are we racists?

“At the moment we only allow Europeans to stay in our hotel. We don’t accept Asians.” demikian kata asisten manajer sebuah hotel bintang empat.

“Why NOT?” tanya calon customer, yang kebetulan orang Inggris –European, sambil mengangkat alisnya.

“Because they’re our target market, and not the Asians.” lanjut si asisten manajer dengan nada bangga.

Jangan mengira percakapan itu terjadi di dunia antah-berantah. Percakapan itu terjadi di Bali. Iya, Bali, Indonesia. Ehh-hemm, well…memang kadang-kadang menajer hotel bule seperti itu? Nope. Asisten manajer tersebut asli produk lokal. Kulit coklat, dengan logat ‘binglish’ –Bali’s-English.

Mungkin sang asisten manajer nggak sadar bahwa pernyataannya itu sangat rasis. Dan dia mungkin mengira si calon customer Eropa itu akan ‘bangga’ dengan policy hotel yang mengutamakan tamu Eropa tersebut. Alih-alih bangga, si orang Inggris langsung cabut tanpa menoleh, sambil bersungut-sungut: Bloody hellll!!!! they think all blondes are racists or what???!!! In England, it’s against the law. And they can be in a real real trouble!!!

Tanpa kita sadari, sejak kecil kita tidak dilarang untuk menjadi rasis. Mungkin masih ingat dulu jaman SD kita sering saling mengolok: “Jawa lu!” atau “Dasar batak!” atau “Gileee si encek!!” –sebutan untuk saudara kita yang keturunan Tionghoa. Belum lagi stereotype-stereotype yang masih terus hidup dalam masyarakat dan tertanam dalam mindset kita sampai saat ini.

Tentu aja ini salah. Tapi seingatku nggak ada dalam pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) ataupun dalam Butir-Butir Pancasila, dan bahkan dalam UUD 1945 termaktub larangan untuk menjadi rasis. Memang ada ajaran Bhinneka Tunggal Ika. Tapi apa maknanya?

Kembali ke peristiwa di hotel tadi. Ini mengingatkan pada sejarah gerakan anti-diskriminasi di Amerika Serikat tahun 1950-an, dimana saat itu pejuang anti-diskriminasi menolak pembedaan perlakuan terhadap warga Afro-Americans –pemisahan sekolah, tempat duduk di bioskop, dll dll. Atau sejarah gerakan anti Apartheid di Afrika Selatan.

Ironisnya, di negeri sendiri, pelaku diskriminasi itu adalah ‘orang-orang kita’ sendiri. Yang kulitnya coklat atau sawo kematangan, yang rambutnya hitam, dan sering tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia. Tidak hanya di Bali lho kejadian semacam ini. Ini terjadi dimana-mana di Indonesia. Pernah mengalami tatapan ‘penuh selidik’ dari mbak-mbak atau mas-mas di toko-toko, yang nggak akan terjadi jika yang datang itu orang asing? Well, mungkin saja itu juga berdasarkan ‘kebijakan’ para bosnya yang bule –atau buceri a.k.a bule-cet-sendiri (kalau ada yang berprasangka buruk). Tapi, apa mereka nggak bisa ngomong? Atau protes?

Bahayanya lagi, di Indonesia kecenderungan rasis ini sifatnya laten, alias tersembunyi (di kepala-kepala warganya).  Maka nggak heran ketika itu termanifestasi atau muncul ke permukaan, bentuknya menjadi kericuhan, tawuran, perkelahian, dan pertumpahan darah.

Mungkin kita perlu melakukan gerakan anti-diskriminasi atas perlakuan saudara-saudara kita sendiri (???!!!).  Atau perlu benar-benar ada dialog nasional tentang SARA yang benar-benar serius, dan dicantumkan dalam peraturan??? *hiks..hiks..ngenes*

6 Comments

  1. iya kita racist. orang indonesia paling doyan menyamaratakan semua. coba aja liat istilah yg paling sering terdengar: dasar (insert ethnicity here).

  2. Gue juga pernah kena di sebuah resto di Banda Aceh, resto Itali gtu gue lupa namanya apa. Intinya kalo disitu yang boleh masuk hanya international NGO. Even misalnya temen gue (international NGO) bawa pacarnya yang orang asli Aceh, tetep aja tuh pacarnya susah banget diurusinnya sampe bisa masuk. Gara2 gue janjian ama banyak orang dan ribet kalo kudu batalin/pindah tempat ya sutra lah gue makan disitu.

    Sama juga sama lo Ya, yang punya, yang menolak-nolak tamu, yang supervise, yang melayani, dan yang masak semuanya adalah orang lokal. Trus gue sempet expect makanannya lebih mewah atau pelayanannya lebih oke, ternyata… nggak juga tuuhh…

  3. Wah, jadi inget pengalaman waktu honey moon di bali sktr 4 thn lalu. Waktu itu kami mau beli souvenir, dan biasalah, kita nawar. Eh, yg punya toko malah marah, message yg gw tangkap kurang lebih “dasar turis lokal, kalo gua jual ke bule gw bisa jual 10 kali lipat”.

    Sejak itu gw jadi males dateng ke Bali lagi. And jujur aja, mereka harusnya belajar dari bom yg meledak 2 kali di sana, that in the end wisatawan lokal juga yg bantu mereka bangkit.

  4. Jaman SMA, gw sangat menikmati celaan-celaan rasis model, ” Jawa loe, Batak loe n’ Gombe’ loe” krn sebagai org sunda rasanya celaan Sunda loe! is meaningless, palingan ungkapan “dasar sunda!” yang paling utk ngomentarin kebiasaan org sunda yg gemar makan daun2an.
    Lalu tibalah perang Bosnia, dimana gw sempet baca di koran betapa kebiasaan2 ledek-ledekan ala kroatian, bosnian dan serbian yang dulunya sebelum perang adalah lucu-lucuan model kami-kami di SMA ternyata berubah jadi sesuatu yang menyeramkan…..

    N’ gw sempet mikir, waduh Bandung nih dilingkung gunung, kalo kita perang lawan orang jawa bisa-bisa dikepung sniper model di Sarajevo…..

    Itu tuh tahun 92-an, belum sempet dekade 90-an berakhir, peristiwa menyeramkan model Bosnia sudah terjadi di Indonesia (Ambon, Poso, Sampit)……

  5. Setelah merasakan kuliah di luar kota kelahiran, hidup kost dan belajar mandiri, aktif kegiatan kemahasiswaan, aku jadi baru sadar bahwa SMA ku, salah satu SMA favorit di Jogjakarta adalah SMA dengan pergaulan yang sangaaaaattttt rasis, terutama kepada keturunan Tionghoa.

    Sedih kalo inget itu, tapi seneng juga kalo inget bbrp teman dan sahabat terbaik yg kuperoleh di kuliah adalah keturunan Tionghoa.

    Pas di dalam SMA itu aku gak merasa aneh lho, rasanya “ya memang begitulah” saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s