mendung

Seorang temanku bertanya kenapa aku membenci mendung. Well, banyak sebabnya –practically dan emotionally. Practically, cuaca mendung itu menimbulkan kebingungan – apakah harus membawa payung atau tidak, misalnya. Atau, harus membawa jaket atau tidak. Sepele nampaknya tapi seringkali dipilir-pikir, terutama oleh orang seperti aku yang selalu naik kendaraan umum dan suka malas membawa gembolan tambahan.

Emotionally, cuaca mendung menimbulkan rasa malas. Bila situasi emosi sedang tergangganggu rasa malas ini bisa berubah menjadi melankolik, dan bahkan even menimbulkan ke-bitchy-an. Cuaca mendung juga menimbulkan ketidakjelasan, hujan enggak, terik juga enggak. Yang jelas, bila cuaca mendung hawa menjadi panas dan gerah –ya karena memang pada peristiwa perubahan uap air menjadi air terjadi pelepasan panas. Dan hawa yang gerah ini amat sangat tidak nyaman, iya nggak?

Coba tengok ke langit malam dan pandangi awan mendung cumulonimbus yang menggantung. Scary, huh? Kadang kurasakan awan tebal itu seolah mau menelan kita yang ada di bawah.

Entah kenapa, cuaca tanpa matahari membuatku kehilangan semangat. Suasana yang remang-remang bagaikan di twilight zone sungguh tidak mengenakkan. Tidak mengherankan di Swedia sana, yang hanya disinggahi matahari beberapa bulan dalam setahun, tingkat kematian akibat bunuh dirinya menduduki peringkat tertinggi di dunia. Siapa yang enggak depresi? Nggak ada matahari, dingin, nggak bisa kemana-mana. Kalaupun mau pergi ke luar rumah, ribet bener jadinya, karena harus pake segala macam perlengkapan tambahan –sweater, jaket, scarf, kupluk, sarung tangan, kaos kaki tebal, sepatu boot anti slip, itu yang standar.

Beberapa hari terakhir ini aku berdoa agar hujan segera turun. Tidak perlulah lebat, cukup sekedarnya agar sedikit dingin bumi dibuatnya. Tapi, akibat fenomena pemanasan global yang memicu terjadinya perubahan iklim, kita harus mengalami musim panas dan kering yang berkepanjangan, dan musim hujan yang periodenya semakin pendek namun dengan intensitas yang tinggi. Maka dalam beberapa bulan ke depan, bisa dipastikan akan banyak terjadi peristiwa hujan super lebat, banjir bandang, tanah longsor. Pertanyaannya sekarang, sudah siapkah kita?

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s