resolusi 1747

Ada yang bilang dunia politik itu adalah dunia yang kotor. Kenapa? Well, kalo menurut gue itu karena dunia politik sama dengan dunia dagang. Bedanya, kalo di dunia dagang yang diperdagangkan itu jelas –barang, jasa; sementara kalo di dunia politik yang diperdagangkan itu lebih luas: kepentingan, kekuasaan, nasib orang banyak, bahkan juga bangsa dan negara.

Contohnya soal nuklir-menuklir ini. Secara pribadi gue sangat menolak penggunaan energi nuklir dimanapun. Karena apa? Karena energi nuklir nggak punya mata, telinga, dan hati. Dia cuma punya energi yang maha dahsyat. Begitu dahsyatnya sehingga nggak ada seorang pun di dunia ini yang bisa dipercaya untuk mengelolanya. Karena si pengelola cuman manusia biasa, yang punya nafsu, ambisi, dan sering alpa.

Pemerintah Indonesia mengamini resolusi PBB terhadap Iran yang akan membangun instalasi nuklir. Ironisnya, di Indonesia sendiri pemerintah mendorong dengan nafsunya penggunaan energi nuklir. Isn’t it double standard? Kalau pemerintah setuju dengan PBB, harusnya pemerintah enggak mengaplikasikan energi nuklir disini. Jadi ada apa ini? Apakah orang Indonesia lebih baik daripada orang Iran? Apakah orang Indonesia lebih berhati-hati daripada orang Iran? Aapakah orang Indonesia lebih ahli daripada orang Iran? Atau mungkin orang Indonesia lebih ‘manis’ dibanding orang Iran yang ‘gahar-gahar’ itu. Tapi ‘manis’ menurut siapa? Siapa sih sebenernya sang ‘ndoro’ yang menentukan manis-tidaknya orang-orang di seluruh dunia ini?

Sekali lagi, gue tidak mendukung pemakaian energi nuklir dimanapun, tidak di Iran, apalagi di Indonesia. Tapi seperti yang gue tulis di atas, ini lah yang namanya politik. Nggak ada urusan sebenernya dengan ‘kemajuan teknologi’ atau ‘nasionalisme’ atau apapun yang coba didegung-dengungkan oleh pemerintah –dan orang-orang yang secara sempit mengamininya. Ini power play. Energi nuklir cuma jadi komoditas politik. Nggak lebih nggak kurang.

Coba kita berandai-andai. Katakanlah ada satu negara yang berkuasa banget di kolong jagat. Dia tau ada satu negara besar tapi kerdil yang segelintir orangnya ngebet banget pengen punya teknologi nuklir. Yah, cuma supaya dibilang nggak ketinggalan jaman, atau coba-coba menutupi kebobrokannya dengan kebanggaan semu. Di sisi lain, dia liat ada satu negara kecil tapi bengal banget, and ngeyel. Si cabe rawit ini saking nyolotnya ditindas sama si kuasa, bahkan berani-beraninya bluffing bahwa dia juga mau punya nuklir (yg selama ini cuman dikuasai segelintir elit penguasa jagat). Si kuasa berpikir, ‘wah, bahaya nih, kalo sampae si cabe rawit berhasil memprovokasi bangsa-bangsa lain, bisa terjadi global disobedience nih’. If you’re the powerful, what would you do?

So, politics is indeed as easy as playing card. Or gambling. Elo punya apa, gue punya apa. Elo bisa apa, gue bisa apa. Let’s make a trade.

Dan cerita berjalan seperti apa yang kita saksikan sekarang. Si kuasa bilang sama si kerdil, ‘Gimana kalo gue kasih elo teknologi energi nuklir?’ Si kerdil menjawab sambil ngiler dengan mata berbinar-binar,’Mau..mau..mau..’.

Si kuasa bilang lagi,’Tapi dengan syarat, elo dukung posisi gue terhadap si cabe rawit. Daannn, yang lebih penting lagi, lo harus tetap jadi anak manis! Awas lo kalo ikut-ikutan ngeyel! Gue cabut tuh dukungan nuklir gue! Dan gue sebarin gosip bahwa elo akan ngembangin senjata nuklir! Mau lo diembargo, heee???!!!’ Si kerdil berkata, ‘Siap Bos! Whatever you say’.

Soooo, terjadilah Resolusi 1747 yang didukung penuh oleh si kerdil. Walopun sebenernya si kerdil nggak siginfikan posisinya di resolusi itu. Tapi, si kuasa perlu bukti kepatuhan si kerdil. Dan of course si kerdil dengan senang hati memenuhi keinginan majikannya.

Tak lama, si kuasa mendatangkan berbagai ahlinya, dan ahli-ahli dari negara-negara ‘anak-manis’ asuhannya untuk membantu si kerdil untuk mengembangkan energi nuklir. Kata para anak asuhan,’Welcome to the club of the good boys!’

‘Inget! Kita harus selalu patuh apa kata pak bos! Jangan sampe pak bos marah! Liat tuh akibatnya sama si cabe rawit.’ lanjut good boy-1. Si kerdil menjawab,’Oke deh! Don’t worry be happy.’

Don’t worry be happy, gundulmu!!! –kata gue.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s