hypershopper

Sekali lagi gue mau share penglihatan seorang asing tentang Indonesia (dalam hal ini Jakarta). Sering gue bilang sama temen-temen foreigners bahwa Indonesia IS NOT Jakarta. Neither Jakarta is Indonesia. But anyway, dia bilang bahwa at least Jakarta adalah salah satu gambaran tentang Indonesia. Well, whatever lah…kadang mereka memang suka ngeyel.

Seperti temen gue beberapa waktu lalu. Pertama kali dia menginjakkan kaki di Jakarta dan melewati jalan tol Sedyatmo dari bandara, dia heran karena banyak mobil SUV berkeliaran. Nggak lama dia juga liat satu-dua Porsche dan Jaguar. ‘Wow!!!’ dia bilang. ‘Gue pikir Indonesia negara miskin, mengingat Human Development Index-nya cuma ada di peringkat 108, cuma satu peringkat di atas Vietnam’ –dan cukup jauh di bawah Sri Lanka yang di peringkat 93, kata gue dalam hati (can you imagine?). Btw, Human Development Index adalah parameter tingkat kesejahteraan suatu bangsa menurut UNDP –satu badan pembangunan PBB. Gue bilang sama dia, salah sendiri mendarat di Jakarta. ‘I told youuu’ kata gue dalam hati lagi.

Waktu ketemu lagi dengan dia, sekali lagi dia bilang, ‘Wow!!! Gue pikir Indonesia negara miskin, mengingat utangnya bejibun’. Gue bilang sama dia, bahwa waktu utusan pemerintah Indonesia ke Jepang untuk minta dibolehin ngutang lagi, mereka datang ke kantor pemerintah Jepang di sana naik limousine, sementara si pejabat Jepangnya –yang mau diutangin– datang ke kantor naik sepeda.

Hari itu gue nemenin dia jalan-jalan keliling Jakarta. Seperti biasa kalo lagi berperan sebagai guide begini, tempat favorit gue untuk ‘kunjungan wisata’ adalah ITC Ambassador. Apalagi kalo bukan untuk pamer ke mereka tempat jualan DVD bajakan ;p

Seperti bule-bule lainnya, dia senengnya minta ampun. Dia bilang ‘You know, di Londo sono, nyewa satu DVD itu 5 Euro!’ Gue bilang, ‘Well, dengan 5 Euro elo bisa beli 9 DVD –tanpa casing lhoooo…’ Dan gue cuma bisa senyum-senyum aja ngeliat dia yang nyaris orgasmic begitu ngeliat tumpukan DVD seabrek-abrek.

Waktu gue ajak dia ke salah satu plaza, dia berdiri di depan etalase satu butik dan bilang,’Wow!!! Itu kan baju-baju untuk winter. Gue pikir Indonesia negara tropis, hence nggak ada winter gitu lho…’. Gue bilang,’Lho, siapa bilang Jakarta itu panas. Di rumah, elo berselubung AC. Masuk mobil, AC lagi. Nyampe kantor yang di gedung-gedung tinggi mentereng itu, elo akan cukup lucky kalo ruangannya bersuhu di atas 18 derajat Celsius.’ Apparently negara tropis IS NOT equal to hot temperature. Lagian, baju-baju winter itu gaya-gaya lho….Dengan bodohnya dia menjawab,’So you mean people do buy that clothes??!!!’. Gue cuma ngeliatin dia doang dengan cengiran bodoh juga.

Nggak lama kemudian dia bilang, ‘Wow!!! Orang Indonesia kaya-kaya ya…Liat aja, dimana-mana dibangun shopping malls, boutique, dan hyperstore. Dan all of them penuh oleh para belanjanista yang buang-buang duit tanpa berkedip’. Gue bilang, ‘Itulah hebatnya orang Indonesia, nggak pernah malu jadi hypershopper dan berlomba-lomba jadi big-spender walopun pada saat yang sama dimana-mana banyak korban bencana alam yang tidur di tenda-tenda, kedinginan dan kurang makan’.

Dan kali ini dia nggak menjawab. Cape kali dia dengerin gue yang lagi melampiaskan kebitchy-an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s