dilarang keras!! sakit dan celaka

Seminggu yang lalu, orang kantorku kena demam berdarah. Sialnya, dia mulai menderita panas tinggi pada saat weekend dimana nggak ada orang kantor yang bisa diajak rembukan terkait dengan biaya dll. Dia anak perantauan, nggak ada saudara di Jakarta, cuma punya seorang kakak di Bogor (yang entah kenapa enggak dia kasih tau tentang penyakitnya).

Jadi waktu Hari Senin ketahuan, langsung kami larikan dia ke rumah sakit terdekat. Berhubung nggak ada saudara, jadilah aku sebagai ‘penanggung jawab’ segala sesuatu yang berkaitan dengan perawatannya. Masuk UGD, dia segera direkomendasikan untuk dirawatinapkan. Ini pengalaman pertamaku mengurus tetek-bengek perawatinapan di rumah sakit.

Tepat di depan meja administrasi, tertera daftar kelas-kelas kamar. Cuma ada kelas III yang enggak penuh dan kira-kira sesuai dengan budget. So, aku contreng lah di formulir pendafataran itu jenis kamar yang diinginkan. Lalu mbak-mbak di counter bilang,

“Silakan bayar uang mukanya ya, di loket bank di depan.”

“Berapa?” tanyaku.

“Empat juta rupiah” katanya lagi.

“Wah, saya nggak ada sebanyak itu. Bisa delapan ratus ribu dulu?” (uang di kantongku cuma 1,2 juta perak, dimana 400-ribunya harus dibayarkan ke UGD).

“Bisa. Sisanya dibayar lunas dalam jangka waktu 1×24 jam ya.” lanjut mbak-mbak tadi.

“Wah, bisa ada dispensasi?” tanyaku. Gelengan kepala yang kudapat.

“Bagaimana kalau uang muka itu nggak bisa dilunasi besok?” tanyaku lagi.

“Lihat aja mbak, di buku panduan ini. Sudah seperti itu aturannya, nggak bisa diubah.” katanya dengan raut wajah yang lempeng.

Sudah sering aku mendengar pengalaman orang-orang sakit dan keluarganya yang akhirnya terlantar atau terlambat mendapat pengobatan karena hal-hal seperti ini. Tapi, mengalaminya sendiri membuat aku benar-benar ternganga dan nggak bisa berkata-kata. Kudengar orang di sebelahku berusaha melobby, “Bener deh, kakak kami akan datang besok untuk melunasi.” Si mbak-mbak itu nggak berkomentar dan cuma menggeleng-geleng.

Aku nggak menyalahkan mbak-mbak frontliners itu. Memang begitulah adanya sistem kerumahsakitan. Mau dibilang apa? No money, no treatment.

Dan beberapa hari yang lalu kejadian serupa menghampiri seorang temanku yang lain. Dia ditabrak Kopaja di jalur busway. Parah. Kaki, tangan patah. Perut dan wajah bengkak. Gigi hancur. Tahu apa yang terjadi? Tiga jam dia dibiarkan begitu aja tanpa treatment. Alasannya karena dia nggak ada KTP. Kebetulan temanku ini sering dicopet, jadi dia malas bawa dompet yang berisi surat-surat pentingnya itu. Tiga jam!!! Pihak rumah sakit berpikir, siapa ni orang, dan kalau diberi perawatan, siapa yang harus menanggung biayanya.

Untungnya [*sambil menghela nafas panjang*], ketika akhirnya temanku sadar, dia masih bisa menjawab ketika ditanya perawat nomor yang bisa dihubungi. Mau nangis dan marah rasanya mendengar cerita seperti itu. Bayangkan, gimana kalau dia nggak sadar, atau dia kena amnesia, atau memang benar-benar nggak ingat apa-apa karena kesakitan???!!!

Aku jadi bertanya-tanya, apa sih sebenarnya fungsi rumah sakit? Kayaknya musti ada pendefinisian ulang arti rumah sakit, bukan sebagai tempat menyembuhkan orang sakit, tapi tempat MEMBUAT orang (tambah) sakit.

1 Comment

  1. Miris ya.. Gue juga sebel banget tuh denger si Imas dicuekin..
    Udah dijalan para pejalan kaki paling ketiban sial (didempet motor, bus, mobil, pedagang kaki lima, galian jalan, dsb), eh disaat kenapa-napa juga pejalan kaki harus terima nasib dicuekin..
    Makanya gue suka nonton ER.. sambil ngarep disini bisa kaya begitu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s