawan arus kendaraan =P

But that’s not always the case. Ternyata ada juga abang ojek yang agak kuper, kurang jam terbang, dan perlu banyak latihan. Misalnya saja dulu, ketika aku minta si abang ojek membawaku dari stasiun kereta di Kalibata ke Blok M. Dengan pede-nya si abang melesat, lewat jalan-jalan kecil –yang instead of mempercepat waktu malah justru memperlama. Dan akhirnya di suatu persimpangan jalan, kebingunganku terjawab: “…belok kiri atau kanan, mbak??” Wuaaaahhhh….mangkelnya…Dengan kesal kukatakan bahwa seharusnya dia bilang kalau enggak tahu jalan. Ingin rasanya kusuruh dia pindah ke belakang dan aku yang mengendarai sepeda motornya. Untung saja aku enggak bisa nyetir motor!

Kejadian serupa terjadi beberapa hari yang lalu, ketika aku punya janji untuk bertemu teman-temanku after hours di satu mall baru di kawasan Sudirman. Belajar dari pengalaman sebelumnya, ada beberapa step yang kulakukan sebelum naik ke boncengan. Pertama, sebutkan dengan cukup detail lokasi yang akan kita tuju. Kedua, tanyakan apakah si abang tahu tempatnya. Ketiga, tanyakan apakah dia tahu jalan menuju kesana; bila iya, Alhamdulillah, bila tidak, maka siap-siaplah memberikan instruksi kepadanya sepanjang perjalanan.

Tapi, walaupun “protocol” di atas sudah dilakukan, dan si abang berkata bahwa dia tahu lokasi dan jalan menuju kesana, ternyata kadang itu tidak sepenuhnya benar. Dan dalam perjalanan menuju Sudirman itu kualami berputar-putar di sekitar Kuningan dan ditilang polisi akibat si abang ojek nyelonong ke jalur cepat di Semanggi.

Sejak malam itu, protocol perojekan pun berubah. Pertama, instruksi. Kedua, instruksi. Ketiga, instruksi.

1 Comment

  1. Hehehe.. bener banget ulasan elo ttg ojek perojekan jek..
    Maksud hati mo cepet malah dapet mangkel hati..

    Ada satu faktor lagi yang kadang nyurutin niat gw buat naek ojek yaitu soal tarif. Kalo kita tau brapa tarif untuk ke lokasi yang kita kenal baik tentu ga masalah. Tapi kalo kita ga tau sama skali tu daerah? Yang ada dikadalin deh kita harus bayar lebih mahal (even dari taksi) ke itu tukang ojek.

    Jadi gw nambahin protokol elo nomer 4 adalah tanya tarif & tawar.. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s