napak tilas

Setiap kali datang ke Bandung, kegiatan yang kudu dilakuin adalah mengunjungi kembali tempat-tempat makan yang jaman kuliah dulu sering gue dan temen-temen gue datengin. Beberapa diantaranya:

Mak Uneh
Kalo sedang berniat makan enak tapi murah, dan sekaligus menaikkan kadar kolesterol, maka pilihan kami akan jatuh ke tempat Mak Uneh. Mak Uneh terkenal dengan spesialisasinya menyajikan berbagai macam menu jeroan. Mulai dari limpa, babat, usus, paru, semuanya lengkap. Mak Uneh juga jualan masakan khas Sunda semacam pepes, selain menu standar macam ayam dan tahu-tempe goreng.

Uniknya, untuk menjangkau tempat makan Mak Uneh ini, kita musti menyusuri gang kecil-sempit yang di beberapa bagiannya malah cuman cukup untuk satu orang lewat. Tapi seperti orang bilang, “Words travel”. Walopun lokasinya nyempil kayak upil, rumah makan Mak Uneh ini selalu penuh pada saat jam makan siang. Dan bisa kita lihat antrian panjang mobil customer Mak Uneh yang parkir di sepanjang Jalan Pajajaran –dimana gang ke arah rumah Mak Uneh berada.

Tapi itu semua cerita lima belas tahun lalu. Sekarang, Mak Uneh udah punya rumah makan yang cukup oke dan mentereng di pinggir Jalan Setia Budi sana.

Yamien Ayam-Ceker Akung
Pertama kali diajak makan di Akung sama temen gue si Erin, lima belas tahun yang lalu. Saat itu, warung mie Akung cuma menempati satu garasi berukuran kira-kira empat kali delapan meter persegi, dengan lantai plesteran semen dan berjendela kawat ayam, terletak di satu jalan dekat GOR Saparua. Disinilah pula gue mengenal pertama kali satu menu makanan yang disebut yamien.

Mie ayam Akung ini termasuk salah satu yang gue ikutin perkembangannya. Dari garasi di dekat GOR Saparua, rumah makan mie Akung berkembang menjadi satu rumah makan yang cukup besar, masih di dekat-dekat GOR Saparua. Disinilah juga pertama kalinya gue ke tempat makan yang suasananya lebih mirip tempat praktik dokter. Ya, disini pesanan kita diberi nomor urut. Nggak jarang kita dapat nomor urut 53 sementara waiternya sedang mengantar pesanan nomor 32. Antriii bow!

Nah, itu juga cerita lima-belas sampe sepuluh tahun yang lalu. Sekarang, Akung udah menempati bangunan keren berlantai keramik di daerah Lodaya. Tapi urusan ngantri kayak di tempat praktik dokternya mah teteuuupppp.

Rumah Makan Padang di Jalan Titimplik (di belakang PT. Telkom)
Nah, ini salah satu rumah makan favorit anak kos, yang punya ciri-ciri: bisa ambil nasi sepuasnya dengan satu harga. Ini bedanya dengan restoran Padang yang lain. Menu andalan rumah makan ini adalah ayam pop. Sampe sekarang gue masih beranggapan bahwa ayam pop disini adalah yang paling enak, nggak ada yang ngalahin. Selain itu tentu aja aneka juice yang walopun murah meriah tapi tetap menyajikan juice yang sesungguhnya (nggak encer gitu lho maksudnya). Setiap gue ke Bandung sama keluarga besar gue, pasti mereka gue ajak kesini. Sayangnya, sekarang rumah makan Padang ini udah tutup. Nggak tau kenapa.

Resto Yoghurt Cisangkuy
Nah, ini yang nggak pernah berubah. Dari jaman dulu sampe sekarang rumah makan yang menyajikan aneka yoghurt ini nggak berubah. Mungkin prinsip sang empunya ‘small is beautiful’. Gue yakin mereka mempertahankan kondisi ini bukan karena nggak mampu untuk berkembang, tapi memang keinginan si empunya sendiri. Tentu aja menu utama dari sini ya berbagai macam minuman yoghurt. Mulai dari yang plain and super asem, sampe yang rasa lychee, strawberry, dan bahkan coklat. Menu lainnya yang ngetop adalah kentang goreng sosis, dan batagor yang jualan pake gerobak di depan pagar rumah makan.

Bubur ayam Mang Oyo
Yah, the last but not the least. Siapa yang nggak kenal dengan bubur ayam Mang Oyo? Dulu Mang Oyo jualan di dekat rumah sakit di satu jalan yang gue lupa namanya. Yang jelas lokasinya dekat-dekat Unpad-Dipati Ukur. Sekarang Mang Oyo udah punya rumah makan di Jalan Dago –satu jalan utama di kota Bandung, dengan menu utama dan satu-satunya: bubur ayam. Mantabh nggak tuh?

Sebenernya masih banyak tempat makan lain yang belum sempet didatangin lagi, dan gue nggak tau juga apakah masih ada atau enggak. Misalnya, mie ayam di Tubagus Ismail, rumah makan di dekat Taman Makam Pahlawan, restoran ayam goreng/bakar di pengkolan di Lembang, mie kangkung di dekat Biofarma, gado-gado di daerah dekat stasiun, warung-warung tenda di sekitar Taman Cibeunying yang cuman buka malam hari, dll.

Ngeliat perkembangan Bandung sekarang, terutama dalam hal tempat-tempat makan baru kayaknya makin mengasyikkan. Walopun sekarang ini keliatannya lebih didominasi oleh cafe-cafe dan resto yang stylish. Semoga sih tempat-tempat makan favorit jaman gue kuliah dulu masih tetap bisa exist dan nggak terlindas oleh putaran roda perkembangan jaman.

3 Comments

  1. Lho, Yaya… itu Cisangkuy, Mie Akung, sama Ayam Pop belakang Telkom tempat saya sama Yorin sering makan siang sambil pacaran hehehe… kok gak pernah #kepergok# ama kamu ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s