nagabonar jadi dua

Minggu lalu nonton film Nagabonar Jadi Dua. Nonton film ini mengingatkan gue pada masa jaya-jayanya film Indonesia –natural, membumi. Nggak sok ngejar sinematografi gaya film festival (cuman akhirnya nanggung, maksa dan nggak nyambung dengan ceritanya). Nggak over acting (yang bikin kepala pusing). Nggak sok ngejar cerita yang muluk-muluk (yang nggak masuk akal dan bikin jidat mengernyit keheranan). Nagabonar Jadi Dua itu sederhana tapi tetap bisa menjaga kedalaman misi yang dibawa dalam ceritanya.

Deddy Mizwar? Nggak usah ditanya lagi lah akting beliau. Masih TOP. Tora Sudiro? Welll….so-so lah…he has tried, but not good enough. Terutama dalam dialog yang memerlukan konsistensi logat. Dalam hal ini Tora musti lebih banyak belajar dan latihan, sehingga tetap terdengar seperti orang Batak –dan bukannya kadang Batak, kadang Ambon, atau kadang Manado (even kadang Betawi coy!).

Nagabonar Jadi Dua bercerita tentang dua generasi yang berbeda yang hidup dalam konteks kekinian. Si Nagabonar yang anti imperialis dan idealis, serta si Bonaga yang terpelajar dan metropolis yang terombang-ambing antara keinginanannya mengikuti perkembangan jaman dan menghormati keinginanan bapaknya yang dianggap kuno dan ketinggalan jaman.

Film ini juga bercerita tentang generasi sekarang yang cenderung ahistoris dan nggak mau tau, kekecewaan para pejuang kemerdekaan yang setengah nggak rela ngeliat kemerdekaan ini akhirnya cuma dinikmati cecunguk-cecunguk, dan juga gegar budaya yang dialami Bonaga –yang walaupun berpendidikan kelas dunia dan fasih bener clubbingnya, tapi tetap takut nyatain cinta ke perempuan yang dia taksir, si Monita, dan tetap nggak bisa ngilangin logat Bataknya.

Cuma satu yang agak mengganggu gue dan bikin gue mikir terus sepanjang film berlangsung. Sebagai anak pejuang kemerdekaan, umur si Bonaga itu terlalu muda. Katakanlah si Bonaga itu umurnya 30 tahun (ngeliat gayanya yang masih rada ABG). Kalau si Nagabonar itu punya anak di umur 30, maka umur Nagabonar saat ini adalah 60 tahun (atau lahir di tahun 1947). It means, ketika perang melawan Belanda –di tahun 1940-an maksimal, si Nagabonar masih bocah ingusan. Kalaupun dikarbit 10 tahun, it doesn’t work. Padahal kalau inget film Nagabonar dulu, bayangan gue settingnya itu sekitar tahun 1930-an lah.

Eniwei, terlepas dari itu semua, gue suka banget akhirnya ada film Indonesia yang bisa melepaskan diri dari kungkungan tuntutan “film berkualitas sama dengan (sok) berat dan (sok) indah”. Bravo Deddy Mizwar!

2 Comments

  1. G nyangka filmnya kocak& keren abis…..ya…biasanyakan fillm layar lebar indonesia “gitu2” aja, alias ga berisi. tapi yg satu ini keren abis. Inspiring bngt buat anak muda sebagai penerus bangsa Indonesia, ya…kaya gue ini 🙂

  2. Apa kata duniaa??..
    Iya ini film emang one of a kind.. Walau Deddy Mizwar tampak terlalu mendominasi, tapi kan itu salahnya yang lain juga kenapa mau didominasi.. ihihhihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s