sego pecel bu sumo

Beberapa hari terkahir ini gue ada di Semarang. Biasa…kerja. Walopun gue udah beberapa kali datang ke ibukota Jawa Tengah ini, baru kali ini lah gue cukup ngerasain denyut nadi kota lumpia. Dulu-dulu palingan gue tinggal sehari and langsung ciao. Ngga cukup waktu untuk benar-benar ngerasain yang namanya tinggal di kota ini.

Semarang sepertinya sudah mencapai level pembangunan yang steady state. Nggak ada terlalu banyak gejolak. Masyarakatnya adem, bahkan cenderung cuek. As long as elo nggak nyenggol, they won’t give you a damn. Mungkin cenderung pragmatis juga. Konon kabarnya jaman reformasi dulu, satu2nya universitas negeri yang meneng-meneng wae ya Undip yang ada di Semarang ini.

Sebagai sebuah kota, menurut gue Semarang cukup livable. Kemana-mana dekat, dan tanpa macet. Angkotnya belum sekurangajar angkot Bogor. Pengendara sepeda motornya pun masih agak lumayan dibandingkan Jakarta –walopun sama-sama males nginjek rem.

Satu hal lagi yang gue suka dari Semarang adalah gedung-gedung tuanya. Tempat gue bikin acara di Semarang ini adalah salah satunya. Konon kabarnya bangunan ini dulu adalah rumah juragan gula se-Jawa. Ruangannya besar-besar dengan langit-langit tinggi serta pintu dan jendela yang besar-besar membuat suasana di dalam ruangan adem walaopun di luar sedang terik-teriknya. Dan di bagian belakang juga ada hall besar penuh dengan jendela kaca, sehingga kalau siang ruangan itu jadi terang benderang. Gue mbayangin dulu perempuan-perempuan dengan gaun ringan melambai, memakai topi musim panas memenuhi ruangan ini sambil minum teh. Sementara pria-prianya memakai setelan putih, bertongkat dan merokok pipa cangklong –kebanyakan nonton film kali ya gue hehhee…

Sayangnya enggak banyak bangunan tua di Semarang ini berada dalam kondisi baik. Banyak juga yang teronggok begitu saja dikelilingi ilalang, ada pula yang nyaris runtuh.

Satu lagi kegemaran baru gue, yaitu menyantap nasi pecel Bu Sumo yang ada di Jalan Kiai Saleh. Nasi pecelnya enak. Porsinya pas, nggak sedikit dan nggak banyak. Rasanya pas, nggak bikin eneg. Dan hari itu, gue bertiga dengan teman gue makan tiga piring nasi pecel, tiga bungkus kerupuk, dua buah goreng-gorengan, dan minum tiga gelas teh manis. Di akhir santapan, kami cuma diminta membayar Rp.12.500 saja. Amazing eh?

1 Comment

  1. Enak ya.. Yaya.. gaji ibukota makanan semarang heheh.. Tapi emang tuh selalu amazed kalo melihat harga2 di luar jabotabek-bandung. Huh! Pasti ada yang salah ya dengan para pemasang harga disini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s