society in transition

Lagi iseng-iseng surfing dan baca-baca blognya teman-teman dan postingan di milis-milis yang gue ikutin. Ada 2 topik menarik yang pengen gue share disini. Pertama, tulisan di blognya Mas Dani, yang bercerita tentang keberagaman kehidupan di Kemang yang menurut beliau merupakan pusat dugem Jakarta. Yang lain yang gue baca-baca dengan asyiknya adalah diskusi di mailing list Forum Pembaca Kompas (FPK) yang lagi hot-hotnya mendiskusikan cerita segitiga antara Bambang-Halimah-Mayangsari. Diskusi yang awalnya menyerupai berita infotainment kemudian berkembang menjadi diskusi kebudayaan (menurut gue lhoo…) yang sangat mengasyikkan untuk diikuti.

Kedua cerita di atas punya satu benang merah dan menggambarkan suatu fenomena society in transition. Diberkatilah Indonesia yang memiliki beragam kebudayaan, beragam agama, sukubangsa, dan latar belakang sejarah yang sangat kaya. As a nation, mungkin hanya Amerika Serikat yang sedikit banyak bisa menyamai keberagaman tersebut. Bedanya, di Amrik society-nya didominasi oleh para imigran dari luar Amerika yang mengintroduce budaya nations asal mereka ke Amerika, sementara di Indonesia society-nya didominasi oleh nations pribumi yang menyerap berbagai pengaruh budaya dari luar. Dua-duanya adalah melting pot. Dan dua-duanya tentu akan menghasilkan cita rasa yang sama kayanya.

Dalam scope yang lebih kecil, cerita tentang Kemang di blog Mas Dani merupakan potret Indonesian society in transition. Di satu sisi, menggambarkan laju modernisasi dan pop culture yang melanda hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Di sisi lain menggambarkan way of survival dari indigenous community (the last of the Betawis in Kemang). Fenomena the Betawis in Jakarta diperkirakan tidak lama lagi akan melanda Bali, dimana saat ini orang Bali asli mulai kehilangan property-nya yang mau tidak mau, suka tidak suka, akibat tekanan kehidupan, harus dipindahtangankan –kepada orang-orang dari Jawa, Jakarta, dan mancanegara. Dimana terjadi pemusatan pertumbuhan ekonomi, disana pula lah terjadi berbagai benturan kebudayaan.

Diskusi di mailing list FPK menggambarkan sisi lain dari topik yang sama. Diskusi Bambang-Halimah-Mayangsari dimulai dari hal yang boring: Siapa yang Salah. Interestingly, diskusinya berkembang dalam spektrum yang cukup luas –mulai dari isu poligami vs selingkuh dalam pandangan kultur dan agama, cinderella syndrome vs the choice of living single, sampai soal kesetaraan gender dan perjuangan membebaskan perempuan dari ketertindasan terhadap lelaki. Lucunya, ada juga yang membuat ‘pengakuan’ bahwa laki-laki adalah makhluk yang lemah, tidak tahan godaan, sehingga perlu ‘diberdayakan’. Hahahaha…

Perdebatan atas nilai-nilai seperti ini mungkin tidak banyak terjadi lima puluh atau seratus tahun yang lalu. Saat itu nilai-nilai mengalami establishment. Mapan. Settled. Setimbang. Globalisasi informasi yang menyebabkan hilangnya sekat-sekat geografis (virtually) yang terjadi di akhir abad 20, menggoyang kesetimbangan ini sehingga society saat ini sedang struggling untuk menemukan nilai-nilai barunya.

Lucky us living in this period of time, when we can witness and experience these changes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s