tokyo-folks’ story

Ngamatin gimana orang-orang di Tokyo hidup, berpikir dan bergerak kadang menimbulkan perasaan yang campur aduk –antara amazed, kagum, kasihan, sampai iri. Beberapa hal yang pengin gue share diantaranya:

coklat dan minuman berenergi
Beberapa teman gue yang orang Jepang selalu punya persediaan coklat di dalam tasnya, dan juga kadang-kadang minuman berenergi, Red Bull dan sejenisnya lah. Coklat berguna untuk mengurangi stress, seperti yang juga dicantumkan di bungkusnya yang kira-kira berbunyi (kata temen gue): “cara mengurangi beban kehidupan”. Sudah menjadi pengetahuan umum memang bahwa coklat memiliki efek yang menenangkan. Selain itu, mereka juga banyak mengkonsumsi minuman berenergi. Kalo gue jadi tubuh yang didiami orang-orang Tokyo ini pasti lah gue bingung, di satu sisi gue dipacu-pacu dengan minuman berenergi, tapi di saat yang bersamaan dijejalin juga sama coklat yang menenangkan. Yah, semoga aja nggak terjadi korsleting.

pemutih dan alis yang teratur
Tahu kan gimana warna kulit orang Jepang? Pasti nggak akan ada yang membantah bahwa mereka punya kulit yang putih, apalagi dibandingkan dengan gue yang punya warna kulit sawo-terlalu-matang. Lucunya (atau anehnya?) mereka ternyata masih terobsesi juga dengan warna kulit yang lebih putih lagi, seperti halnya perempuan-perempuan di Indonesia. Jadi jangan heran kalo perempuan-perempuan disana (terutama di kota-kota besar) juga tebal dempulannya. Dan ada lagi yang aneh. Banyak juga gue lihat laki-laki disana yang mencukur rapi alisnya. Pertama kali menyadari fenomena itu gue mau ketawa sendiri. Kebayang kan, ngeliat laki-laki dengan alis segaris begitu? Tapi well, mungkin memang begitu trend-nya. Dan who knows sebentar lagi fenomena itu bisa kita lihat di Jakarta.

harajuku style dan kimono
Nah, kalo yang ini udah banyak contoh produknya kita temuin di Jakarta. Dari dulu daerah Harajuku memang jadi centernya pop cultures atau pun budaya-budaya alternatif. Kalau mau melihat eksistensi dua ekstrim budaya –pop dan tradisional– lihatlah di Tokyo. Bukan hal yang aneh di dalam kereta kita lihat satu gerombolan anak-anak muda berambut warna-warni, baju tubrukan dan tumpuk-tumpuk, dengan anting di bagian-bagian tubuh selain telinga, sementara di sisi lain ada serombongan ibu-ibu berkimono musim panas, lengkap dengan konde, hiasan rambut, kipas dan payungnya. Kebetulan sekarang ini mau masuk summer disana.

payung dan topi
Seorang temen Jepang gue pernah menyatakan keheranannya terhadap orang Indonesia. Dia bilang, “Kenapa sih orang Indonesia jarang sekali bawa payung?”. Hmmm…good question. Indeed. Tambah dia lagi, “Jelas-jelas di Indonesia itu musim cuma dua: musim panas dan musim hujan. Harusnya kalian bawa payung sepanjang tahun, baik untuk musim panas yang terik dan musim hujan.” Well…a very good point, dan jelas makin sulit buat gue mencari pembenar kenapa kita orang Indonesia nggak mau bawa payung. Akhirnya gue jawab, “Males!”. Singkat, padat, jelas, dan tak terbantahkan. Wong males, mau bilang apa lagi toh. Kebalikan dengan orang Jepang, ujan yang rintik-rintik aja mereka udah membuka payungnya lebar-lebar. Panas sedikit aja udah memakai topinya yang lucu-lucu dan bagus-bagus itu. Jadi inget dulu, temen gue di Indonesia minta dibeliin payung yang transparan dari Jepang. Tapi gue nggak yakin juga itu payung dipakai sama dia, paling-paling cuma disimpen, eman-eman dibeli jauh-jauh entar cepat rusak, paling gitu katanya. Kalo gue bilang ke temen Jepang gue soal ini, pasti dia akan geleng-geleng dan mengetuk-ngetuk jarinya ke jidat.

why japs women don’t get fat
Topik ini juga sempat jadi pembahasan di salah satu mailing list yang gue ikutin, terkait dengan moda transportasi di Jakarta. Menurut temen-temen gue yang pernah tinggal di negara yang punya sistem transportasi massal yang bagus, orang-orang di negara/kota itu rata-rata well-shaped, terutama cewek-ceweknya (ini kata si VQ temen gue). Alasannya, mereka nggak jarang harus jalan cukup jauh untuk mencapai halte atau stasiun, nggak kayak kita yang kalo naik bus atau angkot bisa turun dimana-mana. Bahkan kalo naik ojek kita diantar sampe di tempat tujuan. Sebagai ojek lover, I can’t be happy more with that fact ;p ..Dan memang setelah gue amat-amati, perempuan-perempuan di Jepang itu jarang banget yang gemuk, mungkin perkiraan temen gue itu benar adanya. Bayangkan, jalan aja mereka cepat-cepat banget, kayak dikejar apaa gitu. Juga mereka harus jalan cukup jauh untuk pindah jalur kereta, kadang sampe ratusan meter begitu. Jadi itu juga sekalian exercise buat mereka. Nggak heran, selama berkegiatan di Jepang, gue ngerasa capek banget, sampe nggak bisa mikir apa-apa lagi, selain bertanya-tanya, “…kapan ya kita makan? dimana?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s