mulailah dari perut

Menjamu tamu nampaknya memang jadi budaya orang Asia. Demikian yang gue temui juga di Korea. Walaupun sama-sama dari negeri Timur Jauh, orang Korea terlihat lebih easy going dan nyantai dibandingkan orang Jepang. Less stylish too ;P (no offense!). Menurut seorang temen Indonesia yang udah 7 tahun tinggal di Korea, memang demikian kebiasaan orang Korea. Nggak salah-salah, hidangan yang disajikan pun menuh-menuhin meja. Dan memang selalu begitu keadaannya.

dscn4209.jpg

Ketika kita duduk, pasti langsung disajikan kimchi dan kak-tu-gi. Kimchi adalah sawi putih yang berbumbu cabe merah. Rasanya asem-asem pedas. Sementara Kak-tu-gi adalah lobak yang disajikan dengan cara yang serupa. Memang orang Korea ini suka yang pedas-pedas. Setiap saat, setiap waktu, kalo yang namanya makan, ya pasti ada 2 jenis makanan pembuka itu.

Jenis hidangan utama yang umum dimakan oleh orang Korea adalah bi bim bap. Ini adalah sejenis nasi campur dalam porsi besar yang disajikan dalam mangkuk besar panas (hot bowl). Selain nasi, ada sayur, jamur, daging –whatever lah– yang dicampur dengan sejenis saos berwarna merah. Biasanya, di atasnya juga diletakkan telor goreng mata sapi setengah matang. Kemudian kesemuanya itu diaduk dan literally dicampur-campur. Bagi yang nggak terbiasa melihat nasi dicampur-campur begitu mungkin akan menjadi ilfil. Tapi gue kasih saran, mendingan tutup mata, dan makan aja. Rasanya enakkkkk banget!! (apa sih yang nggak enak buat gue, btw?).

Selain suka makanan yang pedas-pedas, mereka juga senang makanan yang panas-panas. Kadang gue suka heran, kok nggak jontor ya itu bibir, nyeruput sup yang masih panas-panas begitu? Dan untuk cuaca yang sedang hujan dan dingin, memang menu sup yang selalu jadi andalan. Tinggal pilih, mau sup ikan? sup daging (seol-leong-tang), atau sup ayam (sam-gye-tang)? Jangan pernah mbayangin hidangan sup seperti disini –yang dagingnya seuprit dan kecil-kecil. Untuk menuhin mangkuk yang besar itu, mereka menyajikan daging dan ayam dalam bentuk yang utuh! Gueddeee….Sebagai gambaran, untuk sup daging, daging yang dimasukkan ke dalam sup itu ya daging seukuran steak gitu lah…Asssoooyyy kan?

“Kericuhan” soal porsi yang kadang memerlukan perjuangan untuk menghabiskannya (nggak tega kalo harus mubazir) itu ditambah lagi dengan bentuk sumpit yang tipis, kecil, dan terbuat dari logam. Perlu konsentrasi yang cukup tinggi supaya makanan yang kita jepit dengan sumpit itu tidak tergelnicir berkali-kali.

Dan seperti pepatah orang Minang, untuk menjalin suatu hubungan, “..mulailah dari perut.” Nampaknya filosofi ini dihayati sekali oleh orang-orang Korea.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s