selesai tidak selesai, kumpulkan

Kalimat di atas pastinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Itu lah kalimat yang selalu diucapkan oleh para guru dan dosen kita sejak SD sampai di perguruan tinggi kalau sedang ujian, ulangan, atau apapun lah namanya. Gimana jadinya kalau kalimat tersebut kemudian menjadi kondisi yang kita hadapi dalam kehidupan nyata, dan lebih lagi ke hal-hal yang menyangkut hidup orang banyak?

Tadi siang dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung melewati jalan tol Cipularang, bisa kelihatan bagaimana aplikasi kalimat di atas dalam pembangunan jalan tol ini. Jalan tol Cipularang memang dibuat dengan mode ‘kejar tayang’ karena mau dipamerkan dalam peringatan Konferensi Asia Afrika beberapa tahun lalu. Akibat proyek kejar tayang tersebut, sampai saat ini, jalan yang baru seumur jagung itu udah ditambal sulam, dipermak, didempul berkali-kali. Sangat kelihatan jalan yang dibangun (mungkin) dengan dana utangan itu dibuat asal-asalan –jalan prakarya.

Jangan heran juga kalau banyak kecelakaan yang memakan korban sudah pula terjadi disana. Sayangnya enggak ada papan statistik kecelakaan seperti halnya jalan tol Jagorawi, sehingga kita tidak bisa mengukur berapa banyak jalan tol itu udah memakan korban.

Konon kabarnya, pesawat N-250 buatan bangsa sendiri itu pun dulu dilaunch dengan sistem kejar tayang, hingga pilot yang menerbangkannya pertama kali sebenarnya juga sudah siap untuk mati. Gosip yang kudengar dulu jaman kuliah, pesawat itu sebenarnya belum siap tayang, tapi berhubung Habibie udah kebelet pengen pamer, jadi lah itu pesawat diterbangkan dengan perlengkapan seadanya –asal bisa terbang dan mendarat. Untung aja nggak terjadi kecelakaan.

Budaya kejar tayang nampaknya memang sudah mendarah daging dalam hidup orang Indonesia. Selesai tidak selesai, kumpulkan. Siap tidak siap, terbangkan. Aman tidak aman, operasikan. Yang terakhir ini sangat tepat untuk menggambarkan rencana pemerintah kita yang masih keukeuh membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Padahal, teknologi nggak punya. SDM belum siap. Etos kerja dan disiplin nihil. Dan yang paling penting, kondisi alam tidak mengijinkan.

Entah apa yang dikejar. Prestise? Gengsi? Image? Power? Emang mau dibilang apa sih, sampe menggadaikan segalanya demi sesuatu yang sebenarnya dengan mudah tergantikan dengan yang lain –yang lebih aman pastinya.

Mental “yang penting punya dulu, urusan yang lain, kumaha engke” akan sangat berbahaya ketika menyangkut hal-hal yang beresiko tinggi; karena kemudian tujuan menghalalkan segala cara. Mata hati pun tertutup oleh smoke screen dari motif irasional yang hanya dimiliki oleh segelintir pihak yang memiliki vested interest tertentu.

5 Comments

  1. betul Ya. saat ini gak ada political will utk kearah sana (renewable energy, boats, small planes, energy eff. cars etc.) dan sayangnya tidak akan ada sampai perut kita semua kenyang. negara ini lagi banyak ‘tantangan’ dari masalah dgn alam, masalah politis dan masalah antar manusia.
    emang butuh orang2 (spt eloe) utk vocal ngingetin bhw ada hal lain yg perlu di perhatikan sekarang (bukan besok).

    insight sedikit ke Mr. Habibie, visi dia sbg technologist itu cukup jauh dan mendalam. sayang visi politis dia dan teman2nya kurang mendukung.
    jualan solar panel yuk…

  2. iya mas, jalan tol cengkareng juga mbelesek melulu, mungkin karena dibangun di atas rawa kali ya? herannya saya tuh, kenapa kita nggak lebih fokus untuk ngembangin transport massal seperti kereta api ya? mungkin mas wicak atau yg lain punya insight ttg ini?

    soal kebutuhan energi yg potential memang benar, tapi kan selalu ada limit of growth, kalo kita lihat di grafik2 pertumbuhan, setelah terjadi pertumbuhan yg eksponensial pada titik tertentu akan konstan. untuk energi mungkin limiting factorsnya bisa jadi sumber energinya yg nggak renewables (seperti uranium), atau juga environmental carrying capacity-nya yg nggak sanggup lagi.

    mungkin yg penting adalah benar-benar membuat demand forecast dari energi itu secara benar, jangan agregat seperti sekarang. demand-nya dimana saja, dan kalau itu memang untuk kebutuhan pertumbuhan ekonomi atau pembangunan, strategi pembangunan pemerintah juga kemana –sektor mana yg mau dikembangkan, di wilayah mana, berapa demand-nya, ada energi resource apa disana, dll. jadi lebih desentralised gitu….

    saya juga yakin di berbagai kampus itu kita juga punya banyak ahli renewable energy, ahli ekonomi yg bisa membuat breaktrough atau mengintervensi sistem ekonomi kita sehingga renewables itu bisa lebih terjangkau dan lebih masif. initial investment fossil fuels juga kan sebenernya mahal tapi kok ya bisa jadinya jadi ‘murah’. dengan analogi yg seperti itu kan seharusnya nggak ada yg nggak mungkin untuk renewables saya kira.

    juga menurut saya pemerintah atau industri harus mau invest yg agak besar untuk research and development, kalau memang pengen bener2 punya penguasaan teknologi. masa’ sih kita mau selamanya jadi user?

    saya juga nggak menghujat iptn lho…menurut saya pribadi iptn itu justru musti berkembang, seperti juga PT. PAL yg membuat kapal. pesawat2 kecil perintis sangat dibutuhkan di daerah2 yg masih sulit dijangkau dan dengan kondisi topografi yang sulit, seperti di Papua. demikian juga dengan kapal-kapal, karena memang dari sononya kita negara kepulauan. mungkin memang nggak ada political will ke arah sana?

  3. Kuncinya adalah kebutuhan energi yang eksponensial, mungkin karena jumlah penduduk yg eksponensial juga??

    Solusinya juga musti eksponensial, kalo gak ya gak ngejar kan? Nuklir mungkin solusi eksponensial itu?

  4. lupa mau komentar ttg cipularang. perlu di cari tau juga, yg bikin AMDAL dan GEOTEK report nya itu siapa dan apa yg diakatakan. Tanah Cipularang itu sangat dynamic, always moving, sehingga perlu teknik khusus (baca: mahal) utk membuatnya stabil. Kayaknya para contractor nggak kepikir kalau sebegitu dynamic. Itu bener2 keliatan Kejar Tayangnya.

    at the same time, itu Tol ke Cengkareng makin hari makin mbelesek ya?

  5. pertama kah?

    well, budaya selesai tidak selesai dikumpulkan juga tidak asing bagi mahasiswa di amerika. kalau ujian, seringkali sang pengawas akan berteriak,” ok, put down your pens, and pass forward your work.”
    bbrp komentar: N250 dulu kejar tayang betul, tapi hanya untuk pamer ke presiden dan MPR/DPR. Tentunya sebelum kejar tayang itu sudah ada test flight, penghitungan dgn teori, simulasi habis2an dan malah mungkin sudah ada pre-“maiden flight”. If nothing else, Mr. Habibie juga sangat perduli dgn efek dari maiden flight yg gagal thdp image dia dan IPTN.
    Test pilot IPTN/ PT DI dan test pilot di manapun diseluruh dunia memang siap mati apalagi dgn maiden flight. Wright Brothers dulu pun siap mati dgn Flyer mereka itu. Tak mungkin di hitung dgn jari jumlah test pilot Amerika yg mati didalam pesawat2 baru dan experimental mereka.
    Tentunya setelah Maiden Flight, N250 tetap harus melalui test2 oleh badan regulatory Indonesia maupun International, jadi sebelum di gunakan di Indonesia (or elsewhere) pasti ada sertifikasi dari (minimal) DepHub, FAA, ICAO dll.
    Tapi gak jamin juga buat yg setelah maiden flight itu. 😉
    bukan mbelain PTDI, tapi biar gossip yg anda dengar itu lebih berlandaskan.
    sorry jadi panjang nih, tapi perkara Nuclear Energy, ada beberapa hal yg saya pikir perlu di pikirkan oleh kita semua: fossil fuels sudah akan habis, bio gasses masih “research terus”, solar energy capital costnya luar biasa dgn return yg lambat, wind energy juga begitu, geothermal terbatas oleh lokasi2, sementara kebutuhan energi kita naik terus secara exponential. PLT Air terjun/ bendungan juga akan menjadi issue spt Kedung Ombo. Is there any alternatives left?
    Mungkin ada juga, misalnya pemerintah memberikan incentive besar2an buat perusahaan yg mau melakukan pemasangan Solar Panel di seluruh atap gedungnya. Termasuk juga penghapusan pajak Bea Masuk dan VAT utk solar panel import (kita belum bisa bikin dgn skala besar dan dgn efisiensi yg sama). Tapi tetep aja, Solar energy belum bisa buat ngejalanin mesin2 berat spt yg ada di industry, toko dll. Harganya pun mahal. sangat mahal buat kantong indonesia. Cocoknya masih buat lampu, PC, dll. Pompa aja masih susah karena amper/detik nya gede (surging).
    So in this imperfect world, are we left with any other choice than Nuclear? with all that you said about HR, Complacency, Discipline etc.
    Its not an easy choice. Would you feel better if say Singapore had a nuclear plant? or Malaysia?

    Btw, we do have the technology (on paper). We have a good handful of people who have doctorates in Nuclear Technology at ITB, UGM, etc. Plus all the ‘bule’ that we can hire in the whole world.
    salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s