merdeka atau ….. (apa?)

Kalo gue ditanya apa makna kemerdekaan, pasti gue enggak akan bisa langsung menjawab, dan memerlukan proses berpikir lebih dahulu. Kemerdekaan bagi gue adalah suatu kondisi yang given, thanks to our founding fathers. Terkadang, karena nggak melakukan upaya apa pun untuk meraih kemerdekaan yang sekarang kita nikmati ini, nggak ada penghayatan atau apapun namanya tentang makna sesungguhnya dari kemerdekaan itu.

Setiap bulan Agustus menjelang, selalu kita disuguhkan berbagai berita atau features yang terkait dengan perjuangan merebut kemerdekaan, baik dengan perlawanan frontal maupun dengan jalur diplomasi. Setiap melihat foto atau gambar hitam putih para founding fathers kita itu, sering gue membayangkan betapa excitingnya hidup di jaman itu. Can you imagine living in the period when the history in the making? Mbayanginnya aja udah bisa bikin jantung gue berdegup lebih kencang. I wish I was there. Melihat gambar-gambar mereka yang muda, intelligent, progresif dan berani sering membuat gue iri. Bayangkan being in my age (or even younger) and make history. Gimana rasanya ya mbikin jalan sejarah menjadi mengkol kesana atau kesini akibat apa yang kita lakukan?

Seperti yang gue bilang sebelumnya, kondisi kemerdekaan yang given ini kemudian membuat kata-kata ‘merdeka’ atau ‘dirgahayu’ atau apapun lah hanya menjadi sekedar slogan. Arti ‘dirgahayu’ pun baru gue tau setelah teman gue yang orang India bertanya ke gue, “You know what ‘dirgahayu’ means?” Baru deh gue sadar, iya ya…apa sih artinya dirgahayu? Sejak SD kita cuma dicekoki dengan slogan-slogan yang meaningless. Gue pikir tadinya ‘dirgahayu’ itu artinya semacam ‘congratulation’ atau ‘selamat’. Ternyata menurut my Indian friend, ‘dirgahayu’ artinya ‘long live’.

Comfort zone yang kita rasakan ini juga kemudian membuat kita menjadi less critical terhadap kondisi di sekitar kita. Apa iya sih kita sudah merdeka dalam arti yang sesungguhnya?

Beberapa hari yang lalu, di kereta api ekonomi yang gue tumpangi, seorang perempuan tiba-tiba menjerit histeris karena kalung emasnya dijambret oleh orang tak dikenal yang melompat keluar begitu kereta api mulai bergerak meninggalkan stasiun. Dan tau nggak apa komentar orang-orang lainnya? Alih-alih merasa prihatin dan simpati, semuanya menyalahkan si perempuan itu. “Udah tau naik kereta, masih makai perhiasan.” “Makanya jangan suka mengundang masalah.” “Berdirinya di dekat pintu sih..” Dan lain-lain. Dan lain-lain. Amazing huh? Korban kemudian menjadi pihak yang bersalah. Nggak ada tuh terbersit bahwa itu sepenuhnya hak si perempuan mau pakai apapun kemanapun dia pergi. Kemerdekaan dia lah mau memakai kalungnya kapanpun dia mau. Dan bahwa yang salah itu si penjambret, bukan si perempuan itu. Does it make you go ‘what??!!!’ realizing the way society think. Dan itu bukan lagi pikiran individu. Itu udah pemikiran kolektif masyarakat.

Perjuangan kemerdekaan di masa sekarang ini mungkin tidak lagi berupa perjuangan frontal melawan musuh yang akan menjajah. Seperti Bung Karno pernah bilang, penjajahan model baru adalah penjajahan dalam bentuk eksploitasi manusia oleh manusia lainnya — l’exploitation de l’homme par l’homme. Sehingga perjuangan kemerdekaan pada saat ini adalah perjuangan bagaimana membebaskan diri kita dari berbagai proses eksploitasi tersebut, yang kita sadari atau tidak, sebenarnya telah merasuk sampai ke relung-relung otak dan kehidupan kita. Penjajahan di masa modern ini tidak lagi dalam bentuknya yang telanjang, yang menggunakan senjata (walaupun di berbagai belahan bumi bentuk penjajahan semacam ini masih terjadi), tapi lebih ke sesuatu yang tak berbentuk, yang disadari atau tidak telah menciptakan berbagai belenggu dalam diri kita –belenggu ketakutan, belenggu cara berpikir, berbuat, dan lain-lain.

Kalau dulu penjajahan bersenjata membuat banyak tubuh berjatuhan tak bernyawa, penjajahan jaman sekarang telah menciptakan jutaan raga hidup, namun tak berjiwa.

1 Comment

  1. Hi Ya, nice reflection. Sometimes I wonder some of the same things…but most of the time i dont.

    Just FYI a friend has looked up the word “dirgahayu” in an Indonesian context and it has a slightly different meaning than in its Sanskrit roots. Take a look at this: http://yulian.firdaus.or.id/2004/08/16/dirgahayu/

    salam.
    btw, i too envy the pejoeangs, my granpa was one, my uncles and aunts too. my parents were too young to be pejoeang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s