public (open) space

Apa yang terlintas di benak kita waktu ditanya apa itu ‘public space’? Mungkin untuk konteks Indonesia agak susah kita menjawabnya. Taman? Well, persoalannya taman yang mana? Untuk orang Indonesia (atau warga kota-kota besar pada umumnya) mungkin yang disebut public space itu adalah mall dan yang sejenisnya. Yah nggak sepenuhnya salah sih. Cuman ngenes aja gitu lho, soalnya ini menandakan society kita memang krisis dalam soal-soal yang beginian.

Jadi inget Manhattan. Diantara skyscrappers yang menjulang, terselip taman-taman kota, dimana orang bisa ngapain aja. Mulai dari pacaran sampai sekedar duduk bengong atau menikmati makan siangnya.

Tadi siang lewat Taman Menteng (eh, nggak tau juga deh apakah memang itu namanya). Ini satu taman baru yang dulunya adalah stadion Menteng. Waktu dulu ada rencana pembongkaran stadion Menteng untuk dijadikan taman, terjadi kontroversi. Nggak tau juga gue gimana akhir ceritanya. Yang jelas sekarang itu taman sudah terjadi. Dan terus terang, menurut gue, not so bad lah. At least, warga Jakarta punya alternative public space –selain mall.

Beberapa hari terakhir ngelewatin Taman Menteng (kita sebut aja begitu dulu ya), udah banyak aktivitas yang dilakukan warga. Ada yang main sepeda, jalan-jalan sama keluarga, main bola, atau cuma sekedar duduk-duduk di rumput. Asik, santai.

Sayangnya (hehehe…teteuuuppp, ngritik jalan terus), kok pohon yang ditanam itu pohon palem-paleman. Gue kadang heran sama Pemda DKI. Seneng bener menanam pohon palem-paleman (seperti kelapa sawit dan sejenisnya). Padahal itu tanaman terkenal rakus air. Secara estetika sih mungkin bagus. Tapi secara fungsi??? Rimbun juga enggak gitu loh!!. Knock..knock..knock..*sambil mengetuk-ngetuk jidat dengan jari*

Belum lagi sebagian taman itu disemen, sehingga air hujan nggak bisa meresap. Kalau fungsi taman itu salah satunya adalah sebagai daerah resapan air, fungsinya jadi nggak maksimal. Padahal bisa aja loh mereka pake conblok yang masih bisa dilewati air, dan bukannya disemen mati begitu.

Ada satu hal lagi yang aneh. Di tengah-tengah taman itu berdiri megah dua buah rumah kaca. Entah apa maksudnya. Daaaan…rumah kaca itu diberi AC (air condition). Tahu nggak sih mereka (si perancang taman dan rumah kaca itu) bahwa di dalam rumah kaca itu suhunya pasti lebih tinggi daripada di luar? Ingat terminologi ‘efek rumah kaca’? Atau ‘global warming’? Nah…jelas pemakaian AC di rumah kaca adalah sesuatu hal yang merupakan pemborosan energi (kalau nggak mau dibilang sebagai sesuatu yang bodoh bin stupid).

But…(hehehe…dasar orang Indonesia, selalu aja bisa mengambil hikmah dari segala sesuatu yang buruk), gue cukup senang ada Taman Menteng itu. Kita jadi punya satu open space yang bisa dijadiin tempat kumpul. Semoga tempat-tempat seperti ini makin banyak ada di Jakarta (asal jangan menggusur orang-orang yang nggak punya rumah. Mendingan bongkar mall-mall yang menyalahi tata ruang). Semoga budaya piknik keluarga seperti jaman dulu bisa kita nikmatin lagi. Dan yang terpenting, bisa hang out, doing nothing, dan nggak perlu membeli apapun –seperti halnya di mall.

5 Comments

  1. hi Ya, emang ajaib kadang dinas pertamanan. apalagi kalau liat tanaman campur sari di pembatas jalan. atau naruh bunga mawar di pembatas jalan ? (bunga mawar kan maintenancenya gedhe). and the list goes on…. sementara pohon yg udah kelewat rimbun sampai tanda jalan tertutup, atau dahan udah mati di biarkan trus kalau angin kenceng jatuh nimpa orang and so on and so on….
    its like kadang mrk punya waktu dan energi utk hal hal yg gak jelas tapi hal hal yg perlu malah gak dilakukan….
    salam.
    tapi bener juga, we should consider ourselves lucky we have greenery and public open spaces. coba kayak di Batam? dikiiit banget open space yg ada public access… udah gitu bukit2 hijau di hajar terus jadi perumahan….

  2. wah…oke tuh rencananya…aku siap jadi supporter 😀

    setelah aku pikir2..iya ya, template-nya cewek bangets…tak ganti aja lah..

  3. Yaya…

    Aku ama Yoki udah ancang-ancang buat ngamen disitu hehe… mungkin di suatu weekend mirip yg kita lakukan disini http://antoix.wordpress.com/2006/09/26/ngamen/ pas di Pasar Seni.

    Tapi kami pengen dibayar dengan tepukan tangan dan orang yg bersedia berhenti sejenak minimal selagu deh hehe… Ada tempat teduh gak?

    BTW, ini template-nya cewek banget tapi rasanya ‘bukan yaya’ banget hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s