almost fainting

Sering gue membanggakan diri sebagai orang yang memiliki stamina yang cukup oke. Resepnya sederhana, makanlah ketika lapar, dan tidurlah ketika mengantuk. Jangan ditahan-tahan. Gue bukan orang yang terlalu  percaya dengan slogan ‘yang penting kualitasnya, dan bukan kuantitasnya’. Buat gue, kuantitas juga penting. Enam jam tidur sehari itu minimal, nggak bisa ditawar lagi. Kalo enggak, bisa-bisa gue uring-uringan seharian. Begitu juga sama urusan makan. Untungnya, gue nggak pernah ada masalah dengan makan dan tidur (secara gue pelor ‘nempel molor’), dimanapun kapanpun nggak masalah.

Cerita jadi berbeda ketika gue sakit. Sakit gue sih nggak pernah yang serius atau ‘bergengsi’ (Alhamdulillah), malah kadang suka malu ati sendiri –pokoknya nggak jauh dari masuk angin, diare, gitu-gitu lah. Repotnya, kalo udah sakit begini, nafsu tidur dan nafsu makan gue berkurang blas. Dan dampaknya, gue jadi lemes banget, berhubung metabolisme gue udah biasa dengan porsi makan yang –ehmmm…cukupan lah.

Dan pagi ini di KRL-tidak-terlalu-ekspress yang biasa gue naikin, seperti biasa gue berdiri. Dan seperti adegan slow motion, gue bisa merasakan dengan jelas, pandangan gue yang mulai menguning lalu mengabur, telinga gue yang perlahan-lahan jadi tuli, dan tanpa gue sadari ternyata kaki gue udah lemes. Dalam hati gue masih bisa bilang, ‘kayaknya gue mau pingsan nih’. Untung aja ibu-ibu di depan gue langsung menangkap dan ngasih tempat duduknya.

Ini pengalaman ‘mau pingsan’ gue yang pertama. Dan semoga akan jadi yang terakhir. Hhhhhhhh….Ayooooo, makan-makaaaannnnnn!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s