lebaran yang aneh

Lebaran tahun ini adalah lebaran teraneh sepanjang ingatanku. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk pertama kalinya keluargaku enggak kompak merayakan lebaran. Kelihatannya masing-masing ingin mempraktikkan ijtihad berdasarkan keyakinan masing-masing.

Ini semua berawal dari merebaknya perbedaan pendapat soal kapan lebaran akan berlangsung di kalangan beberapa golongan ulama. Kalangan Muhammadiyah sejak jauh-jauh hari meyakini bahwa lebaran akan jatuh pada tanggal 23 Oktober (Hari Senin). Sementara itu pemerintah menyatakan untuk menunggu keputusan ulama yang akan melihat terbitnya bulan baru pada malam menjelang tanggal 23 Oktober.

Dan ketika pada malam tanggal 22 Oktober para ulama menyatakan belum melihat bulan baru, pemerintah memutuskan bahwa lebaran jatuh pada tanggal 24 Oktober (Hari Selasa). Tapi pada saat yang sama, sekelompok ulama di sekitar Cilincing(?) menyatakan sudah melihat bulan baru, demikian tayangan di televisi juga menyatakan.

Dan malam itu dibuatlah berbagai keputusan di keluargaku. Kedua orang tuaku memutuskan untuk berlebaran pada tanggal 23 Oktober. Bukan mengikuti Muhammadiyah, tapi karena mereka meyakini ulama yang menyatakan telah melihat bulan baru. Adikku dan sepupuku yang kebetulan sedang berlibur di rumah menyatakan untuk ikut pemerintah saja. Kalau pemerintah salah dan kita berdosa karena berpuasa pada hari yang seharusnya menjadi hari raya, biarlah Presiden SBY yang menanggung dosanya…demikian kata adikku.

Lucunya, tanggal 23 pagi adikku mendapat telepon dari seorang teman yang entah bagaimana berhasil mengubah keyakinannya bahwa memang tanggal 23 ini sudah masuk sebagai hari raya, thus diharamkan bagi kita berpuasa. So, satu keputusan aneh kemudian dibuat oleh adikku: membatalkan puasanya pada tanggal 23 tersebut namun baru akan sholat Id pada tanggal 24 (berhubung sudah terlambat untuk sholat di tanggal 23). Keputusan aneh ini pun tak lupa ‘disosialisasikan’ ke saudara-saudaraku yang lain sehingga  mereka membatalkan puasa di tanggal 23 dan berlebaran di tanggal 24.

Lain lagi dengan sepupuku. Keyakinannya tidak tergoyahkan dan dia memutuskan untuk terus berpuasa di tanggal 23 dan berlebaran di tanggal 24. Tetanggaku lain lagi. Dia dan keluarganya memutuskan untuk berlebaran di tanggal 24 dengan alasan belum siap berlebaran di tanggal 23 –ketupat belum matang dan lauk-pauk belum tersedia. Nggak ada hubungannya dengan bulan baru, ijtihad, or whatsoever.

Aku sendiri enggak ambil pusing kapan seharusnya lebaran dan cuma bisa ketawa-ketawa saja melihat kehebohan dan kebingungan yang terjadi, karena seperti 4 tahun sebelumnya, lagi-lagi lebaran terpaksa harus kurayakan tanpa bisa melakukan ibadah sholat Id.

Cherish the diversity!

2 Comments

  1. papa mamaku + adikku di ponty ngerayain lebaran tanggal 23; kakakku sekeluarga tanggal 24; keluarga depok pilih ikut pemerintah, tanggal 24; aku lebaran tanggal 24; tapi suami udah ga puasa tanggal 23. dan kita sama-sama sholat ‘id tanggal 24 di depok……tuhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s