tukul, cipika-cipiki, dan kpi

Baru aja mbaca satu artikel koran elektronik tentang protes dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atas ‘adegan’ cipika-cipiki di acaranya Tukul. Kadang-kadang gue suka nggak habis pikir sama fokus kerja dan benchmark yg dipake oleh komisi-komisi semacam ini. Soal kasus Tukul ini misalnya. Kalo cipika-cipiki di acara Tukul itu melanggar kesopanan, gimana dong dengan adegan peluk-peluk, cipika-cipiki, adegan nyaris ciuman bibir, atau adegan mesra yang bujubuneng bertaburannya di sinetron-sinetron Indonesia???!!! Bahkan adegan-adegan itu dilakukan oleh anak-anak ABG setingkat SD dan SMP!!! Dan disiarkan dari pagi sampe malam hari. Kok itu enggak diprotes? Apakah dalam melakukan monitoring media, KPI juga melakukan sensor?

Gue menulis ini bukan karena gue fans beratnya Tukul lho…tapi karena protes-protes semacam ini selalu aja hot-hot-chicken-shit alias panas-panas-tokai-ayam, yang nggak pernah ada tindak lanjutnya, dan nggak pernah jelas tolok ukurnya. Ingat kasus Aa’ Gym dan film ‘Buruan Cium Gue’ kan? Nah…mana tuh suaranya si Aa’ sekarang?

Kalau KPI mau konsisten, seharusnya mereka juga memprotes berbagai sinetron –yang amit-amitnya lagi– memakai agama sebagai pembungkus, tapi isi adegannya nggak lebih dari takhyul, setan-hantu-genderuwo, dan mempertontonkan kekerasan dan ketidakpatutan budi pekerti. Misalnya adegan seorang anak yang membentak-bentak orang tua. Bagi anak SD yang level pengetahuannya terbatas, masih suka membebek, dan cara belajarnya adalah dengan drill, maka dia akan meniru habis bentakan-bentakan serta sikap-sikap yang amat sangat tidak sopan itu, tanpa menyadari bahwa apa yang dilakukan itu tidak baik.

Menurut KPI, siapa yang harus bertanggung jawab dengan pemukulan sampai mati siswa SD oleh rekannya, anak-anak kecil yang tidak mau lagi tidur sendirian (akibat takut setan genderuwo), atau level konsumsi anak-anak kecil yang naudzubilah berlebihan banget itu? Apakah drilling atau diulang-ulangya berbagai adegan yang serupa sebangun (tak peduli stasiun TV mana pun) yang dicekokkan ke otak-otak mereka dari pagi sampai malam hari tidak memberi pengaruh pada perkembangan psikologis anak-anak? Apakah iklan-iklan yang terus menerus dicekokkan ke otak-otak kecil tersebut tidak mendorong mereka untuk ingin terus belanja dan belanja…dan rela melakukan apa saja agar tidak dibilang ketinggalan jaman? –you know, peer pressures.

Gue udah lama nggak nonton tivi (kecuali beberapa acara seperti Empat Mata…hehehhee, teteuuuppp), karena setiap nonton tivi bawaan gue maunya maraaah melulu. Sungguh, sebagai penonton gue protes berat karena gue nggak punya pilihan! Apakah ini persengkokolan industri pertelevisian? Yang juga didukung oleh industri periklanan yang mendukung acara-acara tersebut?

Hhhhh…gocap kali dua…cape deeehhhhhh!!!!

5 Comments

  1. Ala jangan discovery…. acara ” A haunting”nya rekonstruksi semua dengan tipuan kamera

    Mending Lativi lewat acara penampakan, yang nampilin gendruwo dan kuntilanak beneran, sama keris yang bisa terbang, makan telor dan minum darah.. tanpa efek kamera, itu baru bener2 reality show

    Membuktikan bahwa kita bisa bikin acara “Sightings” yang nyata, aseli

  2. ribet ya KPI..
    cipika cipiki doang diurusin.. gimana kalo gue mau buat Vivid Entertainment??
    hehehhehe
    gue pernah coba telpon dan fax KPI, mau protes sinetron apa gtu gue lupa. Tapi kagak bisa dikontak booo..
    Emang mereka sistemnya dari KPI.. untuk KPI.. dan oleh KPI..

  3. Kalo aku gak percaya lembaga rating, yang katanya gak di audit itu. Tapi emang ngeri lihat ponakan2 kita mantengin tipi gak kedip…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s