virtual sunshine of the crowded mind

Ini bukan sequel film Eternal Sunshine of the Spotless Mind, walaupun judul di atas memang terinspirasi dari judul film yang bagus banget itu. Dalam kehidupan kita sehari-hari kita selalu didera berbagai permasalahan yang seringkali membuat otak kita penuh dan butek; mulai masalah dalam keluarga, masalah di tempat kerja, masalah pergaulan dan kehidupan social, dll dll. Kalau otak diibaratkan hard disk, dapatlah dibayangkan berapa kapasitas otak yang telah menampung memory dari kehidupan kita sejak dilahirkan sampai saat ini. Untungnya Tuhan menciptakan otak kita sedemikian rupa sehingga otak kita expandable tanpa harus mencabut-dan-memasang seperti layaknya hard disk computer.

Walaupun otak kita expandable, tapi seringkali karena input yang diterimanya terlalu intensed menyebabkan otak kita hang –-bisa akibat ‘processing memory’-nya yang memang lemot dari sononya (masih XT gitu hehe..), atau rate ekspansi ‘data memory’-nya yang tidak sebanding dengan rate ‘data inputting’-nya (tau deh nih bener apa enggak penganalogiannya hehhehe….).

Sayangnya, seperti halnya hard disk komputer, memori otak kita pun bisa dihapus. Makanya orang bisa mengalami amnesia. Nah, itu yang terjadi dalam film Eternal Sunshine of the Spotless Mind –-memori-memori indah tapi terlalu menyakitkan untuk diingat yang berusaha dihapus oleh si empunya, ceritanya.

Dalam Virtual Sunshine of the Crowded Mind, gue ingin berdongeng bahwa kadang otak yang sumpek itu memerlukan mekanisme pelepasan tertentu. Hal ini bisa jadi merupakan satu defense-mechanism, keep-the-mind-in-sane-condition mechanism, safety-net mechanism, ‘steam-releasing’ mechanism, sampai mungkin ke arah fenomena yang agak lebih serius macam gejala awal compulsive-obsessive disorder *dzigghh!!!*

In any way, pada intinya, setiap orang memerlukan sunshine-nya masing-masing. Hal-hal yang bisa membuat kita tersenyum di tengah berbagai kesulitan. Hal-hal yang memberi kita semangat dalam menghadapi hari. Hal-hal yang memberi variasi di tengah rutinitas kehidupan. Atau bahkan tempat kita sejenak melarikan diri dari kehidupan nyata dan berandai-andai menjadi orang lain, misalnya ;p (kalau fenomena ini gue sebut ‘virtual sunshine of the twisted mind’..huehehhe..)

Dan terkadang, a simple ‘Hi’ atau sebentuk ‘smiley’ yang mampir di email-box kita sudah lebih dari cukup untuk menjadi sunshine kita di hari tersebut.

What virtual sunshine do you have today?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s