living on the slow lane

Bekerja di tempat orang berlibur ternyata enggak terlalu menyenangkan. Waktu orang pada liburan dan berleha-leha, kita malah harus kesana kemari, berpikir, rapat, diskusi, cek email –pokoknya hal-hal yang memang musti dilakuin yang ada kaitannya sama kerjaan. Sementara kita memerlukan efisiensi waktu dan terbiasa dengan ritme cepat seperti di Betawi sono, supir-supir disini nggak bisa nyetir dengan kecepatan di atas 30 km/jam. Padahal di depannya kosong melompong. Dan weekend di Bali sini nggak ada bedanya dengan weekend di Bandung. Macet! Sucks lah pokoke.

Orang-orang bilang, living on the slow lane is good for your health.  Makanya sekarang banyak orang yang menggandrungi slow food instead of fast food. Tapi yang ada, gue malah geregetan, mengutuk dalam hati, sambil menghela nafas panjang supaya esmosi jiwa gue enggak lepas kendali.

Tapi somehow, kayaknya gue harus ambil some days off dan seriously take some time dan living on this slow lane. Sambil ngisi waktu nunggu meeting berikutnya, gue cuman bisa melirik sirik ke orang-orang di sekitar gue yang duduk santai tanpa beban, atau cuman sekedar bengong dan mbiarin pikiran mereka melayang-layang tanpa arah.  Wish I had that luxury…..

1 Comment

  1. ya..ya…emang elu orangnya serius banget….yuk kita jadiin tuh SPA di sukabumi or dimana lah…yang penting nyantei….ama baca buku and nulis blog….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s