ganyang malaysia(????)

Harusnya tujuanku begadang malam ini adalah menyelesaikan berbagai deadline dan laporan-laporan yang harus aku serahkan sampai akhir minggu ini. Tapi apa mau dikata, berita-berita soal pemukulan wasit Indonesia di Malaysia lebih merangsang sel-sel kelabu di kepalaku untuk bereaksi ketimbang segala report yang harus aku hasilkan.

So, back to laptop –soal Malaysia. Ada pepatah yang menyatakan, hargailah dirimu sebelum minta orang lain menghargaimu (or something like that lah pokoknya). Bagiku berita pemukulan wasit Indonesia (serta berbagai cerita menyedihkan yang harus dialami oleh para TKW, TKI yang menjadi buruh bangunan, pabrik serta perkebunan di Malaysia) sesungguhnya merupakan suatu cermin yang menampilkan wajah buruk kita, yang tidak boleh dibelah. An inconvenient truth bagi bangsa Indonesia yang harusnya bisa jadi bahan refleksi bagaimana sebenarnya situasi brother/sister-hoods kita-kita sesama ‘Indon’ ini.

Bagaimana kita berharap bangsa lain akan menghargai saudara-saudara kita yang bekerja disana kalau kita sendiri pun tidak pernah menghargai saudara-saudara kita tersebut –memandang rendah mereka (secara sadar atau tidak), dan (yang lebih bikin mual) menghisap mereka habis-habisan.

Aku jadi ingat beberapa tahun lalu ketika aku baru pulang dari luar negeri dan kebetulan satu pesawat dengan TKW yang baru pulang dari Timur Tengah. Aku ingat sempat marah-marah ke petugas imigrasi bandara (yang menyebalkannya lagi adalah perempuan) yang ‘menggelandang’ para TKW tersebut dengan cara-cara yang kurang ajar –seperti menggelandang ternak, sambil membentak-bentak. Sudah kurang ajar, menghisap pula! Sungguh memuakkan dan rasanya ingin kulayangkan tinjuku ke mukanya yang bergincu norak itu. HUH!

Coba kita refleksi, dari berbagai kasus kekerasan yang dialami oleh para TKI dan TKW di luar negeri –mulai dari pemukulan, perkosaan, sampai pembunuhan, berapa persen kita dengar pemerintah kita melakukan protes keras atau sejenisnya kepada pemerintah negara-negara tempat para TKI/TKW tersebut? Atau menjdaikannya sebagai isu serius yang mengancam hubungan diplomatik kedua negara, misalnya?

Pemerintah kita pada dasarnya sama saja dengan para majikan di tempat mereka bekerja. Sama-sama penghisap. Kalau para majikan itu menghisap tenaga saudara kita dengan upah murah, pemerintah kita menghisap devisa dari ‘keringat murah’ para TKI/TKW. Jangan lupa, duit yang dibawa oleh mereka merupakan salah satu sumber devisa non-migas terbesar dari negara yang namanya Indonesia ini. Kata anak sekarang, “mau duitnya doang”.

Jadi, nggak usah heran lah kalau kemudian para majikan itu berlaku kurang ajar tenan, yang kemudian meluas ke Indon-Indon lain yang melancong ke negeri jiran itu, seperti cerita seorang kaya yang kebetulan mengalami harrassment dari polis Melayu disana (yang beredar di miilis-milis). Dari nuansanya mereka seperti ingin bilang, “…sori ya, gue tuh bukan TKI ilegal! Gue ni orang berduit. Kesini mau liburan, naik pesawat kelas bisnis. Enak aja mereka main harrass kayak begitu…” So what does it mean? TKI ilegal boleh-boleh aja diharrassed?

Jangan salah tanggap, aku juga nggak suka saudara-saudaraku diharrassed begitu –mau TKI kek, wasit kek, wisatawan kek. Emangnya siapa orang Malaysia? Sama-sama manusia aja kok belagu.

Tapi, sebelum memutuskan untuk “Ganyang Malaysia”, bagusnya kita “Ganyang Diri” dulu. Perbaiki sikap mental, mindset, cara pandang, dan perilaku kita terhadap sesama saudara kita si Indon-Indon ini. Mungkin suatu saat, sometimes in the future, bangsa lain akan berpikir sejuta kali dulu sebelum melakukan harrassment terhadap orang Indonesia.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s