if i were the mayor of semarang

Gue udah kepincut sama Semarang. Bukan karena lunpianya (inget..luNpia, bukan luMpia lhooo) atau bandeng juwananya, wingkonya, atau bahkan sego pecelnya. Gue kepincut sama gedung-gedung tuanya. Semarang itu fullllll of gedung tua! Mulai yang udah mau roboh, setengah rongsok, sampai yang udah direnovasi sedemikian bagusnya.

Apalagi kalo berkeliling di seputar Stasiun Tawang. Banyak banget gedung-gedung tua sejak jaman Belanda yang teronggok begitu aja. Sayang banget. Supir taxi yang gue tanyain bilang bahwa sebagia gedung itu masih dalam status sengketa, karena pemiliknya yang di Belanda sana nggak mau ngelepas. Helllooooooo, hari gini??? Dasar tu penjajah nggak tau diri! Udah gitu kok ya pemerintah mau aja dikadalin begitu. Kalo gue jadi walikota Semarang, itu gedung-gedung gue reclaim! Gue nasionalisasi! Anggap aja pampasan perang! Iya nggak sih?

Juga, daerah sekitar Stasiun Tawang itu cocok banget kalo dikembangkan jadi kawasan wisata sejarah. Gue jadi inget kawasan old city di Stockholm atau Praha yang dari bangunannya bisa ditrack sejarah perkembangan kota itu, sejak jaman raja-raja sampai perang dunia II. Kata teman seperjalanan gue waktu itu yang arsitek, Praha adalah satu-satunya kota di Eropa yang tidak hancur akibat PD II. Jadi gedung-gedung tuanya itu orisinil. Waktu gue tanya apa bedanya keindahan Praha dan Paris, dia bilang, “Paris itu ibarat cinta remaja yang penuh gejolak, sementara Praha itu ibarat cinta yang dewasa,” Hihihi…heyran sayah, kok jadi tersipu-sipu sendiri ;D

Well, back to laptop…eh, to gedung-gedung tua, contoh yang deket-deket yg bisa ditengok-tengok mungkin kawasan Intramuros di Manila sana. Gedung-gedung tua di Intramuros itu nggak ada apa-apanya lah dibandingin sama gedung-gedung tua yang ada di Semarang sini. Kalo gue walikota Semarang, maka mulai dari Hotel Metro yang tuwir itu ke arah stasiun gue akan jadikan wilayah bebas kendaraan bermotor. Yang boleh lalu lalang disana cuman andong, becak dan sejenisnya. Lagian, pemda Semarang juga udah membuat nuansa jaman dulu dengan memakai conblock dan bukan aspal sebagai pengeras jalannya. So tinggal a little bit of visioning (deuuu…bahasa ‘lo Ya!), maka kawasan itu bisa jadi tempat wisata sejarah yang menakjubkan. Pasti para manula peninggalan jaman penjajahan yang tinggal di Belanda sana sangat tertarik untuk bernostalgia. Kalo perlu dibikin paket foto bergaya noni-noni dan sinyo-sinyo londo jaman dulu…kayak fotonya orang-orang yang pergi ke Belanda itu lho. Iya nggak sih???

Coba bayangin Gedung Lawang Sewu yang berhantu tapi terkenal banget itu. Konon kabarnya, gedung itu bekas asrama atau pusat militer londo di Semarang. Kalo itu gedung direstorasi…wahh, gue yakin gedung itu cantik banget and pasti akan banyak orang yang pengen tau apa sejarah di balik pintu-pintunya yang katanya ada sewu itu 😀

Tapi mungkin yang jadi hambatan adalah investasinya. Ya memang, restorasi gedung itu nggak murah. Di Amsterdam, katanya, pemerintah kasih subsidi bagi mereka yang mau menempati gedung-gedung tua dan merestorasinya. Disana, tampilan gedungnya boleh tua, tapi di dalemnya tetep fasilitas modern and high-tech.

Well, kita mungkin masih jauh ke arah sana. Tapi gue pikir, it’s worth a try. Kan katanya, bangsa yang besar itu bangsa yang menghargai sejarahnya.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s